Minggu, 07 Oktober 2007

Antara Cinta dan Harga Diri

Bagian Pertama
Percikan Benci Memulai Cinta
Oleh: M. Saifun salakim

Pagi ini indah dan cerah. Kuncup-kuncup bunga masih merekah. Samsu membiaskan sinar kuning keperakan menuju bumi yang tercinta. Sungguh haus dan dahaganya akan belaian sinar kasih sang samsu yang lembut dan ramah. Titik-titik embun masih menempel manjanya di pucuk-pucuk daun muda yang lagi mekar bersemi. Kelihatannya mereka tersenyum bangga menyambut biasan sinar samsu. Saat ini pukul 06.15 WIB. Musim penghujan.
Siswa dan siswi SMA II Kerayon melakukan berbagai macam aktivitas. Ada yang ngobrol sambil tertawa lepas. Mungkin ceritanya lucu.
Di dalam kelas ada yang sibuk mengerjakan pekerjaan rumahnya yang belum selesai, serta ada yang ngerumpi membicarakan sesuatu aktual di masa kini dan lain sebagainya.
Tak terasa waktu terus saja bergulir sesuai perputarannya. Bel sekolah terdengar meraung-raung memanggil siswa dan siswi SMA II Kerayon untuk memasuki kelasnya. Suasana jadi sunyi lengang.
Di ruang kelas II A. Siswa dan siswinya tenang-tenang saja. Mereka begitu pandainya memanfaatkan waktu luang dengan sebaik mungkin.
Seorang guru yang mengajar di kelas II A memasuki kelas membawa seorang murid baru yang kelihatan malu-malu. Dia pindahan dari kecamatan. Penampilannya sederhana, orangnya cukup tampan, bijaksana dan berwibawa, itu tercermin dari rona wajahnya.
Guru itu mempersilahkan murid baru untuk memperkenalkan biodatanya pada seluruh siswa kelas II A.
Dengan sedikit gemetar Dodi memperkenalkan biodatanya sedetail-detailnya. Sehingga tidak ada yang tersisa. Cuma riwayat hidupnya yang masih tersisa.
Selesai memperkenalkan siapa dirinya. Dodi Sumanjaya duduk sebangku dengan Harun Bakir, guna mengikuti pelajaran hari ini.
Sudah hampir sebulan Dodi bersekolah di SMA II Kerayon. Aral dan rintangan sering dia rasakan. Rintangan yang datangnya dari seorang gadis manis yang terkenal kaya raya dan pintar. Sayang dia sungguh sombong dan angkuh, serta dia selalu membanggakan kecantikan dan harta yang dia miliki. Dia sering mengejek bahkan menghina Dodi. Setelah dia tahu bahwa Dodi pindahan dari kecamatan. Dodi tetap tabah menghadapi caci makian itu.
Dia menanggapi ejekan dan penghinaan yang datang silih berganti itu dengan kepala dingin dan tidak menyimpan dendam sedikit pun. Walau kadang kala ejekan dan hinaan itu menyentuh hatinya. Semuanya dianggapnya sebagai ujian untuk mencapai suatu maksud atau keberhasilan. Akan tetapi, setabah-tabah hati manusia, ada juga batasnya. Begitu juga halnya dengan Dodi.
Dodi sedang bercakap-cakap dengan sahabat-sahabatnya di ruang perpustakaan. Secara mendadak masuklah gadis manis itu bersama teman-temannya ke ruang perpustakaan. Matanya secara tak sengaja membentur wajah Dodi yang selalu dihinanya. Melihat hal itu, timbul lagi kenakalannya untuk mengolok-ngolok Dodi.
”Kawan-kawanku! Di sini ada pemuda yang kere dan gembel, tetapi dia berlagak sok pintar. Tiap hari kerjanya hanya ngumpet dan membaca buku di perpustakaan saja. Apa dikiranya dengan begitu, dia bisa mengalahkan kepintaranku. Tidak mungkin lho yaw? Hari ini aku merasa jijik. Melihat tingkah polahnya. Lebih baik kita ke sana. Kita kerjai dia, biar tau rasa,” ucap gadis manis mengajak teman-temannya. Semua teman-temannya menyetujuinya.
Dengan langkah sombong, gadis yang merasa dirinya tercantik itu mendekati Dodi bersama-sama teman-temanya. Si gadis manis memegang kursi Dodi lalu membuatnya heran. Mengapa si gadis itu mendekat ke arahnya?
Rina berkicau.
“Hai pemuda gembel lagi kere? Apa yang kamu kerjakan di sini? Membaca buku ya? Ingin mengalahkanku. Jangan berkhayallah. Aku sarankan padamu. Jangan lagi kamu pergi ke ruangan ini. Karena ruangan ini tidak cocok buatmu. Tempat yang cocok buatmu adalah di tempat sampah.”
“Rina! Kamu jangan terlalu lancang berbicara seperti itu. Apalagi tadi kamu telah menghinanya dengan kata-katamu yang busuk itu. Kamu kira dengan kekayaanmu, kamu seenaknya menghina orang lain semau perutmu. Tidak akan! Kamu salah dan keliru, Rina? Harta dan kecantikan bukanlah segala-galanya dalam hal menjalin persahabatan. Tetapi keluruhan budi dan kebersihan jiwalah yang menentukan semuanya. Enyahlah kamu dari sini sebelum aku menghajarmu. Tahumu hanya mengacau orang lain saja. Apakah kamu tidak ada pekerjaan lain, hah!”seru Mardi berdiri, menatap garang Rina.
“Sudah Di, tenangkanlah hatimu. Jangan terlalu emosi. Biarkan saja dia berbicara seperti itu. Inikan mengenai urusanku. Biarlah aku saja yang akan menanyakan kemauannya padaku,” bujuk Dodi. Dia menyuruh Mardi duduk lagi.
“Aku tidak akan diam, sebelum gadis sundel itu keluar dari ruangan ini,” kata Mardi ngotot banget.
“Sudah Di, kamu tenang saja,” ujar Dodi menenangkan hati sahabatnya yang telah dilanda emosi.
Sekali lagi Dodi menyuruh Mardi untuk duduk. Mardi mengikuti kemauan Dodi. Dia pun duduk di kursinya. Dodi membalikkan badannya menatap si gadis. Dia bersenandung dengan sopan dan ramah.
”Wahai nona manis, sebenarnya apa maumu? Terus saja membuntutiku. Bila bertemu denganku, kamu selalu menghinaku.”
Si pemuda menatap lekat-lekat dan dalam bola mata si gadis manis. Si gadis manis diam saja.
Di luar perkiraan Dodi. Berninya si gadis manis menjatuhkan kursi yang dia duduki. Akibatnya, dia jatuh ke lantai bergedebukan. Begitu nyaringnya.
“Wahai teman-teman, lihatlah pemuda ini yang sudah berani melawanku. Akibatnya beginilah jadinya.”
Rina Ermi Maruli tertawa lepas.
Teman-temannya juga ikutan tertawa. Sehingga riuhlah ruangan perpustakaan itu. Teman pria si gadis manis yang juga ikut-ikutan tertawa. Semua orang memandang Dodi.
Teman-teman Dodi merasa geram. Ingin rasanya mereka menghajar si gadis manis, tetapi hal itu tidak mereka lakukan. Karena, teman-teman pria si gadis manis sudah siap mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan dari teman-teman Dodi.
Merasa dilecehkan Dodi kurang terima. Dengan menahan rasa sakit di bibir dan badannya, serta bermodalkan keberanian demi kebenaran. Dodi bangkit berdiri. Matanya langsung menatap bola mata si gadis manis begitu tajamnya. Si gadis manis itu ngeri ditatap Dodi sedemikian rupa. Dodi bersenandung.
”Wahai nona manis. Aku mengalah kepadamu, karena aku tidak ingin berurusan denganmu. Hari ini, sungguh-sungguh….Kamu telah melakukan kesalahan amat besar. Sehingga aku tidak mampu menahan perasaanku. Aku tidak mengira bahwa orang kaya sepertimu tidak mempunyai rasa sopan santun dan etika.
Sadar nona manis! Kamu sudah terlalu berlebihan menghina orang lain. Karena, kamu banyak harta. Sehingga kamu mudahnya melecehkan orang lain yang tingkat kekayaannya berada di bawahmu. Percuma saja kamu belajar PPKN tiap hari di sekolah. Akan tetapi, apa yang terkandung di dalam buku itu tidak pernah kamu pahami dan dimengerti.
Yang harus kamu ingat gadis manis bahwa kami juga punya perasaan, jiwa, dan hati. Tidak selamanya kami rela dihina dan diperlakukan seperti ini.
Hari ini aku akan memberikan cara bersopan santun padamu. Cara bersopan santun yang aku ajarkan ini mudah-mudahan selalu kamu ingat sampai akhir hayatmu.”
Selesai berkata. Dodi melayangkan beberapa kali tamparan ke pipi Rina.
Plaakk…. Plakk…. Plaak…..
Rina terjajar beberapa langkah. Pipinya jadi memerah bekas tamparan tangan Dodi. Tamparan tangan itu sangat keras. Rasa perih bercampur dendam kesumat dan sakit hati menjalari seluruh tubuhnya.
Baru kali ini. Dia dapat tamparan dari seorang lelaki. Seorang pemuda dihinanya lagi. Ayahnya saja tidak pernah melakukan hal semacam itu padanya. Dia sungguh merasa terhina. Membuat sakit hati dan dendam kesumatnya makin bertambah besar pada Dodi. Kemudian Dodi berlalu dari ruang perpustakaan dengan tidak melihat ke belakang.
Siswa dan siswi SMA II Kerayon melengak tidak percaya. Melihat kenyataan yang barusan dilakukan Dodi pada Rina. Tidak terkecuali teman-teman Dodi maupun teman-teman Rina.
Ada sekelompok siswa dan siswi SMA II Kerayon yang merasa senang dengan apa yang dilakukan Dodi, terutama teman-teman Dodi. Yang mendukung Rina menyesalkan mengapa hal itu sampai terjadi.
Kurang ajar sekali dia! Berani-beraninya menampar pipiku! Ayahku saja tidak pernah melakukan hal semacam ini. Malahan dia yang berani melakukannya. Akan aku balas perbuatanmu ini. Bangsaattt!!!! Semua persoalan ini akan aku adukan pada Kepala Sekolah. Biar dia tau rasa, kata si gadis dalam hati.
~oOo~

Istirahat kedua Dodi dipanggil Kepala Sekolah. Dengan langkah tenang Dodi menghadap. Dia sudah maklum bahwa panggilan itu, pasti mengenai gadis sombong itu.
Depan ruang Kepala Sekolah. Dodi mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Dodi dipersilakan masuk. Waktu masuk Dodi terperanjat. Karena si gadis sombong itu sudah ada di ruang Kepala Sekolah.
Benar dugaanku. Pasti tentang masalah di ruang perpustakaan.
“Silakan duduk, Nak Dodi!”
Kepala Sekolah mempersilakan Dodi duduk. Sedikit gemetar Dodi duduk di samping si gadis sombong. Matanya tidak lepas memandang wajah cantik Si gadis sombong. Si gadis sombong tidak kalah semangatnya. Dia juga membalas tatapan itu.
“Sudahlah! Kalian tidak boleh tatap-menatap begitu.”
Kepala Sekolah memperingatkan. Mereka tetap tatap-menatap. Malahan Dodi ikut-ikutan menatap si gadis sombong dengan siratan lebih tajam.
“Nak Dodi, Bapak ingin menanyakan suatu hal. Menurut penuturan Nak Rina, kamu menampar pipinya tanpa suatu alasan. Hal itu membuat dia merasa kurang terima atas perlakuanmu. Teganya kamu melakukan perbuatan itu. Padahal selama ini, Bapak melihat kelakuanmu sungguh baik,” kata Kepala Sekolah.
Dodi beralih memandang Kepala Sekolah. Dia bersenandung lirih.
“Kalau menampar pipinya benar, Pak. Tapi kalau itu kulakukan dengan tanpa alasan. Itu tidak benar. Mana mungkin aku berani melakukan perbuatan semacam itu, Pak!”
“Bohong! Bohong! Dia berkata bohong, Pak,” timpal Rina.
“Aku tidak bohong, Pak! Aku berkata sejujurnya dan apa adanya. Dia yang bohong, Pak!” Dodi membantah. Dia sewot.
“Sudahlah Nak Dodi dan Rina. Janganlah kalian ribut di ruangan ini. Janganlah kalian saling menyalahkan. Sebaiknya, kalian berdua saling minta maaf satu sama lain, agar urusan ini tidak berlarut-larut lagi.” Kepala Sekolah menengahi pertengkaran mereka. Masih dengan keramahannya.
Mereka terdiam. Mereka tidak berani menatap Kepala Sekolah. Karena Kepala Sekolah yang satu ini begitu mereka kagumi dan segani. Seketika Dodi memandang si gadis sombong dengan niat dalam hati untuk minta maaf atas perbuatannya di ruangan perpustakaan. Walau sebenarnya dia berada di pihak yang benar. Dia tidak ingin urusan itu berlarut-larut. Dia mengulurkan tangannya sembari mulutnya berpuisi merdu.
“Rina, maafkanlah kesalahanku tadi. Aku emosian. Sehingga melakukan perbuatan itu. Seharusnya hal itu tidak boleh aku lakukan.”
Si gadis sombong diam saja. Matanya membeliak besar menatap wajah Dodi. Dodi membalas tatapan itu dengan senyuman segarnya. Si gadis sombong tidak mau menerima uluran tangan itu. Malahan dia mengeluarkan sarkasme.
“Apakah dengan minta maaf saja sudah selesai urusan ini? Tidak akan. Aku tidak sudi memaafkan kesalahan orang macam kamu.”
“Rina,” seru Dodi Sumanjaya tercekat.
“Nak Rina, mengapa kamu tidak mau menerima uluran tangan minta maaf itu? Padahal yang dilakukan Nak Dodi betul-betul tulus. Nak Rina masih mau memperpanjang urusan ini. Itu tidak baik, Nak Rina. Sebenarnya apa maumu, Nak Rina?”
“Mauku, Bapak memberikan hukuman atas perbuatannya. Diskors kek agar tidak mengikuti pelajaran untuk beberapa hari. Jika perlu, keluarkan saja dia dari sekolah ini.” Rina Ermy Maruli berkata ketusnya.
“Apa?” Kepala Sekolah terkejut.
“Kamu kira semudah itu melakukannya. Masalah kecil sampai dibesar-besarkan. Apalagi mengeluarkannya. Itu tak benar. Mungkin jalan terbaiknya adalah menskors dia beberapa hari saja.”
“Nak Dodi?”
“Iya, Pak.”
“Atas kesalahanmu terhadap Nak Rina. Kamu, Bapak skors empat hari tidak boleh mengikuti pelajaran di sekolah.”
“Baiklah, Pak! Kalau memang itu jalan terbaik dari pemecahan masalah ini. Aku menerimanya dengan hati ikhlas keputusan, Bapak!” Dodi Sumanjaya menanggapinya.
“Terima kasih, Nak Dodi. Kamu memang anak yang baik dan patuh. Sekarang urusan ini sudah selesai. Kalian boleh masuk ke kelas lagi untuk mengikuti pelajaran,” kata Kepala Sekolah.
“Baik, Pak!” jawab mereka serempak.
~oOo~

Dodi mulai menjalani masa penskorsannya. Dalam empat hari dia tak boleh mengikuti pelajaran di sekolah. Kawan-kawannya merasa heran. Kok, Dodi tak muncul lagi di sekolah sejak peristiwa itu. Kawan-kawanya mengira Dodi Sumanjaya dihajar teman-teman Rina tanpa sepengetahuan mereka. Kawan-kawan akrab Dodi, yaitu Harun Bakir dan Mardi, sepulang sekolah langsung ke rumah Dodi.
Depan rumah Dodi. Mereka mengetuk pintu seraya mengucapkan salam. Seorang ibu membukakan pintu dan menjawab salam mereka.
”Mencari siapa, Nak?,”tanya si ibu lemah lembut.
”Mencari Dodi, Bu! Apakah dia ada di rumah,” jawab Harun Bakir.
”Ada, Nak! Silakan masuk. Dia ada dalam kamarnya,”ujar si ibu mempersilakan Harun Bakir dan Mardi memasuki rumahnya.
”Terima kasih, Bu!,”ucap Harun Bakir dan Mardi masuk.
Mereka menuju kamar Dodi. Setelah terlebih dulu diberitahu oleh ibu Dodi. Depan kamar Dodi. Harun Bakir dan Mardi mengucapkan salam.
”Waalaikum salam, rupanya kalian. Silakan masuk sobat,” sahut Dodi.
Dia mempersilakan teman-temannya duduk dalam kamarnya. Kedua sahabatnya segera duduk. Dodi pun bertanya.
”Ada keperluan apa kalian datang kemari? Perlu penting ya?.”
”Tak ada keperluan penting, Dod! Kami cuma ingin memastikan saja. Apakah kamu sehat atau sakit? Rupanya kamu sehat-sehat saja. Kami menyangka kamu sudah diapa-apakan oleh teman-teman Rina tanpa sepengetahuan kami. Karena, selama empat hari kamu tak hadir di sekolah. Kami baru tahu masalahmu tadi. Kamu diskors Bapak Kepala Sekolah selama empat hari. Ini gara-gara gadis sundel begar itu. Sekali-kali buat saja dia jera, Dod! Kalau perlu, pelajaranmu dapat diingatnya sampai mati,” jelas Harun Bakir.
“Terima kasih saja, Kir! Atas usul, dan saranmu untuk membuat gadis itu jadi jera. Biarlah semua ini jadi pelajaran dalam hidupku. Semoga saja di lain waktu yang lain, gadis itu sadar dan insaf sendirinya. Karena, tak selamanya harta berlimpah ruah membuat hati orang bahagia. Harta kekayaan bukanlah jadi patokan untuk mencapai kebahagiaan. Akan tetapi, kebersihan jiwa, keluruhan budi, dan ketenangan hatilah yang merupakan jalan untuk mencapai kebahagiaan,” kata Dodi.
”Benar juga katamu, Dod! Tapi.... ? Mana mungkin dia bisa insaf dan sadar. Malahan dia lebih beringas lagi kelakuannya. Karena, dia merasa bahwa harta kekayaan yang berlimpah ruah itu, dapat dijadikannya standar dalam mencari teman. Memang banyak temannya. Namun, temannya hanya sekedar teman saja. Teman dalam kesenangan saja. Teman dalam kesusahan dia tak punya,” ucap Harun Bakir.
“Bisa saja jadi sebuah kenyataan, Kir! Bila saja teman kita Dodi yang ambil bagian dalam usaha untuk menyadarkannya, yaitu dengan suatu jalan paling istimewa. Dod, kamu harus melakukan suatu metode, yaitu metode bermain cinta atau bercinta dengan Rina. Mustahil, gadis cantik dan anggun itu tak mau denganmu. Di sekolah saja, banyak gadis-gadis yang naksir dan menaruh hati padamu, seperti Lita Puspita, Mira Armania, dan lain-lain. Di sinilah, kamu akan lebih banyak menanamkan petuahmu untuk menyadarkannya. Insya Allah, dia akan sadar berkat nasihatmu itu,” sambung Mardi.
“Kok bicaramu ngelantur amat sih, Di! Ah… sudahlah. Kita jangan membicarakan masalahnya lagi. Sebaiknya kita membicarakan hal-hal yang lain saja.”Dodi mengalihkan pembicaraan itu.
Mereka pun membicarakan hal-hal yang lain dengan cukup lama . Setelah bicara begitu lamanya dengan Dodi. Harun Bakir dan Mardi mohon diri untuk pulang ke rumahnya masing-masing. Dodi mengantar teman-temanya sampai ke halaman depan.
Hari ini Dodi masuk sekolah lagi setelah mengalami masa penskorsan oleh Bapak Kepala Sekolah. Teman-teman Dodi sungguh gembira, terutama gadis-gadis yang dikatakan Mardi yang suka padanya. Rina makin tambah benci melihat Dodi sekolah lagi. Dia segan untuk menganggu Dodi.
Hari berganti hari. Bulan berganti bulan. Tahun berganti tahun tiada terasa. Kini detik-detik Ebtanas sudah menjelang atau dekat di ambang mata. Dodi makin menekuni pelajarannya untuk persiapan menghadapi Ebtanas, agar dapat berhasil dengan baik dan memuaskan. Ebtanas pun tiba dan berlalu dengan cepatnya. Tak terasa sudah hari perpisahan.
Di acara ini akan diumumkan kelulusan siswa dan siswi SMA II Kerayon. Dodi terlihat tenang-tenang saja. Ia duduk di bagian belakang bersama teman-temannya yang lain dan teman setianya Harun Bakir dan Mardi.
Depan mereka. Berjarak lima bangku duduklah pengagum setia Dodi, yaitu Lita Puspita dan Mira Armania. Depan kedua gadis itu duduklah seorang gadis manis terkenal sombongnya. Namun, dia memiliki wajah yang cukup cantik. Dia adalah Rina. Dia nampak anggun hari ini dengan memakai pakaian yang sesuai dengan dirinya. Sesekali Mira Armania dan Lita Puspita curi pandang menatap Dodi. Dodi tak mempedulikannya. Malahan Dodi Sumanjaya terus asyik menatap arah depan, yaitu ruang pentas yang digunakan dalam acara hiburan ini.
Harun Bakir yang terkenal suka bercanda mengusili Dodi.
“Dod, gimana pendapatmu tentang gadis manis itu hari ini? Cantik bukan? Kalau menurutku sih dia sungguh cuantik hari ini!”
“Gadis manis yang mana, Kir?” jawab Dodi.
“Masak, kamu tak tahu, Dod. Gadis manis yang itu, tuh… tuh…,” tunjuk Harun Bakir.
“Dia katamu. Rina yang kamu maksud?”
“Iya dong. Kalau tak dia, siapa lagi yang aku maksud. Sedari tadi aku melihat matamu tak berkesip memandang arah depan. Kalau tak memandang dia, memang kamu memandang siapa lagi. Kamu mulai pandai mengaguminya. Wajar saja, Dod. Kamu terpesona dengan penampilannya hari ini yang begitu anggunnya. Iyakan, Dod?”
“Tidak, Kir. Aku memandang ke depan bukan memandang dia kok, tapi aku memandang ruang pentas yang indah,” tegas Dodi.
“Bohong. Kamu berbohong dan berdusta, Dod. Janganlah kamu berbohong padaku. Bahwasannya kamu memang menyukainya. Atau kamu malu rahasiamu akan diketahui teman-teman. Tenang saja, Dod. Aku sebagai sobatmu patut dibanggakan. Aku pandai menyimpan rahasia orang lain. Kalau kamu menyukai gadis manis itu adalah kewajaran dan kelumrahan, Dod. Jangankan kamu. Dulunya, aku pernah tertarik dan menyukai gadis manis itu. Tapi dianya saja yang tak mau denganku. Aku merasa bahwasannya kamu sungguh cocok untuk mendapatkannya. Sebab kamu adalah orangnya sabar. Selain itukan bisa jadi sebuah tantanganmu untuk melunturkan kesombongannya. Aku yakin. Jika cintamu sudah mengikatnya. Dianya pasti mau melakukan apa saja yang kamu pinta demi cintanya padamu. Aku merasa kamu bisa melakukannya. Aku doakan Dod semoga kamu sukses kawan.” Harun Bakir berkomentar sambil tersenyum.
“Kamu nih ada-ada saja, Kir. Sudahlah. Jangan kamu bicarakan hal itu lagi. Sekarang dengarkanlah. Acaranya segera dimulai.” Dodi mengalihkan pembicaraan. Dia tak ingin Harun Bakir ngelantur jauh. Harun Bakir menghentikan pembicaraannya. Dia mulai melihat depan dan mulailah telinganya mendengarkan acara itu dengan saksama. Begitu juga temannya yang lain.
Acara dimulai tepat pukul 08.00 WIB. Tak terasa tibalah pada acara puncaknya, yaitu pengumuman kelulusan siswa dan siswi SMA II Kerayon. Semua mata tertuju ke depan. Dalam hati semua siswa dan siswi berdebar-debar menantikan kemunculan Bapak Kepala Sekolah yang mengumumkan kelulusan itu. Dengan langkah tenang Kepala Sekolah yang mereka tunggu memunculkan dirinya dari samping kiri panggung. Dia lalu mendekati mikrofon. Bersenandunglah dia.
“Assalamualaikum wr.wb.”
“Waalaikumsalam wr.wb.,” jawab hadirin semuanya.
“Pertama-tama tak lupa kita panjatkan rasa puji syukur kita pada Allah, karena pada hari ini kita masih diberi umur panjang, sehingga kita dapat berkumpul semuanya pada acara berbahagia ini. Puji dan salam juga kita sampaikan pada junjungan kita Nabi Muhammad saw.
Orang tua atau wali murid yang saya hormati, hadirin yang saya hormati, dan anak-anak saya yang saya cintai. Anak-anak saya yang tercinta. Sebelum Bapak mengumumkan kelulusan ini terlebih dahulu ada satu hal yang harus kalian ketahui bahwa pada tahun ini sekolah kita mendapatkan predikat terbaik. Jumlah NEM tertinggi diraih oleh sekolah kita. Bapak sungguh bangga dan bahagai. Untuk menyatakan terima kasih atas keberhasilan yang kalian peroleh itu. Pada namanya yang dipanggil menjadi juara, harap maju ke panggung. Bapak akan memberikan sedikit kenang-kenangan pada anak Bapak yang berprestasi itu. Sekarang Bapak akan mengumumkan kelulusan kalian semua. Sekolah kita lulus hampir semuanya yaitu 95%, dan 5% lagi adalah tidak lulus. Mereka yang tidak lulus adalah : Martini Parita, Sumantri, Darmawan, Sumini, dan Joko Bendo. Kepada mereka yang tidak lulus, Bapak mengharapkan janganlah terlalu bersedih hati. Karena, masih banyak kesempatan buat kalian untuk memperbaikinya. Anggaplah kegagalan ini sebagai sebuah batu loncatan untuk mencapai sukses.”
Luapan kegembiraan memenuhi ruangan. Terdengarlah tepuk tangan maupun teriakan kegembiraan riuh rendah. Namun, ada juga yang merasa perpisahan ini sebagai ajang membuat hati mereka bersedih.
“Semua harap diam dan tenang,” ujar Bapak kepala sekolah menenangkan kegaduhan yang dibuat siswa dan siswinya. Semua siswa dan siswi SMA II Kerayon terdiam. Lalu Bapak Kepala Sekolah melanjutkan pidatonya.
”Baiklah anak-anak, siswa dan siswi SMA II Kerayon yang saya cintai. Untuk memanfaatkan waktu yang ada, Bapak akan mengumumkan siapa saja orang-orang yang telah membuat harum nama sekolah ini. Pertama ialah Dodi Sumanjaya dengan perolehan nem yang paling tertinggi pertama. Untuk itu, Nak Dodi kami harapkan naik ke pentas”
Dodi maju ke pentas, dan berdiri di samping Bapak Kepala Sekolah.
”Kedua adalah Rina Ermi Maruli dengan perolehan nem paling tertinggi kedua. Ketiga direbut oleh Sekolah yang lain. Untuk itu, kami harapkan pula Nak Rina Ermi Maruli untuk naik ke pentas,” Ucap Bapak Kepala Sekolah.
Rina maju ke depan. Dia berdiri di samping kiri Dodi. Dodi tenang-tenang saja. Hanya Rina agak kikuk alias canggung harus berdiri di sampingnya. Namun, dengan cepat Rina telah dapat menguasai keadaan. Seringkali Dodi curi pandang menatap Rina yang berdiri di sampingnya dengan tersenyum manis. Akan tetapi, tatapan mata Dodi dibalas dengan mata garang oleh Rina. Bapak Kepala Sekolah menghampiri dua orang kader-kader bangsa itu.
“Selamat, Bapak ucapkan atas keberhasilan yang kalian peroleh. Hal ini dapat dijadikan contoh untuk adik-adik kelas kalian. Ini terimalah cindera mata dari Bapak atas keberhasilan kalian membuat nama SMA II Kerayon menjadi harum mewangi,” ucap Bapak Kepala Sekolah menyerahkan hadiah pada Dodi dan Rina. Untuk kenang-kenangan yang terakhir, Bapak Kepala Sekolah mengajak Dodi dan Rina berfoto bareng bersamanya.
Selesai berfoto-foto. Dodi dan Rina duduk ke kursinya. Acara dilanjutkan dengan acara hiburan. Sungguh meriah. Karena acara hiburan ini dimeriahkan oleh siswa dan siswi kelas satu, kelas dua, dan siswa dan siswi kelas tiga yang bersedia tampil dalam rangka memeriahkan acara.
Acara selesai pada waktu yang tepat. Semua hadirin dan siswa serta siswi SMA II Kerayon berpulangan. Tersisa hanya Dodi sendirian di tepi jalan sedang menunggu angkutan umum. Dia tak sendirian. Karena, ada dua orang gadis yang datang menghampirinya. Mereka tak lain adalah Mira Armania dan Lita Puspita.
”Belum dapat tumpangan, ya Dod?” tanya Mira Armania.
”Ya, Mir,” Jawab Dodi.
“Pulang bareng dengan kami saja, Dod? Gimana? Maukan, Dod! Sebentar lagi mobil jemputan kami akan datang,” saran Lita Puspita.
”Terima kasih saja, Lita! Aku lebih senang pulang sendiri. Mungkin tak lama lagi angkutan umumnya melintasi jalan ini,” kata Dodi. Mobil jemputan Mira Armania dan Lita Puspita segera muncul.
”Mari, Dod! Pulang bareng dengan kami. Daripada kamu lama menunggu angkutan umum. Tak usah malu-malu. Ayo, Dod!” ajak mereka sambil masuk ke mobil.
“Terima kasih saja deh! Lain kali saja. Hari ini aku masih ingin pulang sendiri,” sahut Dodi.
”Kalau begitu, kami pulang duluan. Dod! daaaah,” ucap mereka berbarengan dan melambaikan tangannya.
”Iya deh, hati-hati di jalan ya?” seru Dodi sambil menganggukkan kepalanya dan membalas lambaian tangan dua gadis itu. Mobil itu melaju meninggalkan tempatnya. Tinggallah Dodi sendirian.
Suatu saat Dodi sudah menjadi seorang mahasiswa di Universitas Negeri yang berada di kota ini. Rina juga jadi mahasiswi di Universitas itu. Tak ketinggalan Mira Armania yang nguber cintanya Dodi juga jadi mahasiswi di universitas yang sama. Hanya Lita Puspita saja tak di universitas itu. Karena dia tak lulus ujian masuk perguruan tinggi. Pertemuan itu membuat Mira Armania makin tambah cinta dan membuat Rina Ermi Maruli makin tambah benci pada Dodi.
Semua cara dicari Mira Armania untuk mendapatkan cinta Dodi yang selalu diharapkannya dari SMA. Semua yang dilakukannya belum membuahkan hasil.
Ia tersadar dari kekeliruannya dan pengejarannya yang hampa. Setelah Dodi menjelaskan semua itu padanya. Walaupun hatinya hancur luluh jadi debu. Mira Armania tetap tabah menghadapi hal tersebut. Malahan dia bersyukur. Karena, Dodi sudah berterus terang dan menganggap dirinya sebagai adik, bukan sebagai kekasih. Dia merasa bangga mempunyai abang yang baik hati seperti Dodi.
Lain halnya Rina. Dia terus melancarkan terornya pada Dodi Sumanjaya. Dia belum puas sebelum sakit hatinya terobati. Dia tak menyangka bahwa Joni yang membantunya jatuh cinta padanya. Siapa sih yang tak jatuh cinta pada Rina. Gadis cantik dan kaya.
Saat Dodi berjalan sendiri. Ia dicegat oleh gerombolan Rina yang membawa Joni beserta teman-temannya. Dodi tak mempedulikannya. Malahan dia mencari jalan lain untuk menghindar kepungan mereka. Joni menabraknya. Dodi terjatuh dan bukunya berserakan di aspal terlepas dari genggaman tangannya. Ia tetap menabahkan hatinya.
Saat ia memungut buku-bukunya. Joni menghampirinya. Menendangnya. Melayangkan bogem mentah padanya. Dodi tak menyangka mendapat serangan itu. Akibatnya dia terlempar terhantam serangan. Dia merasakan semua persendian tulangnya sakit. Dodi tetap menabahkan hatinya, walau kulitnya ada yang lecet terkena aspal.
Membuat kesabarannya jadi luntur. Ketika matanya melihat buku-bukunya yang jatuh berserakan di aspal dirobek Joni dan teman-temanya. Bekas robekan buku-buku mereka buang ke selokan. Joni dan teman-temannya tertawa lepas dan puas. Joni mengaung seperti tawon.
“Kawan-kawanku. Anak gembel itu tak ada apa-apanya bagiku. Dia telah mendapatkan hadiah yang cukup lumayan dariku. Karena, dia telah berani mengusik ketenangan kawan kita, Rina Ermi Maruli. Aku rasa pemuda ini tak punya keberanian seperti layaknya seorang lelaki. Dia lebih layak dipanggil banci atau waria saja. Pantesan Rina muak dan jijik melihat tampangnya.”
Joni dan teman-temannya makin besar tertawanya. Rina juga ikut-ikutan tertawa.
Dodi bangun dari jatuhnya. Dia berdiri dengan semangat membara di dada. Dipandangnya garang dan ganas Joni, teman-teman Joni, dan Rina. Joni menghentikan tawanya. Teman-teman Joni dan Rina juga menghentikan tawanya. Joni mengkeret ditatap Dodi sedemikian rupa. Sebelum dia mengeluarkan suara. Dodi membentaknya.
“Hai Joni, apakah kamu sadar dengan perbuatan ini? Telah melakukan kesalahan ini padaku? Weleh… Weleh… Aku tak mengira ada orang yang pendek pikir, sumpek gagasan, dan tuli pertimbangan. Kamu mudah saja dijadikan anjing suruhan gadis sundel itu. Berapa besar sih kamu digajinya untuk melakukan perbuatan ini? Tentu besar dong. Habis yang menggajinya anak orang kaya. Orang kaya tak punya sopan santun, angkuh, dan sombong. Memangnya dia saja yang punya kekayaan. Kamu harus ingat Joni. Gadis itu bukan gadis baik-baik, tapi gadis tak beretika. Baiklah aku tak perlu berpanjang bicara. Aku tak ingin memperpanjang urusan ini. Kamu kira aku takut pada kalian? Tidak. Aku mengharapkan kamu dapat mengganti semua buku yang kalian robek ini. Jika tidak. Kalian akan tahu akibatnya. Cepat kalian ganti. Aku tunggu lima menit.”
“Bangsat! Kamu anak gembel. Lancang sekali mulutmu berkoar. Ohoii…. Rupanya kamu ada keberanian juga. Syukurlah. Aku akan memberikan pelajaran lagi agar mulutmu tak berkicau,” gelegar Joni melayangkan tinjunya. Dodi menghindari serangan tinju joni dengan menggerakkan badannya ke samping kanan. Lalu kakinya bergerak cepat menendang perut Joni. Joni terjajar beberapa langkah. Perutnya terasa mual. Dia tak menyangka bahwa Dodi yang dihinanya dan dikatakannya anak gembel dapat melakukan gerakan penghindaran dan balasan secepat kilat.
“Teman-teman, ayo bantu aku. Jangan tinggal diam saja. Mari sama-sama kita hajar dia sampai babak belur,” teriak Joni menahan rasa sakit di perutnya.
Teman-teman Joni melakukan apa yang diucapkan Joni. Mereka melakukan pengeroyokan terhadap Dodi. Bukannya merasa kecut. Dodi malahan tegak menantang. Menantang dan melawan Joni dan teman-temannya.
Perkelahian empat lawan satu tak dapat dihindarkan. Seru. Mereka yang mengeroyoknya belum juga dapat mendaratkan pukulan dan tendangan. Sebaliknya, mereka dapat hujanan pukulan dan tendangan dari Dodi hingga babak belur. Joni melengak tak percaya melihat kenyataan ini. Begitu pula Rina. Joni tak putus semangat. Dia terus melakukan serangannya. Namun dia banyak kena apesnya. Badan dan seluruh mukanya biru lebam terhantam serangan Dodi. Tulang persendiannya sakit menusuk sampai ke sumsum, tulang paha, tulang dada, dan tulang belikatnya.
Merasa dirinya dan teman-temannya tak bisa mengalahkan Dodi maka Joni dan teman-temannya mengambil langkap seribu alias tancap gas. Kabur dengan motornya.
Rina ketakutan ditinggal bodyguard yang disewanya. Dia mengambil inisiatif untuk melarikan diri menyusul Joni dan teman-temannya. Terlambat. Dengan kecepatan kilat Dodi menangkapnya.
“Mau lari kemana kamu, hah! Rupanya kamu dalang semua ini.”
Tangannya kanannya menarik lengan Rina. Tangan kirinya membekap mulut Rina hingga tak bisa berteriak. Dodi membawa Rina secara paksa ke tempat sepi dan terlindung dari kerumunan mata orang banyak.
Di tempat yang dituju. Dodi melepaskan tangannya yang membekap mulut Rina. Tangannya yang satu tetap memegang erat tangan Rina agar tak lepas.
“Sekarang panggillah semua tukang pukul dan anjing suruhanmu. Berteriaklah sepuas hatimu minta pertolongan pada orang lain,” geram Dodi.
“Bangsat tak tahu peradatan dan biadab kamu, Dod. Beraninya dengan wanita saja. Lepaskan aku. Kalau tidak. Aku akan membunuhmu,” seru si gadis meronta-ronta melepaskan tangannya yang dicekal. Tangannya yang satu lagi terus melayangkan tinjunya pada Dodi.
“Aduh, nikmatnya tubuhku dipukul tangan semulus ini. Katanya ingin membunuhku. Lakukanlah! Aku sangat senang meninggal dunia dibunuh gadis secantik kamu, Rina,” tantang Dodi. Dia mencolet pipi Rina.
“Chuih…..,” ludah Rina.
“Keparat busuk. Tikus bau comberan hatimu, Dod. Tak kusangka, kamu mempunyai niat tak baik. Jangan-jangan kamu ingin merenggut kehormatanku. Tol….,” suara Rina terputus-putus. Karena tangan Dodi membekap mulutnya lagi. Terdengar hanya suaranya berhaha… huhu
Dodi makin jauh membawa Rina dari tempat di mana dia memarkir sepeda motornya.
Di taman yang tersembunyi. Jauh dari keramaian. Dodi melepaskan cekalan dan bekapan tangannya pada Rina. Merasa terlepas. Rina melarikan dirinya sambil berteriak minta tolong. Aliran darah Dodi mendidih melihat tingkah polah Rina. Sebenarnya dia ingin melepaskannya. Namun, melihat Rina berteriak seperti itu membuat dirinya mengejar Rina. Rina berlari sekuat tenaganya agar tak dapat dikejar Dodi.
Dodi dapat merangkul tubuhnya. Mereka jatuh bergulingan. Ketika mereka berhenti dari bergulingan. Rina kesesakan dan sulit bernapas, karena tubuhnya ditindih oleh Dodi. Mata mereka beradu pandang.
“Bangsat jahanam! Sebenarnya apa sih yang ingin kamu lakukan padaku? Ingin memperkosaku ya? Ingin merenggut kehormatanku? Lakukanlah. Kalau memang napsumu jadi binatang. Agar dengan begitu aku jadi sadar. Tak mungkin, Dod. Malahan kamu akan mendekam di penjara bertahun-tahun. Kalau ini kulaporkan pada polisi,” seru Rina tersengal-sengal.
“Bagus. Kamu ingin direnggut kehormatannya. Rina, aku rela masuk penjara bertahun-tahun asalkan dapat mencicipi kehangatan tubuhmu. Kamu akan dapat malu sebanyak-banyaknya. Biarlah. Mungkin ini bisa dijadikan pelajaran untukmu kenang sampai akhir hayat,” balas Dodi memperkencang pelukannya. Tangan kanannya perlahan membuka kancing kemeja Rina.
“Aukh… Kurang ajar kamu, Dod. Rupanya benar kamu ingin memperkosaku. Yaa Rabbi, selamatkan aku dari kebejatan moral Dodi,” pekik Rina.
Dia berusaha sekuat tenaga melepaskan tindihan dan pelukan Dodi. Dia tak bisa. Akhirnya dia lemas sendiri.
Rina mulai menyadari kekeliruannya. Diiringi tangisan dan suara memelas dia memohon.
“Dod, aku mohon jangan kamu lakukan perbuatan ini. Aku insaf sekarang. Aku tak akan menyakitimu lagi.”
“Tak bisa. Aku tetap melakukannya,” pertegas Dodi tak tergoyahkan dengan tangisan Rina.
Begitu beraninya tangan Dodi membelai pipi lembut Rina. Tanpa terkontrol saraf otaknya menyuruh dia melakukan ciuman lembut ke bibir Rina yang merah bagaikan delima merekah. Rina tersentak mendapatkan kehangatan di bibirnya.
“Inilah pelajaran yang akan kamu ingat sampai akhir hayatmu,” ulang Dodi mencium bibir Rina kedua kalinya.
Rina tersengat kalajengking lagi untuk kedua kalinya. Merasa tak mampu melihat kengerian apalagi yang diciptakan Dodi. Akhirnya Rina pingsan.
Ah, gadis ini tak bergerak lagi. Pasti dia telah pingsan. Gawat…., lirih kalbu Dodi.
Dia merenggangkan pelukannya yang sungguh terlalu kencang. Dia jadi ketakutan sendiri melihat Rina tak sadarkan diri.
Masya Allah! Aku telah lancang memeluk dan mengecup bibirnya yang lembut sampai dua kali. Bahkan tanganku beberapa kali mencolet dan membelai pipi mungilnya. Yaa Rabbi, maafkanlah dosa hambamu ini. Apa yang harus aku lakukan? Oh ya, aku ada ide. Diakan hanya pingsan. Sebaiknya aku antar cepat dia ke rumahnya sebelum urusannya tambah kapiran lagi, kalbu Dodi berkicau.
Dodi mengangkat Rina ke dalam bopongannya. Lalu dia menaikkan Rina ke atas sepeda motor. Dia mengambil tas Rina yang sempat terjatuh. Dodi melaju dengan sepeda motornya membawa Rina yang masih pingsan ke istana mahligainya.
Diparkirkannya sepeda motor di halaman depan rumah Rina. Lalu dia membopong Rina menghampiri rumah itu. Dodi mengetuk pintu rumah. Tak kelupaan dia mengucapkan salam. Si pemilik rumah membuka pintu dan memunculkan dirinya. Dia adalah ayah dan ibu Rina yang gelisah menantikan anaknya pulang. Mereka terkejut melihat anaknya tak bergerak dalam bopongan si pemuda.
“Apa yang telah terjadi dengan anak kami, Nak?” tanya ibu Rina.
“Anak ibu tak apa-apa. Dia cuma pingsan,” jawab Dodi.
“Pingsan karena apa, Nak?” balik ayah Rina angkat bicara.
“Tak tahu, Pak! Aku menemukannya tergeletak pingsan di taman pelataran kampus,” sahut si pemuda.
“Oh begitu. Mengapa pipimu biru? Kamu berkelahi ya? Atau mungkin kamu berkelahi demi anak kami,” kata si ibu.
“Tidak, Bu. Ini hanya bekas tamparan sahabatku saat bergurau di kampus tadi,” kilah Dodi.
“Syukurlah, Nak kalau begitu. Ibu sungguh percaya dengan perkataanmu. Ibu dapat melihat kejujuran itu dari tatapan matamu dan logat bicaramu. Ibu lihat apa yang kamu katakan adalah kebenaran. Oh ya, Nak….? Sebaiknya tolong kamu bawakan anak kami ke kamarnya. Baringkanlah dia di sana. Karena untuk mengangkatnya, kami tak mampu.,” pinta ibu ramahnya.
“Tapi, Bu. Aku merasa tak pantas memasuki rumah semewah ini,” sahut Dodi.
“Sudahlah, Nak. Kamu tak usah segan-segan. Anggaplah kamu memasuki rumah sahabatmu,” kata ibu.
Dodi mengantarkan Rina ke kamarnya. Rina dibaringkannya. Dia tersenyum kecil saat matanya melihat fotonya bersama Rina dan Bapak Kepala Sekolah waktu di SMA. Dodi pamit pulang. Dia meninggalkan kamar Rina. Dia mengentikan langkahnya waktu ibu Rina memanggilnya.
“Nak, apakah kamu tak bisa berhenti sejenak untuk berbicara dengan kami.”
“Maaf, Bu. Aku harus cepat pulang. Kalau aku terlambat pulang, ibuku akan beranggapan dan mengkhawatirkanku,” sahut Dodi ramah dan lemah lembutnya.
“Terima kasih banyak, Nak atas pertolongan yang diberikan,” kata ayah Rina.
“Sama-sama, Pak. Tolong-menolong adalah sudah kewajiban kita sebagai mahluk Allah. Aku mohon diri Pak dan Bu. Assalamualaikum,” sahut Dodi.
“Waalaikumsalam wr.wb.,” jawab mereka berdua. Mereka mengantarkan si pemuda depan rumah. Dodi menghilang dari rumah itu. Dia tak menyangka bahwa orang tua Rina baik hati dan ramah.
Dia masih menaruh dendam padaku. Sampai-sampai kekesalannya, dia lampiaskan dalam bentuk tulisan di fotoku waktu bersama dengannya dan Kepala Sekolah semasa di SMA. Aku percaya. Suatu saat Rina akan sadar dengan salah kaprahnya, lirih kalbunya berlenggang santai.
Di rumahnya. Telah menunggu ibunya dengan perasaan was-was. Dia masuk dengan sambutan hangat dari ibunya. Penuh kasih sayang. Si ibu jadi terkejut melihat muka anaknya yang biru lebam.
“Kamu habis berkelahi ya, Nak?” tanya ibunya.
“Iya, Bu. Tapi mereka yang memulainya dan memaksaku,” jawab Dodi.
“Lain kali jangan berkelahi ya, Nak. Walau mereka memaksamu. Kamu harus mampu mengendalikan perasaanmu. Ibu lihat kamu keletihan. Sebaiknya kamu istirahat,” kata ibunya.
“Baik, Bu atas pengertiannya,” sahut Dodi. Tangan ibunya diciumnya. Dia melepaskan letihnya di kamarnya.
Ibu Rina duduk dekat anak gadisnya. Menunggu anaknya siuman.
“Lepaskanku, Dod. Jangan kamu melakukan perbuatan itu. Aku berjanji tak akan pernah menyakitimu lagi,” gigau Rina. Tersentaklah ibunya mendengarkan kata-kata yang diucapkan anak gadisnya.
“Sadar, Nak. Ini ibumu. Kamu sudah berada di rumah,” ujar ibunya memegang pipi anak gadisnya. Tangannya terus saja memakaikan kompres di kening anak gadisnya yang sungguh dia cintai.
Rina siuman dari pingsannya. Dia memeluk ibunya. Dia menangis sesengukan.
“Ibu, pemuda itu telah memperkosaku. Hatinya sungguh busuk Lihatlah tandanya, bajuku dirobeknya sana-sini,” kata Rina masih menangis sesengukan.
Ibunya terkejut setengah mati. Hampir saja dia pingsan mendengarkan kata anak gadisnya. Tapi dia masih bisa menguatkan hatinya. Dilihatnya tanda yang dikatakan anak gadisnya. Nyatanya, apa yang dikatakan anak gadisnya bertolak belakang dengan hal sebenarnya. Baju anak gadisnya utuh sediakala, tak ada robekan.
“Apakah kamu tak berbohong, Nak?”
“Tidak, Bu. Cobalah ibu lihat.”
“Ibu lihat bajumu tak ada yang robek sedikitpun. Atau jangan kamu hanya meracau tak juntrungan?” tanya ibunya untuk memastikan.
Rina tak percaya dengan apa yang diucapkan ibunya. Dia melihat bajunya. Tak ada yang robek. Jadi benar apa yang diucapkan ibunya.
Berarti dia tak memperkosaku. Alhamdulillah. Namun aku belum percaya begitu saja. Sebaiknya aku tanyakan hal ini pada dokter spesialis. Apakah aku sudah diapa-apakan olehnya atau tidak? Oh ya, kalau dia melakukan hal itu, pasti saat ini alat kelaminku terasa sakit. Dadaku pasti membekas gambar-gambar tangannya waktu dia leluasanya membelai buah pepayaku. Atau bisa jadi kecupan bibirnya masih membekas di belahan atau pada daging empuk buah pepayaku saat pingsan. Akan aku lihat nantinya, geram lirih kalbunya bersenandung.
“Nak, ibu melihat kamu nampak letih. Sekarang kamu istirahat saja. Ibu bersyukur kamu sudah siuman,” kata ibunya.
“Kamu beruntung, Nak. Kamu mujur. Karena kamu pulang diantarkan oleh pemuda yang baik hati. Dia juga yang membaringkan kamu di kamar. Semuanya itu atas persetujuan dari ibu dan ayahmu,” komentar ibunya.
“Bagaimana ciri-ciri pemuda itu, Bu?” tanya Rina.
“Kamu menanyakan ciri-ciri pemuda itu, Nak! Baiklah, ibu akan menjelaskannya. Orangnya sedikit pemalu, mempunyai senyum yang manis, dan postur tubuhnya tidak terlalu kurus dan tidak terlalu gemuk alias sedang-sedang saja,” tutur ibunya.
”Ah…, dia! Aku tak percaya semuanya ini. Kalau memang dialah orangnya, Bu!” Rina terkejut.
”Kamu mengenal pemuda itu, Nak! Syukurlah. Kalau memang kamu mengenalnya. Tapi ibu masih ragu dengan kejujuranmu. Kamu jawablah pertanyaan ibumu ini dengan jujur. Apakah mungkin pemuda itu ada kaitannya dengan kejadian yang kamu alami, Nak?” ujar ibunya.
“Tidak ada, Bu! Dia tak ada hubungan dengan peristiwa yang aku alami. Aku terkejut karena dia adalah orang yang selama ini aku benci mau menolongku. Sungguh baik hatinya, Bu! Cuma aku saja yang salah menilainya,” kilah Rina menutupi masalahnya supaya tak diketahui ibunya.
“Oh… begitu. Syukurlah, Nak! Ibu baru mengerti. Yang masih jadi tanda tanya dalam hati ibu. Pada waktu kamu belum siuman, kamu menyebutkan nama “Dod”. Apakah dia yang melakukan hal ini, Nak?” tanya ibunya.
“Tidak, Bu! Mungkin mulutku terlalu meracau. Sehingga menyebutkan nama seseorang yang tak ada kaitannya dalam hal ini,” jelas Rina.
“Bagus, kalau begitu, Nak! Kalau memang kamu meracau. Lain kali jangan menyebutkan nama orang sembarangan, walau secara refleks. Nanti orangnya akan marah. Lain kali jangan membuat ayah dan ibumu cemas menunggu, iya Nak?”
“Baik, Bu. Rina berjanji tak akan mengulangi perbuatan itu lagi.”
“Begitu baru anaknya, Ibu. Baiklah, Nak! Ibu kembali ke kamar ayahmu. Mungkin ayahmu sudah lama menunggu. Cepatlah kamu tidur. Supaya besok pagi merasa segar bugar kembali. Selamat malam, Nak!”
Ibunya mencium kening anak gadisnya kemudian dia berlalu pergi meninggalkan kamar putrinya.
Rina mengunci pintu kamarnya. Dia duduk termenung sebentar di ranjangnya. Perlahan-lahan dia membuka kancing bajunya. Melihat buah pepayanya. Apakah sudah disentuh atau dijamah oleh Dodi?
Setelah melihat ada bekas gambaran tangan atau kecupan bibir Dodi. Rina merasa lega. Tapi, dia masih belum percaya bahwa dia tak diapa-apakan Dodi.
Aku emang tak diapa-apakannya. Buah pepayaku memang tetap utuh.Jangan-jangan dia sudah menjamahnya pakai pelindung tangannya. Mungkin saja! Tapi...? Aku merasa tak mungkin dia melakukan hal serendah ini. Kalau memang benar begitu. Berarti yang dilakukannya hanya menakut-nakutiku. Mengapa dia yang mengantarkanku pulang? Malahan dia juga membaringkanku di tempat tidur. Pasti aku sudah diapa-apakannya. Bangsat jahanam kamu, Dod! Semua yang kamu lakukan hanya untuk menarik perhatian ayah dan ibuku bahwa seolah-olah bukan kamu yang melakukannya. Aku ingat sekarang! Dia memang benar melakukannya. Setelah dia terlebih dahulu mengucapkan bahwa dia akan memberikan pelajaran untuk kuingat sampai mati. Di situlah dia mengecup bibirku dengan lembut sampai dua kali. Aku tersentak merasakan kehangatan dan kenikmatan di bibirku yang selama ini belum pernah aku rasakan. Apa hubungan ciumannya dengan pelajarannya yang akan aku ingat sampai mati. Nah, aku baru ngerti sekarang bahwa Dodi tak mau melakukan perbuatan serendah itu. Karena, Dodi aku kenal alim dan mempunyai imam yang teguh. Jadi, semua perbuatannya hanyalah sebuah kepura-puraan. Ohoi…. Hebat juga permainanmu itu, Dod,” desah hati Rina.
~&&&~

“Bangun, Rina! Hari sudah siang,” kata ibunya.
“Ah….ibu! Inikan hari minggu,” jawab Rina.
“Iya, memang hari ini adalah hari minggu. Namun, kamu harus membiasakan diri bangun pagi. Tak baik anak gadis bangunnya tinggi hari. Sekarang cucilah mukamu dan mandilah. Setelah itu temui ibu di ruang makan. Kita akan makan pagi bersama ayahmu dan dua adikmu serta ibumu ini,” kata ibunya lalu berlalu dari kamar putrinya.
“Malas, ah,” ujar Rina menarik selimutnya.
Karena ingat suatu hal. Rina bergegas bangun. Dia menuju kamar mandi untuk membasuh mukanya mandi pagi. Setelah mandi pagi dia menuju kamarnya.
Ia berpakaian yang rapi. Ia menemui ibunya di ruang makan. Benar kata ibunya bahwa di sudah ditunggu ayahnya, dua orang adiknya. Rina duduk di kursi yang telah disediakan. Mereka makan pagi bersama-sama dalam suasana yang tertib. Selesai makan pagi, Rina pamit pada ayah dan ibunya.
“Mau kemana lagi, Rina? Kok, buru-buru kali!” tanya ibunya yang sangat menyayanginya.
”Mau ke supermarket, Bu! Aku ingin membeli barang di sana,” jawab Rina.
”Daa….ayah, daa…ibu,” ujar Rina beranjak keluar rumah. Ia mengambil sepeda motornya.
Rina anggun hari ini dengan memakai blue jeans dan rompi, serta topi. Dia meninggalkan rumahnya menuju supermarket.
Dodi baru bangun pagi. Di depan pintu kamarnya, dia dihadang oleh ibunya. Si ibu memperhatikan lekat-lekat wajah anak tunggalnya. Ibunya tersenyum kecil melihat bibir anaknya ditempeli lipstik merah. Ibunya menghampiri anaknya. Dodi tertegun sejenak. Ia menegur ibunya.
”Bu, mengapa memandangku seperti ini? Mengapa ibu tersenyum kecil memandangku? Apakah ada hal aneh yang terdapat padaku?” tanya Dodi tak mengerti.
”Anakku, kamu belum tahu ya bahwa ada hal ganjil padamu. Coba kamu lihat keganjilan itu di depan kaca.”
“Apakah ibu bergurau padaku?”
“Tidak, Nak! Ibu tak pernah bergurau ataupun bercanda denganmu,” tegas ibunya.
”Baiklah, Bu! Aku akan menuruti apa yang dikatakan ibu barusan.”
Dodi menuju kaca yang berada dalam kamarnya. Ibunya mengikuti anaknya dari belakang. Dodi memperhatikan keganjilan yang terdapat padanya. Dodi terkejut sangat. Dia melihat ada lipstik merah yang melekat di bibirnya.
Ini yang jadi penyebabnya, ucap lirih kalbu Dodi.
”Sudah kamu lihat, Nak?”
“Sudah, Bu!”
“Itu gincu bibir siapa yang melekat di bibirmu?”
“Oh yang ini, Bu. Ini adalah gincu yang ditempelkan teman-teman Dodi waktu bergurau di kampus, Bu!”
“Jangan bohong, Nak! Katakan saja terus terang dan apa adanya. Mana mungkin teman-temanmu yang laki-laki membawa gincu. Gincu adalah Benda biasa dibawa oleh seorang gadis. Ibu tahu bahwa kamu berbohong. Kalau ingin jadi anak ibu, berkatalah sejujurnya,” ujar ibunya lunak.
Mendengar perkataan ibunya dan dituntut untuk berkata jujur. Dodi berterus terang.
“Ini sebenarnya bekas lipstik bibir seorang gadis, Bu!” jelas Dodi ketakutan. Ia takut ibunya akan memarahinya. Sebab, dia telah berani mengganggu anak gadis orang bahkan menciumnya.
“Lipstik bibir seorang gadis? Jadi kamu telah menciumnya, Nak! Mengapa sampai terjadi begitu? Coba kamu jelaskan pada ibumu dan hal itu kamu lakukan secara sengaja atau tidak?”
“Iya, Bu. Hal itu aku lakukan secara tak sengaja. Begini Bu jalan ceritanya sampai aku melakukan hal itu.”
“Gadis itu bersama anak buahnya menghampiriku,” kata Dodi memulai penuturannya. Dodi rentet menceritakan kejadian itu sedetail-detailnya tanpa ada ditambahnya.
“Jadi, begitu jalan ceritanya, Nak! Kini ibu bisa maklum. Mengapa kamu melakukan perbuatan itu? Ibu bangga padamu, Nak! Namun, ibu pesan padamu, Jangan mengulangi perbuatan itu lagi, walau itu hanya kepura-puraan. Bagi gadis itu, apa yang kamu lakukan adalah kebenaran. Dia berasumsi bahwa kamu adalah seorang pemuda bermoral bejat. Kamu mengecup bibir gadis itu di luar syaraf sadarmu atau dilakukan tak sengaja. Ibu bisa saja memaafkanmu,” jelas ibunya mengusap kepala anak tunggalnya dengan penuh kasih sayang.
“Jadi ibu tidak marah padaku?” tanya Dodi.
”Tidak, Nak,” jawab ibunya.
”Terima kasih banyak, Bu! Ibu baik hati sekali.” Dodi ingin mencium pipi ibunya.
”Jangan dulu, Nak! Nanti lipstiknya menempel di pipi ibumu. Sebaiknya bersihkan dulu lipstik itu. Barulah kamu boleh mencium pipi ibumu.”
“Ah…., hampir saja aku lupa, kalau ibu tak memberitahukannya. Aku gembira hari ini. Karena ibu tak memarahiku.”
Dodi membersihkan lipstik merah yang melekat di bibirnya. Barulah dia dapat mencium pipi ibunya sebagai rasa tanda terima kasihnya.
“Oh…ya, Nak! Ibu sampai lupa. Siapa nama gadis itu?” tanya ibunya.
“Namanya adalah Rina Ermy Maruli,” jawab Dodi.
“Nama yang bagus sekali,” puji ibunya.
“Nak, hari inikan adalah hari minggu. Coba kamu ke supermarket membeli barang-barang keperluan kita. Karena, di supermarketkan menyediakan semua barang-barang yang kita butuhkan.”
“Baik, Bu!. Tapi, bolehkah aku mampir sebentar ke toko buku? Membeli buku-buku baru sebagai ganti buku-bukuku yang telah disobek mereka.
“Boleh saja, Nak! Jangan lama-lama dan lekas pulang.”
“Iya, Bu. Dodi mandi dulu. Selesai mandi baru berpakaian yang rapi dan pantas. Selanjutnya sarapan pagi dulu. Barulah pergi ke supermarket.” Dodi beranjak pergi.
~&&&~

Di supermarket. Ramai sekali orang yang berbelanja. Maklumlah hari minggu. Dodi mencari barang-barang yang dibelinya.
Ketika dia asyik mencari barang yang dibelinya. Matanya tak sengaja melihat Rina. Rina yang mempunyai sifat sombong, selalu mengganggunya. Dia pernah menakuti Rina dengan sebuah permainan. Dodi bergegas mencari barang-barang yang dibelinya. Semua barangnya terkumpul. Dodi tergesa-gesa menuju kasir sembari dia menghindar dari Rina agar tak diketahui. Kalau Rinaa melihatnya, bisa berabe urusannya nanti.
Selesai membayar barang yang dibelinya. Dodi meninggalkan supermarket. Ketika itulah Rina melihatnya. Rina mengejarnya. Tetapi Dodi telah menghilang masuk angkutan umum.
Dalam hatinya mengeluh, mengapa Dodi menghindar dariku pada hari ini? Mungkinkah Dodi masih teringat pada peristiwa itu. Membuat Dodi malu untuk berjumpa denganku. Tunggu saja, Dod! Aku akan membuatmu masuk dalam perangkap permainanku. Permainan yang akan aku mainkan ini adalah balasan dari permainanmu.
Di toko Buku Martawarta Dodi membeli buku-buku sebagai ganti buku-bukunya yang dirobek Joni dan teman-temannya. Sebentar Dodi keluar dari Toko Buku Martawarta. Dodi telah naik angkutan umum yang menuju rumahnya.
~&&&~

“Ini, Bu, barang-barang yang disuruh untuk dibeli. Ini uang kembaliannya,” kata Dodi menyerahkan sisa uang. Ibunya menerima uang kembalian belanja. Barang-barang itu lalu dibawa ke dapur.
Aku merasa malu berjumpa Rina Ermy Maruli. Karena aku merasa bersalah padanya. Peristiwa itu seakan tak pernah aku lupakan, desah kalbunya berkicau.
Rina meletakkan barang-barang yang dibelinya. Ia merasa amat letih. Dihempaskannya tubuhnya di kasur empuk dan lembut.
Kayaknya dia berpikir.
Sungguh aneh pembawaan Dodi. Tadi berjumpa denganku di supermarket, mengapa ia menghindar dariku. Malahan dia tak ingin berjumpa denganku dalam waktu apa saja. Apakah dia masih ingat dengan peristiwa itu? Mungkin saja. Itulah yang menjadi pendorongnya malu bersua denganku. Mungkin dia merasa bersalah padaku. Mungkin dia menyangka bahwa aku masih marah padanya. Barulah aku mengerti masalahnya. Mengapa sekarang aku mulai mengenangnya? Mungkinkah aku mulai jatuh cinta padanya? Tak mungkinlah, aku jatuh cinta pada anak gembel dan kere seperti ia. Tak selevellah. Mengapa aku menganggap lain terhadapnya? Mungkin dianya adalah orang yang baik hati, ramah tamah, dan yang lainnya. Aku tak tahu pasti.
~&&&~

0 komentar: