Jumat, 21 September 2007

Dilema Cintrong

Oleh : M. Saifun salakim

Cintrong itu bukan saling memiliki atau mendapatkan antara satu dengan yang lain. Ada juga cintrong yang sejati, yang tak akan pernah luntur. Apalagi pupus walaupun diterpa angin tondano, angin tornado, dan badai prahara yang begitu dahsyat. Yang pernah ada di alam kehidupan dunia yang fana ini.
Ada juga cintrong yang saling memiliki satu sama yang lain sampai dia terkubur mati tak berdaya. Walaupun mereka berdua itu harus terhalang di dua samudera yang luas, terpisah di dua pulau yang misterius, dan juga terhambat oleh kumpulan air laut yang dalam. Cintrong mereka tetap bersemi dan mekar serta berkembang di atas tumpukan semua itu. Dikarenakan cintrong adalah hal yang suci dan murni. Tetapi cintrong akan menjadi tercemar atau ternoda bahkan menjadi hal paling kotor. Disebabkan oleh perasaan dan napsu yang bukan keluar dari hati yang tulus, tetapi yang keluar dari hempasan gejolak yang menggelegak serta jiwa yang sudah dipelet oleh gelora ganas yang tak mengenal belas kasihan pada sesamanya.
Ada juga cintrong yang blak-blakan. Yang tidak sepenuh hati, setulus jiwa, dan semurni perasaan mencintrongi dan menyayangi orang lain. Semua itu dilakukannya hanya untuk kesenangan dirinya saja. Yang diliputi oleh kebahagiaan semu. Setelah itu ditinggalkannya sendirian orang yang telah menjadi mangsanya. Merintih dalam penyesalan. Terkapar tak berdaya dalam pengkhianatannya yang sangat menyakitkan hati serta pembuangannya yang mengiris jiwa dalam sembilu.
Ada juga cintrong yang membuat orang merasakan sebuah kesenangan, bahagia, damai, dan sentosa. Seperti dunia ini milik mereka berdua saja dan pikiran mereka melayang-layang sampai ke langit yang ketujuh serta mereka seakan baru pertama merasakan sejuknya angin sorgawi. Kata mereka deh!!!
Tetapi ada juga cintrong yang membuat orang yang menjalaninya, mengalaminya, dan merasakannya pada hal-hal yang rumit dan pelik, seperti putus asa, sengsara, melarat, menderita lahir dan batin, bahkan yang lebih tragisnya lagi adalah membuat orang tersebut melakukan sesuatu perbuatan yang terjadi di luar kontrol otak atau pikiran normalnya. Perbuatan itu bertentangan dengan logika hidup atau kodrat ilahi, yaitu : membetot nyawa di tiang gantungan, mengakhiri hidup di sungai yang dalam, mengempiskan napas di ujung senjata, dan merenggut nyawa secara paksa dengan obat-obatan yang melebihi dosis atau takaran dalam pemakaiannya.
Disebabkan otak atau pikiran normalnya serta akal sehatnya sudah dikuasai oleh penguasa jagat alam kegelapan. Yang selalu menggoda umat manusia agar mau menuruti kemauan hatinya sampai kita menempuh jalan ke liang lahat. Yang mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: tidak bisa dilihat dengan mata telanjang atau mata yang polos terbuka, jika hadir pada diri kita serasa badan kita tersentuh hawa panas seperti bara api tetapi bukan panas karena demam lho, memiliki janggut yang panjang menjelai dan semampai, serta merupakan figur yang sangat menyeramkan dan momok yang paling menakutkan.
Sehingga orang tersebut lupa bahwa menamatkan hidup dengan jalan kekerasan atau mengakhiri hidup yang bertentangan dengan hukum kodrat ilahi adalah suatu perbuatan yang sangat dibenci dan dimurkai oleh Allah SWT tetapi sangat disenangi oleh penguasa alam kegelapan.
Orang-orang yang melakukan perbuatan macam begitu akan dicap sebagai orang yang mati dalam keadaan kafir atau mati dalam keadaan tidak mendapat rahmat, hidayah, inayah, anugerah, dan taufik serta barokah-Nya yang selalu dilimpahkannya kepada seluruh umat manusia.
Hanya kita saja yang tidak mengerti dan menyalahgunakan hidayah Allah tersebut. Hidayah itu adalah berupa kenikmatan hidup.
~&&&~

0 komentar: