Rabu, 10 September 2014

Mahkota Kedua

“Ah... Amboi cantiknya,” seruku. Terpana.
“Astaghfirullah....
Gadis itu memekik. Karena, kerudung yang dipakainya robek. Memperlihatkan rambut hitam mengkilat tergerai panjang. Dia berusaha menutup rambut itu. Tetapi tidak bisa. Akhirnya, dia terguguk. Menangis.
Pandanganku tetap tidak beralih dari menatap kecantikan rambut gadis itu. Sesaat dia menengadah. Membuat mata kami saling beradu pandang. Kemudian dia mengalah. Tertunduk dan berdiri. Membawa kemuraman wajah dan kesenduan matanya. Kemudian dia berlari begitu kencang. Membawa deraian rintikan salju di mata. Berjatuhan ke tanah. Sepanjang lintasan lari yang dilalui.
Aku tidak mampu mencegah. Masih terpana.  Hanya temannya saja yang mampu mencegah.
“Tunggu Dila!” Temannya berseru. Lalu menyusul Dila yang sudah berlari jauh.
* * * * *

Rasa-rasa aku pernah melihat dia. Di mana ya? Di tempat mana ya? Pikiranku terus berkejaran dengan waktu.
Ah, lenguhku kesal.
Menyisakan asap kesal menembus tirai angin kamarku. Karena,  aku tidak mampu mengingat kejadian itu. Kejadian di mana aku pernah berjumpa dengan dia.
Kemudian jiwaku terdorong untuk membuka album persahabatan. Mudah-mudahan saja dia ada di sana. Aku mulai membuka lembaran demi lembaran album persahabatan. Aku teliti sedetail mungkin setiap wajah yang terpampang di situ. Wajah dia tidak aku temukan. Mirip dengan dia juga tidak aku temukan.
Sialan, makiku pada diri sendiri. Karena,  pencarianku dalam album persahabatan sia-sia.
Untuk menghilangkan bosan yang menjamah rasa. Aku alihkan aktivitasku pada kegiatan membaca. Aku rengkuh sebuah buku Kahlil Gibran dalam rak buku. Yang berjudul RENUNGAN SPIRITUAL. Aku mulai membaca. Sedikit demi sedikit. Perlahan demi perlahan. Aku mulai belajar memahami kedalaman isi buku itu yang berisi renungan-renungan pembangkit semangat. Cocok sekali dengan suasana hatiku saat ini. Memerlukan sebuah dorongan untuk menghilangkan kekesalan.
Pada halaman seratus dua puluh. Aku agak lama membaca. Karena, dalam halaman itu ada sebuah kalimat yang sungguh menarik hati. Aku meresapi kalimat itu dalam-dalam. Bahkan pembacaanku pada kalimat itu kuulang-ulang sampai berkali-kali agar aku mengerti makna kalimat itu. Menafikan kalimat itu dengan sosok gadis yang ingin  aku kenal. Belum lama ini. Sungguh unik pertemuan itu.
Bunyi kalimat itu adalah wanita muda itu bagaikan mata air yang menyembur dari inti bumi dan mengalir melalui lembah yang berkelok
* * * * *

Hari berganti hari. Membuat aku semakin tersiksa. Sebab wajah mendung dan tangisan dia yang aku jumpai secara tidak langsung itu selalu menganduli pikiranku. Apalagi saat itu aku lihat sorotan mata dia membiaskan kekecewaan. Yang menyatakan aku telah bersalah pada dia. Aku sebenarnya mau saja minta maaf pada dia. Sekaligus ingin mengenal dia. Tetapi di mana aku harus menemukan dia? Menjumpai dia? Yang dapat  aku ingat. Dia mempunyai nama Dila. Itu pun aku ketahui ketika temannya memanggil dia saat dia berlari membawa kekecewaan hati. Paradilakah? Dila Karinakah? Dila Maharanikah? Atau Dila yang lain. Sebab dalam kota yang begini luas. Banyak yang mempunyai nama Dila. Bagaimana ya?
Aku mulai memahami suatu hal. Memahami sebuah petuah yang selalu  aku jalankan. Petuah itu adalah kalau ingin jalan kehidupanmu berjalan mulus dan lancar berusahalah jangan menyakiti wanita dan hargailah mereka.
Padahal aku sudah menyakiti dia yang merupakan seorang wanita. Walau itu aku lakukan secara tidak sengaja. Kalau begitu, bagaimanapun caranya aku harus menemukan dan meminta maaf atas kesalahanku pada dia. Bagaimana caranya?
Setelah mengalami beberapa kali pemikiran. Aku menemukan juga sebuah metode. Segera saja  aku laksanakan metode itu. Aku datangi sebuah radio terkenal di kota ini. Radio Kenari. Aku utarakan maksud hati ini.  Aku minta kepada penyiar untuk menyiarkan sebuah berita.  
Dicari seorang wanita berkerudung oren bernama Dila yang memiliki kebeningan mata yang mempesona. Dila pernah mengalami kejadian yang membuat dia sedih di Pantai Harapan. Ditunggu orang yang ingin sekali minta maaf pada Dila. Dimohon sangat kehadiran Dila.
Di Pantai Harapan. Aku mulai menunggu Dila. Berhari-hari bahkan berminggu-minggu. Juga sampai berbulan-bulan. Tetapi Dila tidak menunjukkan wajahnya. Apakah Dila marah dengan kejalangan mataku yang menatap wajahnya? Apakah Dila kecewa berat dengan sikapku yang memandang mahkotanya yang bukan milikku?
Yaa Allah, berikan aku petunjuk-Mu. Temukan aku dengan Dila sebelum nyawa merenggutku. Jangan biarkan aku meninggalkan dunia ini dengan membawa sepercik kesalahan pada Dila. Aku takut di akhirat nanti. Aku dijegal untuk memasuki surga kenikmatan-Mu yang hakiki. Padahal aku hanya membekal sedikit kesalahan pada Dila. Yaa Allah, kabulkan keluhan hatiku.
* * * * *

Mengapa aku jadi begini? Diliputi rasa sesak yang tiada ada muara? Mengapa aku dihempaskan  pada hal kalut begini? Apakah aku salah menegakkan prinsipku? Tidak sakit hatikah Rohim bila aku memutuskan perhubungan ini? Tidak dendamkah Rohim bila aku memPHK dia? Aduh.... Mengapa jiwaku menjadi serba salah begini? Bukankah kebenaran di atas segala-galanya? Benarkah prinsipku ini? Tetapi....? Aku tidak boleh larut dalam kebimbangan ini. Aku harus mengambil keputusan.
“Rohim, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu,” kata Dila.
“Bicarakan saja di sini. Apa yang ingin kau bicarakan. Penting ya?” jawab Rohim.
“Penting sekali Rohim. Ini mengenai pertunangan kita.”
“Mengapa dengan pertunangan kita? Apakah aku telah berbuat salah padamu? Apakah aku telah menyakiti hatimu? Apakah aku...”
“Sudahlah, Rohim. Kau tidak salah apa-apa. Kau tidak pernah menyakiti hatiku. Kau selalu baik padaku. Saat ini aku yang salah. Terlalu teledor dan tidak bisa menjaga pertunangan kita. Maafkan aku, Rohim. Aku katakan ini agar kau tahu. Rohim, pertunangan kita tidak bisa diteruskan lagi. Karena, aku tidak pantas lagi untukmu.”
“Apa?” Rohim kaget mendengar kata Dila.
“Kau memutuskan pertunangan kita? Mengatakan kau tidak pantas buatku? Apa masalahnya?”
Masalahnya tidak bisa aku katakan. Sangat memalukan. Rohim, biarlah masalah ini aku yang menanggungnya. Aku tidak ingin melibatkanmu dalam masalah ini. Rohim, maafkanlah aku. Ini cincin pertunanganmu aku kembalikan.”
Dila menyerahkan cincin pertunangan yang selalu melingkari jari manisnya kepada Rohim.
Tidak bisa begitu, Dila. Kau memutuskan pertunangan ini hanya sepihak saja. Aku tidak terima. Apalagi kau memutuskan pertunangan ini tanpa sebab yang jelas.”
“Rohim, kau mengertilah. Kau mengertilah posisiku yang terjepit ini.”
Aku telah lama mengertimu, Dila. Dengan selalu berusaha menjaga pertunangan kita dengan baik. Selama pertunangan, kita tidak pernah ada masalah. Tetapi, hari ini kelakuanmu sungguh aneh aku rasakan. Kau memutuskan pertunangan kita tanpa sebab yang jelas. Apa aku tidak merasa sok. Aku berharap bahwa kita bisa menjadi pasangan serasi. Tetapi, ternyata harapanku tidak bisa direalisasikan. Karena, kau telah memutuskan pertunangan ini. Tidak salah, kalau aku ingin mengetahui sebabmu memutuskan pertunangan ini secara sepihak agar aku bisa berlega jiwa dan berusaha menenangkan perasaan. Bahwa kau bukan jodoh yang dikirim Allah untukku. Aku mohon padamu. Katakanlah alasanmu itu, Dila.” Rohim betul-betul meminta.
Dila membatalkan langkah sejenak. Dia menatap Rohim. Dia melihat kelukaan dari mata bening itu. Tetapi apalah daya dan kekuatan dia. Dia tidak bisa mengobati kelukaan itu. Dia tidak tega melihat Rohim tambah terluka. Dila mengalah. Dengan berat hati dia utarakan sebab dia memutuskan pertunangan itu. Mahkotanya sudah dilihat dan dinikmati orang. Rohim sangat terkejut. Antara percaya dan tidak percaya. Berkecamuk dalam dada. Dia ingin meminta kejelasan lebih lanjut lagi dari Dila. Tetapi Dila telah meninggalkan Rohim dalam kebingungan. Pemikiran Rohim berbicara. 
Masak Dila yang taat agama bisa terjebak dalam kemaksiatan. Tidak mungkin. Tetapi...? Bisa saja. Bisa saja Dila dijebak orang yang telah melihat dan menikmati mahkotanya. Kalau memang begitu. Siapa yang telah berani menjebak Dila? Tetapi...? Kalau Dila tidak dijebak. Apakah dilakukan atas suka sama suka. Ini lebih tidak mungkin lagi. Ah, pemikiranku sudah terlalu jauh. Maafkan pemikiranku ini. Sebaiknya aku mencari tahu kebenaran itu.  
Mengenai Dila yang telah memutuskan pertunangan dengan Rohim. Membuat orang tua Dila tidak dapat menerima. Karena, keputusan yang diambil Dila hanya sepihak. Apalagi pemutusan pertunangan itu hanya disebabkan seseorang telah melihat dan menikmati mahkota kedua dari Dila. Bagi orang tua Dila, itu adalah masalah sepele. Orang tua Dila segera mengingatkan anaknya agar mengkaji ulang keputusan yang telah diambil. Tetapi Dila tetap dengan keputusannya. Karena, dia selalu memegang keteguhan yang diyakininya adalah sebuah kebenaran. Apalagi diperkuat dengan dalil keimanan yang kuat. Orang tua Dila merengut sedih. Tidak bisa membujuk anaknya agar dapat membatalkan keputusan yang telah diambil.
Rohim tidak lelah-lelah berusaha mencari tahu kebenaran tentang mahkota Dila yang sudah dilihat dan dinikmati orang lain. Sampai dua minggu pencarian. Dia belum menemukan hasil. Masih terbentur pada hal samar-samar. Tetapi ada sedikit hal melegakan Rohim. Dia mendapatkan informasi dari seseorang bahwa Dila akan bertemu dengan orang yang melihat dan menikmati mahkotanya di Pantai Harapan, Mempawah. Dila minta pertanggungjawaban dari orang tersebut atas kelancangan yang telah melihat dan menikmati mahkotanya.
“Aku harus ke sana,” lirih hati Rohim. “Aku mau tahu tampang orang yang telah melihat dan menikmati mahkota Dila. Selain itu, orang seperti itu harus diberi pelajaran berarti agar dia tidak lancang melihat dan menikmati mahkota orang lain yang bukan muhrimnya.”
Tanpa sepengetahuan Dila. Rohim mengikuti Dila yang ingin menemui seseorang yang telah melihat dan menikmati mahkota kedua Dila. Dila ingin meminta pertanggungjawaban kepada orang tersebut. Gara-gara mahkota kedua dia sudah dilihat dan dinikmati orang tersebut dia harus rela melepaskan pertunangannya dengan Rohim. Dila menganggap bahwa dia sudah tidak pantas dimiliki Rohim. Karena, dia sudah tidak suci lagi dalam mempertahankan sesuatu berharga. Mahkota kedua. Yang tidak sembarangan dilihat dan dinikmati orang lain. Sebelum jalinan pernikahan mengesahkan.
* * * * *

Dari jauh Dila sudah melihat orang tersebut. Duduk menatap deburan ombak menuju daratan. Orang tersebut duduk menunggu dengan sabar. Tempat di mana mahkota kedua dia dilihat dan dinikmati orang tersebut. Dila segera bergegas menuju ke sana. Dila ingin cepat menuntaskan permasalahan. Dila berpikir. Orang tersebut pasti sudah lama menunggu.
“Kasihan dia. Hanya untuk meminta maaf kesalahan yang diperbuat. Dia harus menungguku sekian lama. Dua puluh tujuh hari tanpa pernah dia mengeluh. Sebenarnya dalam hatiku terbetik menemui dia. Sebelum mencapai dua puluh tujuh hari penantian. Tetapi keinginan itu tidak pernah tersampaikan. Di hari dua puluh tujuh penantian, baru aku dapat menemui dia. Mungkin saja liku perjalanan kehidupan yang kulalui ini sudah diatur oleh Allah. Hari ini aku harus tuntas menyelesaikan persoalan mahkota keduaku yang sudah dilihat dan dinikmati dia. Aku musti meminta pertanggungjawaban dari dia. Sehingga persoalan ini selesai. Aku tidak ingin selalu larut dalam persoalan ini. Karena aku juga sudah banyak berkorban demi akidah yang kujaga.”
Dila semakin mendekat. Setelah jarak antara dia dengan orang tersebut hanya seperjangkauan tangan. Dila mengucapkan salam.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.”
Orang itu kaget. Orang itu segera menoleh ke asal suara. Orang itu mulai tersenyum. Penantian orang itu membuahkan hasil. Gadis yang ingin dijumpai sudah menampakkan diri. Padahal cukup lama orang itu menantikan pertemuan seperti ini. Pertemuan untuk melepaskan dia dari kegelisahan hidup. Karena, dia selalu dihantui rasa bersalah. Membuat kehidupan yang dijalani dia menjadi tidak tenang. Sebelum dia meminta maaf atas kesalahan tempo hari. Telah lancang membuat gadis tersebut menangis membawa kekecewaan hati. Dia pun mulai menjawab salam tersebut.
“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih Saudari sudah sudi menemuiku. Silakan duduk.”
“Terima kasih,” ucap Dila.
Dila duduk di sebuah batu yang panjang-memanjang. Seperti deretan bangku panjang. Dila memandang orang di depan dengan saksama. Begitu juga orang itu. Mereka saling pandang-memandang. Belum ada sepatah kata terlontar dari mulut mereka. Kemudian mereka saling menundukkan kepala. Merenungi tatapan yang barusan mereka lakukan. Di dalam hati mulai menganalisis. Mulai menelisik kemaafan. Sebentar lagi akan tersampaikan. Akhirnya, orang itu memulai untuk berkenalan. Dila menerima dengan senyuman. Menambah kenyamanan mereka untuk membicarakan persoalan ketidakenakan di antara mereka.
Orang itu memiliki  nama Rahman Nurahman. Nama yang bagus sekali. Begitu sebaliknya dengan Rahman Nurahman. Dia juga mulai mengetahui bahwa gadis yang akan diminta maaf adalah Dila Maharani. Setelah mereka mulai merasa nyaman dengan perkenalan itu. Rahman segera membicarakan persoalan yang sebenarnya.
“Dila, waktu itu walau tidak sengaja. Aku telah lancang melihat dan menikmati kecantikan rambutmu. Sehingga membuat kau menangis. Membawa kekesalanmu atas perlakuanku. Dengan melihat kekesalanmu membuat jiwaku tersiksa. Aku terus dihantui perasaan bersalah. Aku berusaha untuk dapat berjumpa denganmu. Meminta maaf atas kesalahanku. Biar jalan kehidupanku berjalan lancar. Alhamdulillah di hari dua puluh tujuh penantianku. Kau dapat hadir menemuiku. Sekarang setulus hatiku. Aku ingin meminta maaf padamu atas kesalahanku tempo hari. Apapun akan kulakukan demi menebus kesalahanku,” kata Rahman mantap.
Dila diam saja. Dia belum memberikan keputusan. Membuat Rahman semakin tidak mengerti.
“Dila, apakah kau mau memaafkan kesalahanku?” ulang Rahman.
Dila tetap diam. Kemudian beberapa menit terdiam. Dia mulai angkat bicara.
“Maaf ya Rahman, aku tidak bisa memberikan maaf padamu. Karena, kesalahanmu sudah kuanggap besar. Walau itu kau lakukan tidak sengaja.”
“Apa? Kau tidak mau memaafkan kesalahanku?” Rahman terkejut.
Dia tidak menyangka akan mendapat jawaban seperti itu. Padahal tadi dia sudah berkenang bahwa Dila akan mengucapkan. “Aku akan memaafkan kesalahanmu. Sebagai manusia sudah sepatut tempatnya salah. Sesama manusia, kita harus saling memaafkan.”
“Kesalahanku terlalu besar? Aneh? Padahal aku hanya melihat keindahan rambut saja. Mengapa dikatakan kesalahan besar? Memang rambut sangat berharga bagimu. Walau aku tahu itu merupakan aurat dari seorang wanita. Tetapi....? Mengapa tidak bisa dimaafkan? Apakah aku harus berbuat sesuatu agar kau dapat memaafkan kesalahanku? Aku mohon tolong maafkan kesalahanku,” pinta Rahman dengan memelas.
“Ya. Benar katamu. Rambut adalah salah satu mahkota bagi gadis. Mahkota kedua bagiku. Menurutmu penilaianmu, masalah dengan melihat dan menikmati rambut seorang wanita adalah hal kecil. Tetapi bagiku itu adalah masalah yang besar. Kau tahu. Hanya karena mahkota keduaku telah dilihat dan dinikmati olehmu. Aku sampai memutuskan pertunangan. Aku berkorban demi prinsip yang kujaga dengan baik. Aku bisa.... Aku bisa memaafkan kesalahanmu itu dengan satu persyaratan yang harus kaupenuhi. Tidak boleh tidak. Harus kau setujui. Karena Ini sudah menyangkut ke arah sebuah pertanggungjawaban dari sebuah kesalahan. Kalau kau tidak mampu memenuhi maka selamanya aku tidak akan memaafkan kesalahanmu,” jelas Dila.
Rahman melongo mendengar penjelasan. Matanya berkedip-kedip dengan pandangan tertunduk ke bawah. Itu dilakukan dia, karena dia tidak boleh melakukan kesalahan lagi. Menikmati kecantikan orang lain yang bukan muhrimnya. Dengan cara menjauhi pandangan mata yang menyilaukan.
“Katakan apa persyaratanmu? Aku akan berusaha memenuhi. Karena, aku tidak ingin hidup dalam kesalahan terus,” ujar Rahman.  
Dila menghirup udara segar. Sebelum dia mengatakan persyaratan tersebut. Kemudian dengan pelan dan tegas dia berkata,“Kau harus menikahiku!”
Rahman terkejut mendengar persyaratan itu. Lutut goyah. Bibir kelu untuk berkata.  Badan melemas. Pikiran berkenang, “Sungguh berat persyaratan yang harus kuterima dari sebuah kesalahan ini.”

Bumi Lelabi Putih, 31 Agustus 2014

* * * * * * *

Minggu, 03 Juni 2012

Kembang Surgawi Hiasan Cinta


Kupetik setangkai kembang surgawi
Di kelopak rembulan biru
Kala purnama berikan kedamaian
Untuk hiasan cintaku pada kasihku, pelangi
Agar menyatu dalam paduan warna-warninya
Selalu menampilkan keindahan hakiki


Negeri Betuah (Teluk Melano), 1 Juni 2012

Rabu, 16 Mei 2012

Ningrum



     Rasa mulas melilit-lilit. Kening berkerut. Mulut mengucapkan kata Allah untuk menahan rasa sakit.
Subhanallah!” jeritnya pelan.
Tubuh tertekuk. Kaki juga. Tangan menekan perut kuat-kuat agar rasa sakitnya berkurang. Dia tak ingin teman satu kamarnya tahu bahwa dia sakit. Dia tak ingin merepotkan temannya.
Dia katakan pada Dwi bahwa dia tidak bisa mengikuti diskusi hari ini, karena dia kurang enak badan. Insya alllah, kalau sakitnya berkurang, dia akan menyusul temannya di ruang diskusi. Dwi mengangguk.
“Benar, kamu bisa mengatasi sakitnya? Atau saya panggilkan Panitia P3K-nya untuk menolongmu,” kata Dwi sebelum beranjak ke ruang diskusi.
“Tidak usahlah Dwi. Sakitnya tidak terlalu parah. Oya sudah, kamu jangan khawatir. Nanti dalam waktu tidak begitu lama, saya akan menyusulmu.”
 Okelah, teman. Saya duluan. Saya tunggu di ruang diskusi.”
Beres teman.”
Dwi menghilang di balik pintu.
Ditinggal Dwi. Dia sibuk menekan perutnya agar rasa sakit berkurang. Rintihan sakit diperhalus, biar tak terdengar orang. Dia berusaha belajar bertahan dari deraan penyakit perut. Dia tidak ingin merepotkan orang lain. Dia tidak ingin menjadi orang cengeng. Selalu minta bantuan orang lain sedangkan dia sendiri masih bisa melakukannya.
Tanpa disadarinya muncul dua orang wanita memasuki kamarnya. Dia kaget. Karena, dia tidak pernah mengundang dua orang wanita itu. Siapa lagi yang menyuruh dia ke sini? Mungkinkah Dwi yang menyuruhnya?
Dua wanita itu semakin mendekat.
Mas, ini diminum obat sakit perutnya?” kata salah satu wanita berbaju hijau. Wanita itu menyodorkan sebutir obat dan segelas air minum.
Maaf Mbak, saya tidak sakit perut.”
Tapi, kata temanmu. Kamu sakit perut. Jangan begitu Mas. Nanti sakit perut Mas tambah parah.”
Benar Mbak. Saya tak sakit perut. Sungguh. Saya hanya kurang enak badan saja. Sebentar lagi pasti sembuh. Mbak, tak usah khawatir. Saya bisa mengatasinya.”
Wanita itu terus memaksa. Tapi, dia terus bertahan dan meyakinkan wanita itu bahwa dia tidak sakit perut. Wanita berbaju hijau tak kalah akal. Dia memanggil sebuah nama.
Ningrum, ke sini. Tolong bantu kami.”
Dalam hatinya berkata-kata. Siapa Ningrum yang dipanggil wanita berbaju hijau itu? Belum sempat pengembaraan khayalannya mencapai puncak. Sesosok wajah menyembul di balik pintu.
Ah, bibirnya bergetar. Perasaannya mengejang. Mengapa perasaan aneh ini datang tiba-tiba padanya? Mengapa dia begitu grogi menghadapinya? Padahal gadis itu hanya orang lain. Mengapa perasaan tidak enak menjalarinya? Mengapa? Dia hanya diam ketika Ningrum hadir di depannya.
Untung kamu cepat datang, Ningrum. Coba kamu atasi pasien yang tidak mau minum obat sakit perut ini. Kami sudah berusaha menyuruh dia minum obat. Tapi, dia tidak mau. Mungkin saja denganmu, dia mau,” kata wanita berbaju hijau.
”Beres teman. Saya akan mencobanya. Mudah-mudahan saja dia mau,” jawab Ningrum.
Selesai ucapannya. Ningrum bergerak mendekat ke arahnya. Membuat debaran jantungnya semakin menjadi-jadi dan tak biasanya. Begitu besar geloranya menghempas tepian pantai hatinya. Dia berusaha semaksimal mungkin menenangkannya, tetapi tidak bisa. Debaran jantungnya terus mengencang. Beberapa kali dia mengeluarkan asap halus dari mulut untuk menenangkan gejolak perasaannya yang membara. Dalam hati kecilnya berkata. Dia tidak boleh begini. Gadis itu bukan kekasihnya. Gadis itu adalah gadis seberang lautan. Dia tidak  boleh jatuh cinta lagi pada pandangan pertama. Dia harus setia kepada kekasihnya. Dia harus....
Belum sempat dia menuntaskan pengembaraan pikirannya menjadi lebih luas. Dia disentakkan dengan suara lembut Ningrum. Menyentuh jiwanya.
Mas, diminum obatnya. Nanti sakit perutnya bertambah parah.”
Dia terdiam. Tidak bisa berkata-kata. Hanya matanya tidak berkesip memandang wajah Ningrum yang mirip dengan wajah kekasihnya.
“Lho, disuruh minum obat, kok memandang wajah saya, Mas. Memang wajah saya menarik ya untuk dilihat?” kata Ningrum penuh kelembutan. Mengagetkannya dari lamunan.
Dia tersadar. Malu. Karena, dia sudah ketahuan memandang wajah cantik itu berlama-lama. Wajah cantik yang mengingatkannya pada wajah kekasihnya. Wajah kekasihnya yang selalu dirindukannya di saat seperti begini. Ah, ini hanya kemiripan belaka.
Dia menguatkan hatinya. Dia tidak boleh begini. Dia harus kuat. Walau diakuinya, wajah cantik di depannya ini lebih lembut dan ramah dari kekasihnya. Wajah cantik ini lebih perhatian dan bersuara merdu. Ah, dia tidak boleh membanding-bandingkan kekasihnya dengan wajah cantik itu. Dia tidak boleh larut dalam perasaan yang membuai ini. Dia harus mampu menepis semuanya. Dia harus bisa. Dia menguatkan hatinya.
Mas, obatnya sudah siap diminum. Minumlah. Dengan minum obat ini semoga sakit perut Mas sembuh.” Tangan Ningrum bergerak ke mulutnya. Sangat cepat. Membuat dia makin tak berkedip. Tetapi, dia cepat sadar diri.  
Maaf Mbak, sakit perut saya sudah sembuh,” katanya menghindar. Biar Ningrum tidak berada dekat-dekat di sampingnya. Apalagi berlama-lama. Membuat dia belingsatan saja. Sebab, bila Ningrum berlama-lama di dekatnya, dia takut tidak bisa menahan gejolak perasaan cintanya. Perasaan mencintai kekasihnya. Walau, dia tahu bahwa Ningrum bukan kekasihnya. Tetapi, Ningrum benar-benar sama dengan kekasihnya. Dari potongan tubuh, cara bicara, warna jilbab kegemaran, perlakuan, semuanya sama. Hanya Ningrum punya sedikit kelebihan dari kekasihnya. Ningrum lebih lembut memperlakukannya dari kekasihnya.
Secepat itukah sembuhnya, Mas. Jangan bergurau. Jangan bandel. Tidak baik kalau jadi orang bandel. Mas, harus minum obat sakit perut ini biar sakit perut Mas sembuh. Jika Mas menolak meminum obat sakit perut ini berarti Mas tidak menghargai saya yang susah payah membawakan obatnya. Selain itu, Mas membuat saya dimarahi ketua panitia kegiatan. Karena, saya tak becus menjalankan tugas saya sebagai ketua P3K. Saya mohon Mas dapat mengerti posisi saya. Mas dapat menghargai kepedulian saya. Diminum ya Mas obatnya,” bujuk Ningrum. Ningrum tambah mendekatkan obat sakit perut itu ke mulutnya. Bersamaan dengan tubuh Ningrum yang mendekat dan hanya sejengkal berada di depan matanya. Tangan lembut Ningrum bekerja cekatan. Memegang kepalanya. Tangan sebelah kiri Ningrum menopang kepalanya sedangkan tangan sebelah kanan Ningrum memasukan obat ke dalam mulutnya. Dia tidak berkutik. Sebab, dia tidak ingin Ningrum tersinggung dan marah padanya atas penolakan itu. Tidak dihargai kepedulian dan jerih payah. Selain itu, dia tidak ingin Ningrum dimarahi ketua panitia kegiatan, karena tidak becus mengurusnya.
Kelembutan Ningrum memberinya obat membuat perasaan terdalamnya tersentuh. Menumbuhkan perasaan sayangnya mencuat. Dikatakannya perasaan itu lewat tatapan mata dan senyuman. Dia berharap semoga Ningrum mengerti arti lirikan mata dan senyumannya. Lupalah dia dengan keteguhannya. Tetapi sebentar dia tersadar.
“Masya Allah,” katanya.
Alhamdulilah mas, obat sakit perutnya sudah diminum. Begitukan bagus. Sekarang Mas boleh istirahat. Dengan cukup istirahat semoga sakit perut Mas sembuh,” kata Ningrum penuh ketulusan.
Sekali lagi. Dengan telaten dan hati-hati Ningrum membaringkannya. Kepalanya diberi bantal penyangga oleh Ningrum. Dia tidak membantah dan membiarkan saja Ningrum melakukan hal tersebut. Dia menurut saja, seperti menurutnya anak kecil kepada ibunya. Ningrum berlega napas dan tersenyum manis. Karena, Ningrum dapat menjalankan tugasnya sebagai Ketua P3K dengan baik.
Terima kasih Mas atas pengertiannya,” kata Ningrum.
Dia mengerjipkan matanya tanda mengiyakan.
Ningrum segera keluar dari kamarnya. Di depan pintu, Ningrum disongsong teman-temannya.
Mantap Ningrum. Kamu memang ketua P3K yang hebat. Dapat membuat lelaki tak penurut itu menuruti kemauanmu. Apa rahasianya menaklukkan lelaki tak penurut itu? Beritahulah kami!” kata teman-temannya.
Biasa saja. Tidak ada cara khusus,” jawab Ningrum sekenanya.
“Tidak mungkin, tidak memakai cara khusus. Kami saja melakukannya tidak bisa.”
“Betul. Tetapi, kalau kalian masih penasaran. Nanti saya beritahu cara saya membuat lelaki itu menurut. Sekarang, mari kita tinggalkan ruangannya. Biarkan dia beristirahat yang cukup agar sakit perutnya cepat sembuh,” sahut Ningrum berlalu santai dari kamarnya meninggalkan teman-temannya.
“Tunggu Ningrum,” kata teman-temannya menyusul.
* * *
Ningrum memang seorang bidadari. Mempunyai kulit tubuh yang tidak semuanya kelihatan. Sebab, Ningrum memakai jilbab yang menutupi seluruh tubuhnya. Hanya muka dan tangannya yang kelihatan berwarna kuning langsat, tidak putih mulus. Sungguhpun begitu banyak orang yang mengaguminya dan memuji kelembutan perilaku dan ketulusan hatinya dalam memberikan bantuan kepada orang lain. Tidak heran banyak orang jatuh cinta padanya.
Rasyid dari Palangkaraya pernah mendekati Ningrum untuk mendapatkan perhatian. Tetapi, Rasyid tidak mendapatkan hati Ningrum. Rasyid tetap berjuang. Terus mendekati Ningrum. Hingga Rasyid bisa dekat dengan Ningrum. Kedekatan sebagai teman. Tetapi bagi Rasyid, kedekatan itu diartikan lain. Bahwa Ningrum memberikan harapan atas hatinya. Sehingga Rasyid memberanikan diri menembak Ningrum, setelah dirasakannya tepat. Tetapi, Rasyid kecewa. Karena, Ningrum menolak cintanya secara halus.
Tidak hanya Rasyid. Ternyata Rapiq dari Banjarmasin juga punya hati pada Ningrum. Tetapi, Rapiq malu mengatakan perasaan cintanya secara langsung. Karena, Rapiq takut cintanya hanya bertepuk sebelah tangan. Untuk itu, Rapiq memendam cintanya.
Sampai kapan Rapiq harus bertahan dengan siksaan cinta seperti itu. Siang dan malam selalu menyiksanya. Selalu membayangkan keanggunan Ningrum. Membuat Rapiq sedikit linglung. Rapiq, tidak ingin terus begini. Rapiq pun meminta tolong padanya untuk mencomblanginya. Karena, dilihat Rapiq, dia lebih bijak menyikapi persoalan apapun dan dia terkena supel. Bisa masuk dalam lingkungan apapun. Rapiq, tidak tahu bahwa dia juga sedang berusaha meredam perasaan cintanya pada Ningrum. Perasaan cinta pada kekasihnya.
Deraan itu membuat dia lebih banyak mendekatkan diri pada Allah. Dia bermohon agar dikuatkan hati untuk mencintai kekasihnya di seberang lautan bukan Ningrum. Dia juga memohon agar perasaan cintanya pada Ningrum berubah. Perasaan cinta bukan kepada kekasih tetapi hanya sebagai teman saja. Oleh karena itu, dia berusaha menghindar dan tidak ingin selalu bertemu dan bertatap muka dengan Ningrum.
Rapiq, temannya dari Banjarmasin menguakkan lagi perasaannya yang mulai berangsur-angsur dapat dikendalikannya. Saat Rapiq memintanya mendekati Ningrum. Setelah dekat, Rapiq ingin dia dapat mewakili perasaannya untuk menyatakan cinta kepada Ningrum. Dia sangat kaget. Dia keras menolak permintaan Rapiq. Tetapi, Rapiq keras kepala. Rapiq tetap memintanya. Sehingga ketegarannya luluh. Akhirnya diluluskannya permintaan Rapiq. Membantu Rapiq mendapatkan Ningrum.
* * *
Dia dapat juga dekat dengan Ningrum. Rapiq tersenyum. Rapiq memuji keberhasilan dia yang bisa bergaul dekat dengan Ningrum. Rapiq tidak tahu bahwa setiap dekat dengan Ningrum, dia selalu beristighfar menenangkan perasaannya. Biar perasaannya tidak terlarut dalam perasaaan cinta yang menyakitkan banyak orang.
Suatu ketika dia mengajak Ningrum duduk lesehan di sebuah warung pojok pecel lele. Sebab, dia disuruh Rapiq untuk mewakili dirinya menyatakan perasaan cinta kepada Ningrum. Bagaimana reaksi Ningrum tentang perasaan cinta Rapiq? Rapiq ingin tahu tanggapan Ningrum. Ditolak atau diterima.
Mereka saling berhadapan. Mata saling menatap satu sama lain. Mulut tidak berbicara. Saling mengukur kedalaman hati. Dia terus menenangkan perasaan yang tidak tentu rudu. Dalam hatinya terus memuji asma Allah agar dikuatkan dalam menjalani perasaannya. Ningrum duluan buka suara.
“Rifki, selain mengajak makan bersama. Ada keperluan yang lain ya? Tidak biasanya kamu mengajak saya seperti ini?”
Dia masih diam. Belum menyahut. Sebab, dia masih menata hati. Meredam perasaan cintanya yang membuncah. Dia berusaha menenangkan diri. Dia hembuskan udara sesak untuk menghilangkan rasa grogi. Setelah tenang, dia mulai menyusun kata-kata yang ingin diucapkannya kepada Ningrum.
“Kamu kenal Rapiq?”
Kenal. Dia utusan dari Banjarmasin. Ada apa dengan dia?”
Dia sudah lama memerhatikanmu. Dari awal kegiatan sampai sekarang. Dari perhatian itu menumbuhkan sesuatu yang istimewa dalam hatinya tentangmu. Dia menyuruh saya mewakili perasaannya untuk mengatakan hal istimewa itu padamu. Ningrum, Rapiq menyukai bahkan mencintaimu.  Bagaimana tanggapanmu?” Plong rasanya saat dia mengatakan itu.
Belum sempat Ningrum memberikan tanggapan. Hidangan pecel lele datang. Pelayan menghidangkan pesanan itu di depan mereka. Tanggapan Ningrum terhenti sejenak. Karena, mereka harus menyantap hidangan yang disediakan. Sambil makan mata Ningrum tak berhenti menatapnya. Tidak lupa Ningrum tersenyum. Dia juga tersenyum. Mereka sama-sama berusaha mengartikan arti senyuman yang diberikan. Dalam hati Ningrum berdesah.
Rifki, mengapa bukan kamu yang mengatakan bahwa kamu cinta saya. Mengapa malahan kamu mewakili perasaan hati temanmu? Apakah kamu tidak ada perasaan cinta terhadap saya? Ataukah kamu membohongi hatimu demi membantu temanmu. Rifki, sejujurnya dari awal kita berjumpa. Saya sudah merasakan getaran cinta itu. Saat pertama kali  saya mengobati sakit perutmu. Itulah pertama kali saya jatuh cinta padamu. Rifki, saya berharap semoga saja cinta saya padamu tidak bertepuk sebelah tangan. Kamu juga merasakan cinta itu pada saya. Kita sama-sama jatuh cinta pada pandangan pertama. Semoga keluhan hati ini dapat direstui Allah.
“Mantap. Pecel lelenya enak sekali,” katanya menyudahi makanan. Segelas air putih diteguknya untuk melancarkan pencernaannya sehabis makan.
Ya enaklah, kan pecel lele buatan Yogya,” jawabmu. Kamu juga menyudahi makanan. Segelas air putih juga kamu teguk. Kemudian tanganmu mengambil sehelai tisu yang disediakan pelayan warung lesehan. Membersihkan sisa-sisa makanan yang menempel di mulutmu.
Betul katamu. Yogya memang mantap!” pujinya.
“Ya, sama mantapnya seperti dirimu,” sahutmu.
“Apa?” kagetnya
“Maaf, saya ketelepasan bicara.”
Aduh, mengapa saya bisa terlepas bicara seperti ini. Bisa-bisa Rifki berpikiran lain. Mengganggap saya mencintainya. Malukan. Ketahuan. Mudah-mudahan saja Rifki tidak berpikir sampai ke arah itu.
Rifki terdiam sebentar. Mencerna kata mantap yang barusan diutarakan Ningrum. Mungkinkah Ningrum mengagumi saya. Wah gawat ini, kalau benar dia mengagumi saya. Apalagi mencintai saya. Walau sebenarnya, saya juga merasakan hal sama seperti yang dirasakannya. Saya sudah jatuh cinta padanya pada pandangan pertama. Tapi, saya harus realistis. Bahwa saya sudah punya kekasih. Saya tidak boleh membagi cinta ini pada orang lain.
Oya Rifki, hanya itu keperluanmu selain mengajak saya makan bersama?” tanyanya. Memecah kesunyian yang sempat hadir.
”Ya,” jawabnya tegas.
Oh begitu. Maaf ya Rifki, untuk sementara saya belum bisa memberikan keputusan tentang perasaan saya pada temanmu. Karena, saya harus menanyakan pada hati saya dulu. Apakah hati saya juga cinta pada temanmu? Beri saya waktu untuk mempertimbangkannya.”
Silakan. Tapi, jangan lama-lama mengambil keputusannya biar saya cepat menyampaikan kepada teman saya tentang perasaanmu padanya.
Begini saja, Rifki. Biar tidak lama menunggu. Tujuh hari dari sekarang. Insya allah, saya akan memberi keputusannya. Tapi, beritahu temanmu, lain kali kalau cinta pada orang, jangan menggunakan jasa perantara.”
Oke. Nanti, saya beritahukan pesanmu itu pada teman saya. Oya, di mana tempatnya kamu memberikan jawabannya?”
Di Pantai Kukup dan Pantai Baron. Saat kita kegiatan rekreasi. Nanti, saya akan memberitahukan padamu. Sekaligus kamu bawa temanmu yang suka pada saya itu. Saya tunggu kalian pukul 17.30. Jangan sampai terlambat.”
Baik.”
Kalau begitu, saya pamit dulu. Terima kasih atas jamuan makannya. Assalamualaikum?”
Waalaikumsalam,” jawabnya.
***
Pantai Kukup dan Pantai Baron sudah di depan mata. Semua peserta kegiatan mengambil posisi masing-masing. Firman berpuisi sambil menantang ombak menerpa pantai. Terlihat Firman riang sekali. Setiap ada omb akmenerpa tubuhnya. Firman mengeraskan semangat membaca puisinya. Firman membacakan puisi karya Sutardji Calzoum Bachrie.
Di dekat  staglamit, Indra dan Fitri berfoto bersama. Mereka begitu lengket. Mereka memang dua orang insan yang selalu akur. Selalu bersama-sama. Ihsan dan Ozi berdiri di batu menjulang. Merasakan sejuknya angin berhembus menerpa tubuh mereka. Mereka menghayatinya penuh kesenangan. Wati mengajaknya berfoto bersama di dekat staglamit. Terlihat begitu manjanya Wati memegang lengannya.
“Buat kenang-kenangan untuk saya bawa ke daerah saya. Bahwa saya pernah punya teman yang baik dari Kalimantan,” kata Wati.
“Boleh juga saya satu ya. Dicuci. Buat kenang-kenangan juga. Dapat teman cantik dari Bengkulu,” sahutnya.
“Ah, kamu bisa saja Rifki.”
“Yalah, apanya tidak bisa.”
Sekilas matanya memandang teman-temannya yang bermain sepak bola pantai. Hatinya tertarik ikut bermain. Dia pamit pada Wati untuk bergabung dengan teman-temannya untuk bermain sepak bola pantai. Wati mengiyakan.
Dia pun bermain sepak bola pantai bersama teman-temannya. Dia lincah berlari ke sana ke mari, seperti pemain profesional. Dia juga dapat mencetak gol. Tepuk tangan teman-temannya bergemuruh. Teman-temannya juga mengatakan,“Mantap Rifki.”
Rapiq memisahkan diri dengan teman-temannya. Sebab, Rapiq ingin menemui Ningrum di batu bersusun rata sebelah kanan. Rapiq berdebar-debar menemui Ningrum. Rapiq tidak sabaran mendengar keputusan Ningrum tentang perasaan cintanya. Sesampai di depan Ningrum. Rapiq duduk dengan manisnya. Ningrum ramah menyambutnya. Ningrum telah mempersiapkan keputusannya.
“Rapiq, saya berterima kasih, karena kamu sudah mencintai saya. Tetapi, saya minta maaf padamu. Saya tidak bisa menerima cintamu. Sebab, saya tidak punya getar cinta padamu. Lebih baik kita berteman saja ya?” kata Ningrum memberikan keputusan.
Rapiq tidak bisa berkata-kata. Rapiq tertunduk lesu. Seketika Rapiq berdiri. Terakhir kali diperhatikannya wajah Ningrum dengan pandangan sayu.
“Terima kasih Ningrum atas jawabanmu. Saya memang salah. Seharusnya saya tidak boleh mencintaimu. Gadis yang selalu diidolakan pria-pria. Seharusnya saya tahu diri dari awal. Jangan menaruh cinta padamu. Permisi,” kata Rapiq meninggalkan Ningrum sendirian dengan wajah kuyu. Rapiq patah hati.
Dia melihat Rapiq melangkah dengan lemahnya.
Pasti cinta Rapiq ditolak Ningrum. Kasihan Rapiq. Saya harus menghiburnya biar dapat melupakan kesedihannya.
Dia menyusul Rapiq. “Rapiq tunggu?” serunya.
Rapiq tidak memedulikan seruan itu. Rapiq terus melangkah gontai dan lesu. Membawa kekecewaan hatinya. Dia mengejar Rapiq sambil berseru memanggil minta ditunggu. Rapiq tidak berhenti malahan mendengar seruan itu, Rapiq mempercepat langkahnya. Rapiq ingin sendiri dan menenangkan hatinya. Rapiq tidak mau diganggu oleh siapapun. Dia terengah-engah mengejar Rapiq yang semakin menjauh dan tidak memedulikan seruanya. Saat dia ingin mengejar Rapiq lagi. Sebuah seruan memanggil namanya. Dia menghentikan langkahnya. Dia tahu suara itu. Suara Ningrum. Dia mulai bertanya-tanya dalam hati.
Ada keperluan apa Ningrum memanggilnya?
Dia serba salah. Meneruskan mengejar Rapiq yang sudah semakin jauh atau memenuhi panggilan Ningrum. Belum sempat dia memutuskan pilihan yang berkecamuk dalam hatinya. Ningrum sudah berada dekat di sampingnya. Dia salah tingkah. Matanya berserobotan dengan mata bening Ningrum. Dia memberanikan membuka mulut.
“Ningrum, ada keperluan apa kamu memanggil saya? Ada yang bisa dibantu?”
“Tentu ada perlu. Tepat sekali. Saya memang perlu bantuanmu!”
“Bantuan apa yang bisa saya berikan?”
“Kamu bawakan sepeda motor saya. Maukan?”
“Membawakan sepeda motormu.”
Belum sempat dia memberikan keputusan. Ya atau tidak. Ningrum sudah berkata lagi.
“Jangan lama mikirnya. Okelah. Sekali-kali bantu teman. Yaya?” Ningrum memintanya penuh harap. Melihat Ningrum berharap seperti itu. Dia tidak tegaan. Dia mengiyakan.
“Begitu dong baru mantap. Oya, sebelum mengantar sepeda motor saya ke sekretariat UNY. Kita berdua mengelilingi Kota Yogya dulu ya? Saya ingin mengajakmu menunjukkan keunikkan Kota Yogya yang belum kamu ketahui.”
“Apa? Mengelilingi Kota Yogya berdua denganmu? Apa saya tidak salah dengar?” kejutnya.
“Tidak Rifki. Sekarang jangan banyak tanya dan berpikir? Sekarang juga kita berangkat. Sepeda motor, saya simpan di balik batu itu. Mari kita ke sana!” tunjuk Ningrum.
“Tapi, saya tidak tahu jalan Kota Yogya, Ningrum? Selain itu, saya tidak enak berjalan berduaan denganmu? Apa kata teman-teman yang mencintaimu? Apa kata pacarmu melihat saya berdua denganmu.”
“Sudahlah. Jangan kamu permasalahkan lagi urusan yang tidak penting itu. Biarkan saja. Terpentingkan, kita tidak macam-macam. Masalah pacar, apakah dia marah atau tidak? Itu urusan saya. Kamu tenang saja. Saya jamin tidak akan terjadi suatu hal yang tidak diinginkan padamu. Sebab, sampai saat ini saya belum punya pacar. Sekarang mari kita berangkat,” tarik Ningrum pada tangannya.
Dia tertarik ke depan dan tidak mampu melepaskan tarikan tangan Ningrum yang begitu kuat. Dia tak menyangka dipaksa seperti itu. Dia pun terpaksa mengikuti langkah kaki Ningrum. Tanpa disadarinya sepasang mata kegeraman mengawasinya. Sepertinya sepasang mata itu sangat marah.
Setibanya di tempat Ningrum memarkir sepeda motornya. Dia meragu, tetapi Ningrum menguatkannya. Dia dipaksa Ningrum menaiki sepeda motor. Ningrum pun mulai naik ke boncengan. Belum sempat mereka meninggalkan tempat tersebut. Pria berwajah garang menghadang mereka. Pria itu memaksa Ningrum untuk pulang. Tangan Ningrum berkali-kali ditariknya. Tetapi Ningrum berusaha melepaskan tarikan tersebut. Dia hanya terpana melihat adegan tarik-menarik itu. Kemudian Ningrum berteriak lantang dan minta tolong padanya. Baru dia tersadar. Dia harus menolong Ningrum agar lepas dari cengkeraman pria berwajah garang itu. Dia menegur pria itu.
“Hai Bung, jangan memaksa orang seperti itu. Kalau ingin mengajak pulang seseorang. Lakukan dengan cara baik-baik. Jangan kasar seperti itu.”
Mendengar ada yang menegurnya. Pria itu menoleh ke arahnya. Pria itu menatap garang padanya.
“Hai Bung, jangan turut campur urusan saya. Kamu tahu tidak siapa saya?”
“Tidak perlu saya tahu siapa Anda. Saya bilang lepaskan Ningrum.” Sedikit meninggi suara saya.
“Beraninya kamu membentak saya. Mau jadi sok jagoan ya!” gelegar pria itu. Nampaknya pria itu makin marah.
“Saya hanya tidak tega kalau seorang wanita diperlakukan seperti itu.”
“Tidak tega? Kamu siapa Ningrum sehingga berani membelanya?”
“Saya teman karibnya.”
“Hanya teman karib. Tidak mungkin. Bung, saya peringatkan pada Anda. Jangan turut campur urusan saya. Ningrum, ayo kita pulang!” tarik pria itu makin kencang. Setengah terseret Ningrum dipaksanya.
“Tidak! Saya tidak mau pulang,” ronta Ningrum. “Rifki, tolong saya!”
“Harus. Kamu harus pulang!” pekik pria itu.
Kesabarannya mencapai finalnya. Tidak terbendung lagi. Dia berteriak kepada pria itu.
“Lepaskan Ningrum!!!!”
Pria itu dan Ningrum kaget. Mereka tidak menyangka Rifki bisa melakukan hal seperti itu. Pria itu terpana. Tidak lama pria itu sudah bisa menguasai keadaan. Pria itu bisa bersikap tenang lagi.
Bagus Rifki, tunjukkanlah kepedulianmu pada saya yang menunjukkan bahwa kamu sebenarnya sayang pada saya. Akting ini harus saya lanjutkan terus. Saya ingin tahu respon Rifki selanjutnya.
Tidak disangka. Tangannya menarik lengan Ningrum untuk dilepaskan dari cengkeraman kuat tangan pria itu. Pria itu tidak mau kalah. Sehingga terjadila tarik-menarik memperebutkan Ningrum. Ningrum meringis kesakitan. Sebentar ke kanan sebentar ke kiri.
“Hai bung, rupanya kamu sudah berani melawan saya ya. Saya ini tunangan Ningrum.”
“Tunangan Ningrum?” Cekalan tangan saya pada Ningrum mengendor.
Tunangan Ningrum? Kalau begitu saya tidak boleh mengusiknya. Tetapi, kasihan sekali Ningrum diperlakukan tunangannya seperti itu. Saya harus menolongnya.
“Biar kamu tunangan Ningrum. Saya tak peduli. Karena, kamu kasar dengannya. Lepaskan Ningrum sekarang juga!” pekiknya sekali lagi.
“Tidak! Banyak bacot kamu! Ini rasakan hadian saya atas kelancanganmu mengganggu tunangan saya.” Pria itu melayangkan tinju ke arahnya. Walau dalam keadaan seperti itu. Dia masih sigap. Dia menghindari tinju pria itu.
Pria itu melepaskan cekalan tangannya pada Ningrum. Pria itu sudah berancang-ancang melakukan tendangan. Pria itu ingin tahu sejauh mana ilmu bela diri dia. Dia sudah bersiap-siap untuk menangkis serangan itu. Ningrum yang dilepaskan pria itu buka suara. Mencegah pria itu melakukan tendangan ke arah dia.
“Sudah cukup Tiwok! Tidak perlu dilanjutkan lagi. Aku sudah tahu hasilnya.”
Tiwok menghentikan serangan. Tiwok tersenyum. Dia kebingungan. Sesekali dia memperhatikan Tiwok dan sesekali dia memperhatikan Ningrum. Apa maksud dari semua kejadian ini? Ningrum melakukan ini untuk mengetahui apa darinya? Pusing kepalanya memikir itu. Dia belum menemukan jawabannya. Yang dilakukannya hanya tergamam saja.
“Karena urusannya sudah selesai. Saya pamit ya Ningrum. Selamat ya!” Tiwok menjabat tangan Ningrum. Ningrum juga menjabat tangan Tiwok.
“Terima kasih ya Tiwok atas bantuannya. Sekarang saya sudah mendapatkan jawabannya.”
“Biasalah Ningrum. Kitakan berteman. Harus saling tolong-menolong.” Tiwok mendekat ke arahnya.
“Bung Rifki, maafkan saya ya atas kejadian tadi. Itu hanya akting belaka. Jaga teman saya ini baik-baik.” Tiwok menepuk bahu saya. Menyadarkan saya dari ketergamaman. Belum sempat saya ingin menanyakan arti kejadian tadi pada Tiwok. Rupanya Tiwok sudah jauh berjalan. Pandangan saya beralih kepada Ningrum. Dipandang begitu, Ningrum tersenyum sumringah. Nampak segar dari biasanya. Seolah-olah Ningrum memperoleh kebahagiaan hidup hari ini.
“Rifki, saya tahu tatapanmu itu. Kamu ingin tahukan, mengapa saya menyuruh Tiwok melakukan hal tersebut? Nanti, sambil jalan-jalan saja saya beritahu maksud dari kejadian tadi. Ayo! Sekarang kita berangkat.” Ningrum segera duduk manis di boncengan.
“Baiklah.” Dia mengiyakan.
Dia menghidupkan sepeda motor. Suara sepeda motor meraung. Dia mulai masukan gigi persneling. Ningrum merapatkan tubuh. Memegang pahanya agar tidak jatuh dari boncengan. Sepeda motor yang ditumpangi dua orang tersebut melaju meninggalkan Pantai Kukup dan Baron yang sudah sunyi. Melaju membawa perasaan Ningrum yang bahagia dan perasaan dia yang tidak menentu.

Negeri Betuah, 30 Januari 2012
****