Minggu, 16 September 2007

Pentingnya Promosi Karya Sastrawan Kalbar

Oleh : M. Saifun salakim

Perkembangan dunia sastra tidak terlepas dari sastrawannya. Sejauh ini telah bermunculan sastrawan yang ada, meramaikan kancah dunia kesusasteraan Nasional sehingga memberi warna kesusastraan Indonesia. Khususnya Kalimantan Barat, juga banyak sastrawan yang telah melakukan kiprahnya. Tetapi sastrawan itu belum banyak dikenal masyarakat luas. Mengapa hal ini sampai terjadi?
Jawaban yang dapat diberikan yaitu karena sastrawan yang ada di Kalimantan Barat kurang melakukan promosi. Berbicara promosi tentunya tidak terlepas dari bukti nyata sebuah benda untuk dipromosikan. Promosi penulis adalah karyanya, dan yang paling menggigit biasanya buku. Sudah berapa banyak sastrawan Kalimantan Barat memiliki hasil karyanya yang sudah dibukukan? Jawabannya terletak pada sejauh mana kita sudah mendapatkan karya sastrawan untuk dijadikan referensi.
Promosi berjalan baik bila didukung oleh orang yang ikut andil mempromosikan hasil karya tersebut, bisa jadi sastrawan itu sendiri, guru yang mengajar di sekolah dasar, sampai menengah maupun media.
Selama ini masyarakat kita hanya mengenal sastrawan di luar Kalimanta Barat. Ini dilema sekaligus dinamika kesusastraan Kalimantan Barat khususnya.
Kajian kasus per kasus yang ditemukan di lapangan terutama dalam pembelajaran sastra pada mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di sekolah sering ditemukan siswa hampir tidak mengenal nama-nama besar sastrawan Kalimantan Barat beserta hasil karyanya. Kondisi ini tidak hanya satu sekolah saja yang saya (penulis) temukan tetapi juga pada beberapa sekolah terutama di Kabupaten Ketapang (penulis bertugas di salah satu SMA di Kecamatan di Kabupaten Ketapang). Ini menandakan bahwa para siswa betul-betul tidak tahu sama sekali. Mengapa mereka tidak mengenal sastrawan di daerahnya sendiri? Karena siswa tidak pernah membaca hasil karya sastrawan Kalimantan Barat dan selain itu para siswa tidak pernah mendapatkan informasi dari gurunya. Gurunya lebih senang menampilkan karya sastra sastrawan di luar Kalimantan Barat sebagai referensi dan bahan ajar di sekolah.
Dibandingkan dengan sastrawan di pulau lain di nusantara ini, sastrawan kita tidak kalah. Kekurangannya itu tadi, kurang promosi. Apalagi setiap buku atau soal yang berkaitan dengan pelajaran sastra selalu mengutip hasil karya sastrawan di luar sana. Coba sekali-kali dalam pelajaran sastra diselipkan karya sastrawan Kalimantan Barat maka secara tidak langsung para siswa akan mengenal nama sastrawan Kalimantan Barat itu.
Siswa lebih kenal kenal Chairil Anwar, Sutardji Calzoum Bahri, Taufik Ismail, Toto Sudarto Bachtiar, Sanusi Pane, ketimbang mengenal Yusach Ananda, Odhy’s, Yudhiswara, Sulaiman pirawan, Asfa Ananda, Wyas Ibn Sinentang, Mizard Bazarvio, Pradono, Ibnu HS, Wisnu Pamungkas, Geha Cipto Gunardi, Yupita, Adi Mochtar, Uray Khas, Popo, dan sederet nama lainnya.
Sekarang telah banyak bermunculan nama, seperti Pay Jarot Sujarwo, Deki Triadi, Amrin Zuraida Rawansyah, M. Saifun salakim, Eko Amriyono, dan masih banyak lagi. Baru-baru ini bermunculan penulis muda Kalbar, seperti Irin Sintriana, Fredy, dan seorang novelis muda Kalbar yang novelnya cukup mengagetkan, Isma Esti Pratiwi!
Penulis tetap menggarisbawahi bahwa kita-kita harus melakukan promosi agar nama-nama itu dikenal oleh masyarakat luas.
Selain sastrawannya sendiri dan guru dalam melakukan promosi tersebut maka lembaga pendidikan dari kecamatan, kabupaten, dan provinsi juga harus berperan aktif membantu sastrawan Kalimantan Barat mempromosikan dirinya agar dapat dikenal masyarakat luas dan para siswa. Tidak hanya dikenal di Kalimantan Barat tetapi juga dikenal oleh seluruh masyarakat Indonesia. Bila perlu sampai ke mancanegara.
Promosi sastra di sekolah-sekolah di Kalimantan Barat telah dilakukan Pay Jarot Sujarwo dan saya pernah menguntitnya hingga ke SMA Negeri 7 Pontianak. Mengapa sastrawan Kalimantan Barat tidak mengikuti jejaknya? Bila perlu semua sastrawan Kalimantan Barat mengadakan tur sastra ke sekolah-sekolah.
~&&&~

[Dipublikasi di Harian Borneo Tribune, 16 September 2007]

0 komentar: