Minggu, 07 Oktober 2007

Antara Cinta dan Harga Diri

Bagian Kedua
Ketegaran Cinta
Oleh: M. Saifun Salakim

Rina asyik duduk di kursi belajarnya. Matanya menatap lurus foto di depannya. Kata-kata yang memang ditulisnya di foto, dihapusnya. Sekali lagi foto dipandanginya. Hatinya lirih bersiul-siul.
Kamu sungguh tampan dan ganteng, Dod. Barulah aku sadari. Coba dari dulu aku merasakan itu. Pasti aku sudah merangkum cinta kasihmu dalam hati. Dulu aku sungguh egois dan memandang rendahmu. Sehingga aku dengan mudah menyakiti dan bahkan menghinamu. Tapi kamu selalu tegar dan tabah menjalaninya. Sekarang aku sungguh menyesal melakukan perbuatan yang dulu.
Merasa letih berkhayal dan melamun. Rina merebahkan tubuhnya lalu tertidur pulas.
Dodi Sumanjaya susah memejamkan matanya. Pikirannya amat rumit memikirkan hal-hal yang dialaminya. Dia dapat pula memejamkan matanya. Sebab pikirannya sudah tak mampu memikirkan hal-hal itu.
Pagi hari masing-masing mereka kuliah. Saat belajar Dodi tak melihat Joni yang dipukulnya. Hatinya bertanya-tanya mengenai itu. Namun hal itu dipendamnya dulu.
Duduk di depan Dodi adalah Rina bersama dengan sahabatnya Sumanti Malohan. Rina terlihat agak berkurang kelakuan buruknya. Semua mahasiswa atau mahasiswi di situ tak mengetahuinya. Sebab musabab Rina mulai mengurangi kelakuan buruknya.
Di perkuliahan sering Rina curi pandang menatap Dodi. Yang dipandang diam saja. Perkuliahan usai. Semua mahasiswa atau mahasiswi meninggalkan ruangan perkuliahan. Dodi berjalan sendirian. Di belakangnya Rina menguntitnya dengan jarak tak terlalu dekat. Dodi menghilang dari pandangan matanya. Rina hanya menghela napas sesak.
Hari demi hari dilalui Rina dengan tersenyum saja bila dia menatap wajah Dodi yang kini mulai mengisi ruang kosong dalam hatinya. Dodi telah menyadarkannya dari perbuatan yang keliru. Mengapa Dodi tak mau tahu- menahu dengan apa yang kini dirasakannya? Mengapa Dodi tak mau peduli dengan maunya? Mengapa Dodi tak mengerti isyarat ganjil yang ditunjukkannya? Membuat Rina blingsatan dan penasaran.
Rina masih merasa malu berterus terang pada Dodi bahwa dia cinta berat pada Dodi.
Wah, omongannya dulu telah dibalikkan fakta yang dialaminya sekarang.
Dia wanita. Yang memiliki seribu mau dalam seribu malu.
Sanggupkah dia dalam keterpakuan memendam hasratnya di dada?
Makin kuat dia bertahan untuk membendungnya makin kuat pula dorongan itu membuat sesak dan tersiksa hatinya. Sesak yang memenuhi rongga jiwanya. Sungguh hebat racun cinta merasuki sukmanya hingga membuatnya tersiksa.
Lamban laun Rina memberanikan diri untuk berterus terang pada Dodi bahwa dia sungguh tulus mencintai Dodi.
Suatu saat mereka asyik belajar. Rina terus memandang ke belakang menatap wajah Dodi. Dodi tetap tenang mendengarkan penjelasan dosennya. Ketika matanya membentur mata bening Rina. Rina mengedipkan matanya dan tersenyum manis. Dodi mendelikkan matanya tak percaya. Dia tersenyum juga membalas senyuman itu.
Jangan-jangan Rina ada maunya denganku. Gawat. Matilah aku. Kalau sekiranya betul-betul dia ada maunya denganku. Aku pikir, dia tak mungkinlah mau denganku. Akukan anak kere dan orang yang pernah membuatnya marah. Mengapa dia tak marah lagi padaku? Ah, bodoh amat memikirkannya, desau Dodi bernyanyi sendu.
Dodi berusaha agar matanya tak berbenturan lagi dengan mata bening, Rina.
Ah, dia belum mengerti isyaratku. Coba jalan lain deh, desah hati Rina merintih pelan.
Ia mencabik sedikit bukunya lalu ditulisinya. Kemudian cabikan itu diberikannya pada Sumanti Malohan.
“Sum, tolong kamu berikan carikan kertas ini pada Dodi,” ujar Rina tersenyum simpuh.
“Apa isinya, Rin. Boleh tahu nih?” geledek Sumanti Malohan.
“Tidak boleh dong. Mau tahu rahasia orang saja.”
“Oke deh, Rin. Aku tahu kamu mulai menyukai Dodi. Mengapa baru sekarang? Coba dari dulu kek. Sekarang, mungkinkah dia mau menerima maumu,” kata Sumanti Malohan bercanda. Ia mengambil carikan kertas itu.
“Kita usaha dulu, Sum. Semoga saja berhasil.”
“Baiklah, Rin. Aku selalu mendukungmu,” ucap Sumanti Malohan mengulurkan carikan kertas itu pada orang di belakangnya agar dapat diberikan pada Dodi. Carikan kertas sudah sampai di tangan Dodi.
“Ketahuan kamu, Dod. Diam-diam kamu ada main dengan Rina. Aku merasa bersyukur kamu dapat berhubungan dengan Rina. Jangan-jangan kamu sudah jadi kekasihnya,” celoteh Andi.
“Ssssttttt! Jangan keras-keras ngomongnya. Nanti diketahui oleh dosen. Aku yang jadi malu. Sebenarnya aku tak ada hubungan sama dia, Ndi,” bela Dodi.
“Aku bingung, Ndi. Mengapa ya dia memberikanku secarik kertas ini? Ada apa ya dengan dia? Maunya apa ya?”
“Kalau ingin mengetahui maunya Rina padamu. Sebaiknya kamu baca saja tulisan yang diberikannya. Bereskan.”
“Benar juga katamu, Ndi. Thanks ya!”
Dodi membaca tulisan itu yang berbunyi demikian.
Abangku yang tampan, Dodi Sumanjaya. Temui aku ya di samping halaman fakultas selesai perkuliahan ini. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu. Jangan bawa teman ya?
Gadismu, Rina Ermy Maruli.
“Astaga naga, beraninya dia bicara seperti ini,” kata Dodi terkejut.
“Ada apa, Dod?” tanya Andi heran.
“Anu, Ndi. Rina bilang bahwa aku adalah abangnya yang tampan. Ia menyuruhku menemuinya di halaman samping Fakultas, karena ada hal penting yang mau dia bicarakan. Ia menuliskan gadismu sebagai penutup akhir surat. Apa tak gila namanya?”
“Itu sih bukan gila, Dod. Itu adalah kewajaran. Itu juga menunjukkan bahwa dia menyukaimu. Mungkin saja dia jatuh cinta padamu. Dia memintamu menemuinya di halaman samping fakultas karena dia ingin mengutarakan isi hatinya padamu. Penuhi saja maunya, Dod,” saran Andi.
“Tak mungkinlah, Ndi. Dianya mencintaiku, anak gembel dan kere begini. Diakan lebih tertarik dengan pemuda yang sederajat dengannya,” bantah Dodi.
“Mungkin saja, Dod. Kamu harus tahu bahwa cinta yang muncul di dunia ini tak mengenal yang namanya kaya-miskin, kasta, dan tinggi-rendah. Cinta itu asli dan murni dalam kesederhanaannya. Semua orang berhak menyintai siapa saja yang dia cintai,” komentar Andi.
“Ah, sudahlah, Ndi. Aku tak mau membicarakan hal itu lagi. Lebih baik kita pusatkan pikiran pada pelajaran yang diberikan dosen,” kelit Dodi memutuskan pembicaraan Andi yang sudah dianggapnya ngelantur jauh. Padahal tidak juga.
Perkuliahan usai. Rina keluar lebih dahulu. Dia langsung menunggu kehadiran Dodi di halaman samping fakultas. Dodi berjalan sendirian. Dia tak ingat akan menjumpai Rina. Di pintu keluar fakultas, dia berpapasan dengan Sumanti Malohan. Dia dicegat Sumanti Malohan.
“Dod, kamu mau pulang ya?”
“Iyalah, Sum, memangnya mau jogging,” jawab Dodi sekedar bergurau.
“Apakah kamu tak ingat suatu hal bahwa kamu ada janji dengan seseorang?”
Dodi berpikir sebentar. Namun tak ditemukannya jawaban dari pembicaraan Sumanti Malohan.
“Tidak ingat, Sum. Betul-betul tak ingat. Janji dengan siapa ya?”
“Kamu pelupa atau memang dilupakan, Dod. Okelah Dod, aku akan mengingatkanmu. Dod, kamukan harus menemui seorang gadis di halaman samping fakultas. Dia sudah menunggumu sedari tadi.”
“Oh? Ya…… Ya…… sekarang aku ingat. Bahwasannya aku harus menemui Rina. Dia yang memintaku. Sebenarnya apa maunya ya, Sum?”
“Mana aku tahu, Dod. Tanyakan saja langsung padanya. Dod, maaf ya ditinggal pergi dulu. Selamat tinggal,” kata Sumanti Malohan meninggalkan Dodi.
Dodi nampak ragu-ragu sejenak. Apakah dia menemui Rina atau pulang saja? Akhirnya dia mengambil keputusan bulat menemui Rina. Apa salahnya mengetahui apa yang ingin dibicarakan Rina.
Rina gembira dengan munculnya Dodi yang ditunggunya. Dodi duduk di samping Rina. Dodi berkicau seperti burung Murai.
“Rina, maaf ya aku tak bisa lama-lama di sini. Cepatlah kamu katakan hal yang ingin kamu bicarakan itu.”
“Jangan terburu-buru dulu, Dod. Tenang saja dulu,” kata Rina menggeser duduknya lebih dekat.
“Dod, aku mau minta maaf padamu. Selama ini aku telah banyak menyakiti hatimu. Baru aku sadari apa yang aku lakukan itu adalah salah.”
“Cuma itu saja yang ingin kamu bicarakan, Rina. Mengapa jauh-jauh ke sini? Di ruang perkuliahan saja bisa kamu katakan. Rina, aku beritahu ya bahwa sudah lama aku memaafkan kesalahan yang kamu lakukan padaku.”
“Terima kasih, Dod. Kamu memang orang pemaaf dan baik hati. Dod, sebenarnya bukan itu saja yang ingin aku bicarakan padamu. Sebenarnya hal yang akan aku bicarakan ini sungguh esensial. Tidak boleh didengar orang lain. Kita saja berdua yang mendengar dan mengetahuinya. Aku akan berbicara jujur padamu. Aku baru mengerti dari perkataanmu tempo dulu bahwa harta kekayaan bukanlah segala-galanya bagi kita. Itu benar sekali. Setelah aku mendapatkan pelajaran berharga darimu yang dapat menggugah hatiku. Bahwa apa yang aku lakukan adalah kesalahan. Aku pun sudah memahami betapa mulia arti sebuah kebaikan, terutama kebaikan yang kamu berikan padaku. Hingga menimbulkan sesuatu yang berharga dalam hatiku. Yang menimbulkan perasaan bahagia. Biar tetap lengket denganmu. Aku akan mengungkapkan hal itu. Walau sungguh naif bagiku untuk memulainya. Dod, aku mencintaimu,” ucap Rina berbinar-binar.
Dia menyandarkan kepalanya ke bahu Dodi Sumanjaya dan tangannya memeluk erat pinggang Dodi. Dodi menjauhkan kepala dan melepaskan tangan Rina dari tubuhnya.
“Rina, apakah yang aku dengar ini benar adanya?”
“Benar, Dod,” jawab Rina mantap dengan masih menahan rasa malunya, karena Dodi menjauhkan kepala dan tangannya. Dodi tertawa kecil.
“Rina……? Rina……?”
“Ada apa, Dod? Kok kamu tertawa? Apanya yang lucu?”
“Rina, apa kamu tidak sadar bahwa aku tak mungkin menerima cintamu. Karena aku tak pernah melupakan penghinaanmu yang menyakitkan itu. Aku tahu diri, Rina. Aku punya harga diri yang nilainya lebih mahal dari semua yang ada. Aku beritahukan padamu agar kamu mengerti. Lebih baik kamu urungkan saja niatmu padaku. Aku tak cocok untuk kamu cintai. Karena aku tak bisa mengorbankan harga diriku,” jelas Dodi berdiri.
“Katanya kamu sudah memaafkan kesalahanku.”
“Iya, memang aku sudah memaafkan kesalahanmu. Tapi untuk penghinaanmu belum bisa aku maafkan.”
“Oh begitu, Dod. Kamu masih mengingat peristiwa itu. Okelah Dod, kalau kamu memang mengatakan tak cinta padaku. Itu mulutmu yang berbicara, tapi apakah hatimu dapat ditipu. Dari hatimu mengatakan bahwa hatimu mencintaiku. Tanyakanlah hatimu, kalau kamu ingin tahu kebenarannya. Apakah kamu dapat mungkir, Dod?” kata Rina memojokkannya.
Dodi hanya terdiam. Dia tak berkomentar. Apa yang dikatakan Rina adalah benar. Sebenarnya dia menyintai Rina. Cuma dia masih meninggikan harga dirinya. Masih gengsi.
“Kalau kamu tak cinta padaku. Mengapa kamu selalu menolongku? Mengapa kamu letih-letih menyadarkanku dari berbuat kesalahan? Mengapa bibirmu mencium bibirku lalu kamu mengucapkan kata untuk memberikan pelajaran padaku agar selalu aku ingat sampai mati seperti ini,” lanjut Rina. Beraninya dia mencium bibir Dodi penuh kemesraan yang meletup dan geregetan. Emosian nih.
Dodi menolak tubuh Rina. Rina jatuh terjerembab. Berkelukuran. Sigapnya dia berdiri dan menatap Dodi dengan sorotan mata elang yang tajam menusuk.
“Cukup, Rina. Jangan kamu ulangi lagi perbuatan itu. Apakah kamu sadar telah mencium bibirku barusan? Mengapa kamu senekat itu, hah!” delik Dodi.
“Itu, aku lakukan untuk mengingatkanmu. Bahwa aku mencium bibirmu saat ini karena dilandasi cinta. Kamu menolong dan mencium bibirku waktu itu juga dilandasi cinta, bukan? Cuma kamu malu mengatakannya. Iyakan?” tantang Rina.
“Tidak. Itu, tak benar. Aku menolongmu karena rasa kasihan dan perikemanusiaan. Aku mencium bibirmu saat itu karena aku tak sadar. Puas!”
“Bohong… Kamu bohong, Dod. Mana mungkin kamu mencium bibirku tanpa sadar sedangkan matamu terbuka. Kamu hanya berdalih aja, Dod. Aku tak percaya.”
“Kalau kamu tak percaya, sudahlah. Maaf Rina, aku tak mau lagi membicarakan masalah itu. Aku katakan Rina bahwa selamanya aku tak pernah mencintaimu. Selamat tinggal Rina,” ujar Dodi berlalu pergi.
“Tunggu dulu, Dod. Aku belum selesai membicarakan masalah ini,” seru Rina meradang. Dodi tak mempedulikannya. Terus saja dia berjalan.
“Dod, tunggu!” kejarnya.
Dodi malah mempercepat langkahnya agar tak terkejar Rina.
“Kurang ajar kamu Dod! Munafik……! Bangsat……! Mulutmu hipokrit! Jahanam…! Ular Beludak…!” pekik Rina menangis sepuas hatinya. Menumpahkan kekesalannya karena Dodi tak mau berterus terang dan berkata jujur.
Di rumah dia ditunggu ibunya. Sudah gelisah menunggunya sedari pukul 14.00 WIB. Sampai pukul 16.00 WIB. Hati ibunya kebat-kebit. Apalagi saat muncul anaknya penuh kemurungan.
“Nak, mengapa kamu datangnya loyo? Kok lama datangnya? Kamu sakit ya?”
“Tidak kok, Bu.”
“Kamu darimana, Nak?”
“Dari refreshing bersama teman, Bu. Maaf ya, Bu, agak telat pulangnya,” kata Rina menuju kamarnya.
“Tunggu, Nak,” Cegah ibunya. Rina menghentikan langkahnya.
“Mengapa matamu merah? Menangis ya?” tanya ibunya.
“Tidak Bu cuma kelilipan saja.”
“Kelilipan apa? Merahnya matamu kelihatan. Kamu ada masalah ya sampai menangis begini? Ada masalah berat ya hingga membuatmu menangis?”
“Tidak, Bu. Sudah dulu ya, Bu. Rina letih. Rina mau rehat dulu,” putus Rina pada pembicaraan ibunya.
Dihempaskan tubuhnya yang capek di kasur empuk. Dia kecewa berat hari ini. Karena Dodi tak mau menerima cintanya. Padahal Rina sungguh tulus mencintai Dodi. Apakah dia yang bersalah? Terlalu kemarukkah? Tak tahulah…
Dod, hari ini mungkin aku belum dapat merebut hatimu. Lain kali kita lihat saja. Aku akan mampu merebut hatimu sekaligus jantungmu. Walaupun hatimu sekeras batu marmer akan aku runtuhkan. Sekeras-kerasnya batu akan luluh apabila dilubangi dengan alat secara perlahan-lahan dan telaten. Begitu juga hatimu akan aku taklukan dengan kelembutan dan kesabaran.
Dodi merenungi perbuatan yang barusan dia lakukan pada Rina.
Aku mungkin telah menyakiti hati Rina. Apa boleh buat dia yang terlalu keras kepala. Ih, aku jadi ngeri dengan keberaniannya yang nekat itu. Bisa-bisa aku “ditelanjanginya”. Wah, sungguh gawat. Buktinya dia sudah berani mencium bibirku dengan beraninya. Apa itu tak nekat namanya? Rina… Rina… seperti apa hatimu hingga mau melakukan hal begitu. Tak malukah dia dengan dirinya sendiri? Mau-maunya melakukan itu. Ah, sudahlah buat apa dipikirkan.
Hari-hari yang dilalui Rina Ermy Maruli tak ceria seperti dulu. Dia kebanyakan melamun dan menyendiri. Sumanti Malohan jadi prihatin melihat perubahan pada diri sahabatnya.
“Rina, kamu nampak murung akhir-akhir ini. Ada masalah ya? Kalau ada masalah katakan saja. Jangan dipendam sendiri. Mudah-mudahan aku dapat membantumu menyelesaikan masalahmu,” tegur Sumanti Malohan.
“Tidak apa-apa Sum cuma mau merenungi hidup ini. Sudah baguskah jalan yang aku lalui atau malahan jelek kali ya?” jawab Rina.
“Bagus kalau begitu. Syukurlah kalau kamu tak ada masalah. Malahan kamu sudah belajar lebih dewasa. Oh ya, Rina? Bagaimana kelanjutan hubunganmu dengan Dodi. Berjalan mulus tidak?”
“Payah, Sum. Hubungannya seret-mengkeret. Jadi tambah sulit. Sulitnya meluruhkan hatinya yang keras membatu.”
“Oh begitu. Ehe……’’ tawa Sumanti Malohan halus sekecil dengingan nyamuk. Yang keluar hanya dengusan napasnya saja.
“Sekarang aku mengerti dengan lamunanmu tadi.”
“Mengerti apanya, Sum?”
“Barusan kamu sudah membohongiku. Kamu bilang kamu melamun karena tidak mempunyai masalah apa-apa. Ternyata kamu melamun karena mempunyai masalah. Masalah yang kamu lamunkan tadi adalah mengenai Dodikan? Benarkan, Rina?”
Rina hanya dapat terdiam. Karena apa yang dikatakan Sumanti Malohan benar adanya.
“Kalau kamu diam berarti bicaraku benar dong. Mengapa hal itu musti kamu rahasiakan dariku? Apakah aku sebagai temanmu tak pantas untuk mengetahui masalahmu dan membantumu?”
“Bukan begitu, Sum.”
“Jadi apa?”
“Aku cuma tak mau membebanimu. Tiap kali ada masalah selalu minta pertolonganmu. Aku jadi malu sendiri. Apakah aku sendiri tak ada keberanian untuk menyelesaikannya? Dengan alasan itulah, aku berusaha tak memberitahumu. Karena aku akan mencoba menyelesaikan masalahku sendiri.”
“Oh begitu alasanmu. Tapi Rina, setidaknya kamu mengatakan itu sebelumnya agar aku bisa mengerti.”
“Okelah, Sum. Aku minta maaf telah membuat kamu bingung.”
“Okelah Rina, maafmu aku terima. Semoga kamu berhasil menyelesaikan masalahmu.”
“Terima kasih, Sum atas supportmu.”
~oOo~

Dua bulan lagi mereka akan menyelesaikan masa perkuliahan. Caranya harus menyelesaikan tes vokal atau tes lisan, yaitu memperdebatkan hasil skripsi yang dibuat di depan penguji-penguji yang telah siap siaga. Siap adu argumentasi yang akurat. Perang urat syarat. Debat kusir. Kita sebagai penantangnya, jangan sampai kalah. Minimal seri. Jadi dari itu, kita harus mempersiapkan bekal untuk melawan mereka. Bekalnya adalah ilmu pengetahuan tentang skripsi yang kita buat. Harus memang kita kuasai dengan benar dan hapal. Hingga kita tak kelabakan memaparkannya, malahan kita akan lebih santai menjalaninya. Sebab kita sudah mengetahui semuanya. Itulah kunci yang harus kita dapatkan.
Rina sadar bahwa Dodi tak akan pernah menyintainya, karena Dodi telah mempunyai gadis pilihan hatinya, yaitu Mira Armania. Hatinya masih menyintai Dodi Sumanjaya. Dia ingin belajar menerima kenyataan itu. Tapi dia masih belum mampu.
Rina melakukan pelarian dalam bercinta. Dia menjalin cinta dengan Karmo, kawan Joni. Sebagai pelampiasan kekecewaan hatinya terhadap Dodi. Dia ingin menunjukkan pada Dodi bahwa dia dapat menyintai orang lain yang lebih mengerti maunya. Rina tak sadar akan suatu hal. Karmo mencintainya hanya untuk mengeruk kekayaannya.
Di balik tirai muslihat cinta Karmo adalah sebuah kepalsuan. Sebab ada terselip dalam niat Karmo untuk menjerumuskan Rina pada jurang kehancuran yang penuh kepekatan semata. Gelap gulita. Rencananya Rina akan dijual Karmo pada Joni yang telah mengidam-idamkannya.
Rina diajak Karmo ke diskotik. Saking cintanya. Rina menyanggupinya. Membeo saja. Secara tak kebetulan teman-teman Dodi melihat Rina bersama lelaki lain, kawan Joni. Teman Dodi kaget. Padahal yang mereka ketahui bahwa Rina menjalin hubungan dengan Dodi. Teman Dodi tak mengetahui bahwa ada keretakan hubungan antara Rina dengan temannya. Mereka merasa kasihan melihat nasib Rina. Karena teman Dodi tahu siapa Karmo yang sebenarnya. Hal itu harus diberitahukannya pada Dodi, biar Dodi tahu keadaan kekasihnya.
Dodi…… Dodi……? Semoga saja kamu tak kaget mendengar berita ini.
Parsito menyuruh Tino Sastrawan menjumpai Dodi sedangkan dia sendiri akan mengawasi gerak-geriknya Karmo dan Rina.
Tino Sastrawan sudah berada di rumah Dodi.
“Dod, gawat sekali!”
“Ada apa ? Gawat kenapa Tino?”
“Kekasihmu, Dod bersama lelaki lain di ruang diskotik.”
“Kekasihku. Kekasihku yang mana? Aku merasa, aku belum punya kekasih?”
“Kamu bergurau atau bercanda, Dod?”
“Aku tak bergurau. Benar aku belum punya kekasih.”
“Ah. Bulshit. Sudahlah Dod, takk perlu kamu berdalih dan aku tak membutuhkan argumenmu saat ini. Dengar. Kekasihmu si Rina dalam keadaan bahaya?”
“Oh… Rina! Gadis manis itu katamu kekasihku. Walah … weleh… Tino, dia dalam bahaya. Tino, kalau mengenai urusan gadis manis itu, aku tak mau ambil peduli,” tolak Dodi dengan muka cemberut. Dia mengeleng-gelengkan kepalanya memberikan kinesik menolak untuk ikut.
“Mengapa bisa jadi begini urusannya, Dod? Kami tahu, kalian sama-sama menjalin hubungan. Apakah kamu rela kekasihmu dirusak kehormatannya oleh orang lain? Dod, kami tahu siapa lelaki yang membawa Rina. Ia adalah Karmo, teman Joni. Bisa dipastikan Rina akan diserahkan Karmo pada Joni yang telah lama mengidam-idamkan Rina,” jelas Tino Sastrawan.
“Kok, bisa jadi begitu urusannya.”
“Bisa saja terjadi, Dod.”
Dodi merenung sebentar.
“Tapi Tino. Biarkanlah. Itukan urusannya, bukan urusanku. Dia sendiri yang mencari jalan itu. Biarkan dia sendiri yang merasakannya. Aku katakan padamu, Tino. Sampai saat ini, aku tak ada hubungan apa-apa dengannya,” tegas Dodi.
“Dod, aku tahu jalan pikiranmu. Walau kamu tak ada hubungan apa-apa dengan Rina. Tak salahkan kamu menolongnya. Aku pikir dia masih menyintaimu. Kamu saja yang terlalu menutup diri dan sok suci. Aku tahu semuanya ini dari Sumanti Malohan. Rina melakukan semuanya ini adalah bentuk pelariannya atas kekecewaan hatinya terhadapmu.”
“Benarkah itu, Tino?”
“Apakah aku pernah berbohong padamu?” Tino Sastrawan balik bertanya.
“Aku tahu, kamu tak berbohong, Tino. Namun, aku tetap tak mau pergi. Biarlah…… Itu urusannya.”
“Itu urusannya… Itu urusannya lagi yang kamu utarakan. Apakah urusan itu tak jadi urusanmu? Kalau sekiranya Rina hilang kehormatannya lalu bunuh diri. Apakah kamu tak menanggung deritanya? Semua ini terjadi karena dirimu, Dod! Kalau aku jadi kamu, tak akan aku biarkan hal itu sampai terjadi.” Tino Sastrawan kesal atas sikap temannya yang satu ini.
“Baiklah Dod, kalau kamu memang tak mau. Aku tak memaksamu. Yang harus kamu ingat bahwa Joni takut denganmu, Dod. Kamu diam-diam menghanyutkan,” kata Tino Sastrawan melembut dan beranjak pergi. Dodi terpaku sebentar. Dia mempertimbangkan apa yang telah disampaikan Tino Sastrawan.
“Tunggu dulu, Tino. Aku ikut denganmu. Tunggu sebentar di sini ya? Aku mau pamit dulu dengan ibu,” kata Dodi masuk rumahnya. Sebentar dia telah muncul dengan memakai baju dalam yang dilapisi baju panjang. Mereka menuju diskotik.
~oOo~

Di diskotik. Parsito terus saja memperhatikan gerak-gerik Karmo dan Rina. Mereka sedang asyik berdansa. Rina nampak gembira malam ini. Dia seakan-akan menemukan kegairahan hidupnya. Capek berdansa. Mereka duduk berduaan.
“Mo, apakah kamu benar-benar mencintaiku?” tanya Rina.
“Iya dong say. Bahkan seratus persen cintaku,” jawab Karmoa seraya tangannya membelai pipi mungil Rina. Rina diam saja.
Seorang pelayan menyodorkan dua cangkir sirup depan mereka. Kemudian pelayannya menghilang.
Tangan Karmo masih mengelus pipi mungil Rina dengan manjanya seiring bibirnya bereaksi mencium pipi Rina. Rina membiarkannya. Malahan dia membalas mencium pipi Karmo. Ketika bibir Karmo ingin mencium leher jenjangnya. Rina menghindar.
“Mo, jangan begitu ah. Malu dong dilihati orang.”
“Okelah, kalau begitu Rina.” Karmo membatalkan niatnya.
“Mari kita minum sirup dulu,” ajak Karmo.
Parsito terus saja memperhatikan ulah kedua orang itu. Waktu Rina asyik melihat orang lain berdansa. Karmo memasukkan suatu barang dalam cangkir minuman Rina. Itu tak disadari Rina bahwa Karmo mempunyai niat jahat. Dia terus saja minum sirupnya sampai tandas. Karmo menyeringai penuh kemenangan.
Tidak berselang lama. Rina merasakan kepalanya pusing.
“Mo, kok tiba-tiba kepalaku pusing sekali? Mengapa ya kepalaku jadi begini?” kata Rina.
“Mungkin kamu terlalu letih, Rina. Tadikan semangat sekali kamu berdansa. Itu mungkin yang membuat kamu letih. Sebaiknya kamu istirahat saja dalam kamar,” sahut Karmo kalem.
“Lebih baik kita pulang saja, Mo!” bantah Rina.
“Sebentar saja. Kamu rehat dulu. Setelah pulih barulah kita pulang,” kata Karmo.
Rina tak berkomentar. Dia mengangguk tanda setuju. Karmo membopong tubuhnya.
Parsito gelisah kayak cacing kepanasan.
Wah, lama sekali mereka datang? Apakah Tino Sastrawan tak nyasar ya? Mudah-mudahan dia tak nyasar. Sambilan menunggu mereka datang, aku ikuti dulu kemana Karmo pergi membawa Rina, lirih hati Parsito.
Parsito terus mengikuti Karmo yang membawa Rina. Dituju adalah ruang kamar nomor 53 A. Dalam kamar itu muncul Joni yang sudah tak sabaran. Dia gembira dengan kemunculan Karmo yang membopong tubuh molek si Rina.
“Bagus, Mo. Kamu berhasil dalam kerjamu. Ini uang atas kerjamu yang sukses. Kamu boleh pergi sekarang,” kata Joni mengulurkan lima lembar uang lima puluh ribuan. Karmo mengambil uangnya lalu menyerahkan Rina pada Joni.
“Selamat bersenang-senang, Jon. Semoga kamu puas,” kata Karmo sambil bersiul-siul senang meninggalkan ruangan itu.
Bangsat tak bermoral! Maki Parsito dalam hatinya.
Dia meninggalkan tempat persembunyiannya. Kembali ke tempatnya yang semula. Hanya beberapa detik dia sampai di tempatnya. Tino Sastrawan dan Dodi barusan datang. Mereka menghampiri Parsito.
“Bagaimana, Par? Mana Rina dan Karmo?” tanya Tino Sastrawan.
“Syukurlah, kalian cepat datang. Terutama kamu, Dod. Cepatlah kamu susul Rina sebelum diapa-apakan oleh Joni!” jawab Parsito.
“Joni. Joni…! Dia lagi…! Dia lagi...! Belum jera dia. Belum kapok dia. Sekarang aku akan buat dia kapok untuk selama-lamanya. Rina diserahkan Karmo pada Joni di ruang kamar nomor berapa, Par?” tanya Dodi.
“Ruang kamar nomor 53 A,” jawab Parsito.
“Terima kasih, Par!” kata Dodi bergegas menuju ruang kamar nomor 53 A.
Ketika dia ke sana, ia terlihat kawannya Joni. Mereka ingin mencegahnya. Tapi temannya Dodi membela Dodi. Mereka melakukan penghalangan terhadap apa yang dilakukan kawannya Joni.
“Hai Bung, kalau jantan mari kita keluar. Jangan dalam ruangan ini. Kita selesaikan urusan sesama kita di luar saja. Jangan sekali-kali kalian mencampuri urusan kawanku. Biarlah dia sesama Joni menyelesaikan urusannya. Adilkan. Bos bertemu dengan bos. Anak buah beradu dengan anak buah. Bagaimana?” teriak lantang Tino Sastrawan.
“Baik. Kami terima tantangan kalian,” kata Damono dan Karmo keluar bersama-sama menyusul Tino Sastrawan dan Parsito.
Dalam ruangan kamar nomor 53 A terlihatlah Joni tersenyum puas. Dia membetot lepas baju yang melekat di tubuh Rina, saking dia tak sabaran ingin menuntaskan hajatnya.
Joni sudah siap melakukan metamorfosis dengan Rina. Metamorfosis yang akan melahirkan suatu yang istimewa.
Saat kumbang jantin ingin menyudahi hajatnya merenggut mahkota bunga berkembang. Seketika ruangan kamar didobrak orang lain dari luar. Spontanitas kumbang jantin merenggangkan pelukannya terhadap bunga berkembang sembari tangannya menyambar pakaiannya yang berserakan.
“Bangsat kurang ajar! Binatang, kamu Joni. Kamu apakah si Rina hah?” delik orang yang barusan masuk.
“Apa pedulimu. Diakan tak menyintaimu. Apa hakmu membelanya? Bukankah kamulah penyebabnya. Bukankah kamulah yang menyakiti hatinya hingga dia jadi begini,” bentak Joni membahana. Dia tak mau kalah semangat. Dia sempat mengenakan pakaiannya.
“Jahanam bedebah. Kamu ingin memperkosanya. Membuat malu dirinya. Licik sekali. Sungguh kelewatan kamu, Jon,” gelegar Dodi meradang.
“Biarkan saja. Itu urusanku, bukan urusanmu,” balas Joni tak kalah sengitnya.
“Bukan urusanku, katamu. Sekarang urusan ini telah jadi urusanku. Saat ini aku akan buat kamu jera untuk selama-lamanya.”
“Kita lihat saja, Dod. Siapa yang akan babak belur,” kata Joni yang telah mengetahui arah pembicaraan Dodi.
Perkelahian antara kedua pemuda itu tak dapat dielakkan. Dalam waktu tak lama Dodi telah membuat Joni tak berkutik. Dodi menjambak rambut Joni hingga mengaduh kesakitan.
“Apakah kamu telah menodai Rina hah?”
“Tidak, Dod. Tidak sempat.”
“Tidak sempat bagaimana? Tadi aku lihat kamu sudah menindihnya. Pasti kamu sudah menodai kesuciannya?”
“Sungguh, Dod. Aku tak sempat melakukannya keburuan kamu datang. Aku cuma mengacak bagian atasnya saja. Aku belum menodainya, Dod. Betul!” kata Joni ketakutan dan mengaduh. Karena rambutnya dijambak Dodi.
“Bohong. Kamu telah berbohong, Jon.”
“Berani sumpah, Dod. Sungguh mati aku tak berbohong.”
“Baik. Apa agunannya kalau perkataanmu tak bohong?”
“Aku rela mati disambar geledek. Aku berjanji tak akan mengulangi perbuatan ini lagi. Sekarang tolong kamu lepaskan jambakanmu.” Joni memelas. Dodi merasa kasihan. Dia melepaskan jambakan rambut Joni.
“Sekarang, kamu boleh pergi! Cepat! Awas, kalau kamu berbohong. Aku akan mencarimu sampai ke lubang semut sekalipun,” ancam Dodi.
“Terima kasih, Dod!”
Joni meninggalkan ruangan kamar itu dengan terseok-seok menahan rasa sakit.
Dodi memerah tomat mukanya saat terpandang pada Rina. Rina setengah bugilan. Matanya melotot menyaksikan keindahan Rina. Beberapa saat dia hanya terpaku. Dia mulai menyadarinya. Dia mulai menolong Rina. Dia mengambil celdam dan celpang Rina yang dibetot lepas oleh Joni. Dia memberanikan dirinya dan berusaha meneguhkan iman di dada. Dodi memakaikan celdam dan celpang Rina. Walau itu terasa sulit. Karena kadang kala Rina memeluknya dengan ketat. Hingga putik sarinya menempel di dadanya. Membuat napsunya panas dingin. Tiap kali. Dodi mendendangkan pujian Illahi. Alhamdulillah, dia berhasil melakukan tugasnya.
Wah, bajunya dirobek Joni. Bagaimana ini? Pikir Dodi.
Iya, sudahlah. Aku pakaikan pakaianku saja.
Dia menanggalkan pakaiannya lalu dipakaikannya pada Rina. Dia kesulitan lagi. Karena Rina blingsatan. Terus melakukan gelinjangan. Tidak diduganya, Rina menarik kepalanya dan dilekatkan di putik sarinya yang segar memadat. Dodi terbelalak tak percaya. Karena kumis tipisnya dan bibirnya menyentuh Putik sari itu. Mukanya makin tambah merah tomat.
Gila banget. Rangsangan obat ini terhadapnya. Bisa-bisa imanku runtuh dibuat Rina begini.
Dodi berusaha melepaskan pelukan tangan Rina yang ketat memeluknya. Dia mengeluarkan tenaga yang kuat untuk melepaskan keeratan tangan Rina. Dicampakkannya Rina sehingga jatuh terlentang. Dia menekan kaki Rina agar Rina tak bergerak bebas dan leluasa. Sehingga memudahkannya memakaikan baju pada Rina.
Si Rina beringasan. Dia dengan garangnya menyentakkan tangan Dodi. Dia menggerakkan kakinya yang ditekan Dodi. Hingga jadi terbalik. Dodi yang di bawah ditindih Rina. Napasnya jadi sesak-menyesak. Rina melakukan aksinya. Seluruh muka Dodi digeranyangi dengan cium bertubi-tubi walau dia berusaha menghindar. Tidak ketinggalan bibirnya dapat bagian yang paling lama dan kental.
Wah, sungguh amat gila obat ini. Aku harus dapat melepaskan diri darinya. Aku takut nanti kalau dia sadar. Aku yang dicapnya melakukan perbuatan tak senonoh ini.
Dodi sedikit melakukan kekerasan. Dia melepaskan pelukan Rina. Masing-masing tetap mempertahankan posisinya. Dodi terbebas juga dari pelukan Rina. Kemudian Dodi membopong tubuh Rina meninggalkan ruangan kamar itu.
Di luar diskotik dia berpapasan dengan Parsito dan Tino Sastrawan.
“Bagaimana Dod, apakah dia sudah diapa-apakan oleh Joni?” tanya Parsito.
“Belum semuanya sih. Untung aku cepat datang. Bagian atas saja yang udah diacak-acaknya. Bagian bawahnya sih masih utuh,” jawab Dodi.
Tawa teman-temannya berderai.
“Oh ya, Par. Kamu antarkan motornya Rina. Aku akan menyusulmu belakangan. Kamu, Tino! Mampir dulu ke rumah ibuku, katakan bahwa aku pulang telat.” Dodi memberikan intruksinya.
“Kamu pakai apa mengantar Rina, Dod?”
“Aku pakai taksi saja. Oh ya Tino, pinjami aku uang Rp. 20.000. untuk ongkos taksi. Abis saat ke sini aku tak bawa uang,” kata Dodi.
Tino Sastrawan menyerahkan dua lembar uang sepuluh ribuan pada Dodi. Mereka berlalu. Dodi telah mendapatkan taksi, mengantarkan Rina yang masih mesra menggelayuti tubuhnya.
Dalam taksi tangan Rina merenggang dari memeluk tubuh Dodi. Kepalanya terjatuh di paha Dodi. Rina nyenyak tidur di pangkuan Dodi.
Kasihan sekali kamu, Rina. Rina……! Rina……! Cinta itu akan terikat erat kalau adanya pengertian dari kedua belah pihak. Dua tubuh satu rasa. Rina, kamu sungguh terlalu jauh mengharapkan cintaku. Sehingga kamu sendiri terjebak dalam cinta. Aku tahu, kamu kini tulus menyintaiku. Waktu ini, aku belum bisa menerima cintamu. Mungkin saja di lain waktu. Ya. Kalau kamu sabar menantikanku. Rina, sebenarnya kamu jangan sakit hati gara-gara ucapanku yang kasar tempo hari. Kamu harus sadar Rina, bukan karena penolakan cinta dariku lalu kamu seenaknya melampiaskan cintamu di sembarang orang. Pilih dong orangnya. Orang yang baik. Untung saja kesalahan kamu yang kecil ini bisa diselamatkan. Kalau tidak, kamu akan memasuki lembah tak berguna, lirih Dodi bergumam sendiri. Tangannya membelai rambut Rina yang tergerai lepas dengan lembutnya berulang kali. Dia sungguh kasihan melihat wajah sayu Rina yang tidur sedap di pangkuannya.
Mobil taksi berhenti mendadak. Di persimpangan lampu merah. Rina terbangun oleh benturan sesuatu pada kepalanya. Pikirannya mulai normal kembali. Tubuhnya masih lemas. Samar-samar dia melihat wajah Karmo.
“Mo, kaukah itu?” tanyanya
“Bukan. Aku bukan Karmo. Aku adalah…”
Dodi tak jadi melanjutkan kata-katanya setelah Rina mengenali wajahnya.
“Ah, kamu rupanya,” kata Rina bangun dari tidur di pangkuan Dodi.
“Syukurlah, kamu cepat sadar,” kata Dodi tak mempedulikan keterkejutan Rina.
“Syukur. Apanya yang syukur? Itu bukan syukur. Tolol.”
“Eh, jangan galak begitu dong. Malu dong sama Pak Sopir.”
“Biarkan saja. Sekarang jawab pertanyaanku. Mengapa aku di sini bersamamu? Bukankah aku bersama Karmo di diskotik. Pasti kamu menculikku. Kamu cemburu. Aku bermesraan dengannya. Kini. Kamu menyesal menolak cintaku. Sebenarnya kamu cinta padaku. Aku tahu itu. Iyakan……!!!” pelotot Rina.
Dodi terperanjat.
Kok, Rina berpikiran begitu. Daripada ribut lebih baik aku diam saja.
“Berarti kalau kamu diam. Tebakanku benar. Dodi…! Dodi…! Kamu adalah orang yang menyiksa batinmu sendiri. Kamu sungguh orang yang bersandiwara di balik kesucian hatimu.”
“Itu tak benar dan benar!” protes Dodi merasa dikecilkan. Ini sebuah kata pembelaan.
“Apa maksudmu dengan tak benar dan benar?”
“Tak benar. Aku cemburu melihat kamu bercumbu mesra dengan Karmo. Aku, kamu katakan orang yang menyiksa batin sendiri. Orang yang melakukan sandiwara. Benarnya. Aku hanya menolongmu dari kebejatannya. Kamu tahu, Rina! Karmo menyintaimu hanya untuk mendapatkan kekayaanmu. Lebih tragisnya kamu dijual Karmo pada Joni, setelah kamu dilumpuhkannya dengan memakai obat perangsang napsu yang dicampurkannya dalam minumanmu. Aku menolongmu hanya karena ada permintaan temanku, Parsito dan Tino Sastrawan. Dia kasihan denganmu. Rina, aku beritahu ya. Kalau aku tak datang cepat, mungkin kamu bukan gadis perawan lagi. Karena kehormatanmu sudah direnggut Joni keparat,” jelas Dodi cukup panjang dan detailnya.
“Bohong…! Itu bohong…! Itu tak benar! Tak mungkin Karmo sekejam itu. Aku lihat. Dia sungguh tulus menyintaiku. Mungkin ini karanganmu sendiri. Menjelekkan Karmo. Agar aku tak bergaul dan memadu cinta dengannya. Kamu iri, Dod. Sebab kamu mulai menyintaiku. Kamu mengharapkan agar aku melupakan hal itu. Lalu menerima cintamu. Jadi kamu dapat memadu cinta denganku. Lelaki munafik. Tak sudi aku menyintaimu lagi,” dengus Rina.
“Ada apa, Neng?” tanya Pak Sopir.
“Tidak apa-apa, Pak,” jawab Dodi Sumanjaya.
“Rina, aku beritahu satu hal padamu. Kamu sungguh keliru menuduhku begitu. Aku tak punya niat untuk menyintaimu. Apalagi katamu, aku yang mengharapkan cintamu. Itu adalah hal yang mustahil. Impossible. Aku cuma berniat menolongmu saja dari kehancuran. Lain tidak!” bantah Dodi.
“Ohoi begitu ya.” Rina mengejek.
“Aku tak percaya semua perkataanmu. Kamu pembohong. Kamu hanya mencari dalih untuk menutupi keburukanmu yang tersembunyi.”
“Okelah, Rina. Kalau kamu tak percaya dengan semuanya. Itu adalah urusanmu. Jangan menyesal nanti kalau perkataanku benar adanya.” Dodi mengalah.
“Aku tak pernah menyesalinya.” Rina sinis.
Taksi berhenti tepat di halaman rumah Rina. Dia ingin bergegas keluar. Dodi melarangnya.
“Ada apa lagi?” Rina cemberut.
“Jangan turun dulu, Rina. Tubuhmu masih lemas. Bisa bahaya akibatnya.”
“Tak peduli. Aku tak sudi ditolong olehmu.”
Benar saja kata Dodi. Dia tak mampu menggerakkan tubuhnya.
“Bagaimana Rina?”
Dodi tersenyum kecil. Rina hanya diam saja. Matanya membeliak besar memandang Dodi. Dodi membayar ongkos taksi.
“Mari Rina, aku bantu kamu keluar.” Dodi menawarkan jasa.
“Akukan sudah bilang. Aku tak ingin bantuan darimu. Titik.”
“Okelah, kalau kamu tak butuh bantuanku. Cepatlah keluar. Pak sopir ini ingin pergi cari pelanggan lain.” Dodi masih melembut.
“Baik. Aku bisa keluar sendiri,” tantang Rina lalu keluar dari mobil taksi. Hampir saja dia jatuh menghantam aspal, jika dia tak cepat ditopang Dodi.
“Berani sekali kamu memelukku. Cari kesempatan dalam kelengahan ya?”
“Sudahlah Rina. Aku tak ingin membicarakan hal itu. Malu didengar orang tuamu.”
“Biarkan saja. Inikan…,” kata Rina tak bisa melanjutkan kata-katanya. Saat dia melihat orang tuanya datang menghampirinya.
“Silakan, Nak. Bawa saja dia ke dalam.” Ibu Rina menyuruh Dodi.
“Tapi Bu, tak pantas rasanya kalau aku membawanya. Bukankah sebaiknya Bapak dan Ibu saja yang membawanya.” Dodi berkelit.
“Kami yang memintamu, Nak. Tak apa-apa. Kami sudah tuaan. Tulang Bapak dan Ibu tak kuat lagi. Tulang anakkan lebih kuat. Lebih cepat membawanya.” Ayah Rina menyela.
Wah, mengapa bisa begini? Apakah orang tua ini mengerjaiku? Atau memang dia menyuruhku dengan maksud tersembunyi. Ah, sudahlah……, dengungan kalbu Dodi berbicara sendiri.
Dodi membawa Rina masuk ke rumahnya. Walau Rina mendelik marah padanya. Ketika masuk rumahnya. Bapak dan Ibu Rina ingin tertawa. Namun dibatalkannya. Takut menimbulkan prasangkaan yang tak enak. Mereka melihat anak gadisnya. Maklumlah mereka. Rina yang malah terkejut saat melihat muka Dodi penuh ciuman. Membuat dia tak enak hati. Apalagi ada bekas ciuman yang menempel mesra di bibir Dodi. Napsuan banget. Rina meraba bibirnya. Memeriksa lipstiknya apa masih tebal atau sudah pudar semuanya? Ah, kagetnya sendiri. Dicium Karmo cuma satu kali. Wah… wah… aku telah habis-habisan menciumnya. Kapan ya? Mungkin saat obat itu masih bereaksi. Mungkin perkataannya benar.
Dodi terus saja membawa Rina ke kamar dengan petunjuk orang tua Rina, yang mengikutinya dari belakang. Dodi membaringkan Rina hati-hati penuh kelembutan. Kepala Rina diberinya bantal. Rina diam saja. Dalam hatinya, Rina merasa beruntung, kalau impiannya jadi kenyataan yaitu memiliki Dodi seutuhnya.
“Terima kasih, Nak Dodi! Begitukan namamu?”.
“Kok, ibu tahu namaku.”
“Dari sahabatmu sewaktu dia mengantarkan motor anakku ke sini, tadi.”
“Oh begitu! Syukurlah dia sudah melakukan tugasnya.”
“Untuk melepaskan letihmu, sebaiknya kita minum dulu sebentar, Nak,” ajak ayah Rina.
“Terima kasih, pak,” Jawab Dodi. Karena dia melihat mukanya penuh bekas ciuman ketika ada pantulan cahaya dari kaca.
“Astaghfirullah.” Dodi malu-malu.
“Ada apa, Nak Dodi?” ibu Rina bertanya.
”Tidak apa-apa kok, Bu! Cuma aku merasa hari sudah larut malam. Aku harus pulang. Aku khawatir. Ibuku akan menduga-duga yang bukan-bukan.”
“Oh begitu.”
“Baiklah, Nak, kalau itu memang maumu. Mari Bapak antar pulang,” ajak ayah Rina.
” Permisi, Bu,” kata Dodi seraya mengikuti Bapak Rina keluar rumah, lalu menuju mobilnya.
Dalam perjalanannya. Ayah Rina berbincang-bincang dengan Dodi. Tak terasa mereka telah sampai ke rumah Dodi. Dodi keluar dari dalam mobil itu.
“Mampir dululah, Pak?” katanya.
“Terima kasih, Nak! Sudah malam! Lain kali saja. Insya Allah Bapak akan mampir ke rumahmu. Sekarang Bapak pulang dulu,” kata ayah Rina berlalu pergi dari tempatnya.
Dodi mengetuk daun pintu rumahnya. Pintu dibukakan oleh ibunya.
“Kok, lama sekali, Dodi. Sama siapa kamu pulang?” tanya ibunya.
“Saya pulang diantar bapaknya Rina.”
“Mengapa dia tak kamu ajak masuk, Nak?”
“Sudah, Bu! Dianya saja yang buru-buru pulang. Sudah malam katanya.”
“Syukurlah. Kalau begitu, Nak. Sekarang. Kau boleh tidur, udah larut malam.”
“Baik, Bu,” jawab Dodi Sumanjaya.
Ibunya menutup pintu rumahnya. Dodi menuju kamar mandi menghilangkan gincu yang menempel di seluruh mukanya. Bekas ciuman bibir Rina waktu terkena obat perangsang. Seterusnya dia menuju kamarnya.
Rina terbangun saat sinar matahari merambat masuk melalui ventilasi kamarnya. Hari sudah siang. Rina menggeliatkan tubuhnya. Dia bangkit dari tempat tidurnya. Dia mendengar pintu kamarnya diketuk seseorang.
“Nak, buka pintunya. Ini ibumu.”
Rina membuka pintu kamarnya.
“Ada perlu apa, Bu? Tumben, pagi ini datang ke kamarku.”
“Tidak apa-apa, Nak! Cuma mengajakmu sarapan pagi bersama.”
“Baiklah, Bu, tunggu saja aku di ruang makan.
“Iya, Nak!”
“Tapi…?”
“Ada apa lagi, Bu?”
“Ibu heran denganmu. Waktu pergi kamu memakai rompi dan baju dalam. Kok, yang ibu lihat kamu memakai baju rompi dan lengan panjang.”
“Benar saja, Bu.”
“Kalau tak percaya lihat saja di depan kaca.”
Rina menuju kaca yang ada dalam kamarnya. Rina terperanjat tak percaya.
”Kok, bisa begini! Ini pasti baju milik Dodi. Mengapa berada padaku? Mungkin, dia benar adanya.”
“Kok, melamun, Nak?”
“Tidak kok, Bu.”
“Jadi, baju itu milik siapa, Nak?”
“Oh baju ini. Ini miliknya kawan Rina, Bu! Waktu Rina pergi ke diskotik, Rina diguyur hujan. Untuk itu, Rina pinjam baju teman untuk pergi bersama Karmo ke diskotik. Ibukan sudah tahu ceritanya dari teman Dodi,” jelas Rina meyakinkan ibunya. Padahal, dia membohongi ibunya.
“Iya, syukurlah kalau begitu. Sudah dulu, Nak. Ibu menunggumu di ruang makan,” kata ibunya menuju ruang makan.
Rina pergi ke kamar mandi. Lalu dia berpakaian yang rapi. Tak lupa dia memasukkan baju Dodi dalam tasnya. Dia menuju ruang makan. Bersantap bersama dengan ayah-ibunya serta kedua adiknya. Selesai bersantap dia pamit pergi. Orang tuanya mengizinkan. Mereka berpesan agar berhati-hati di jalan.
Tujuan Rina adalah Rumah Dodi. Dia disambut tuan rumah dengan ramahnya.
“Mencari siapa, Nak?” tanya si ibu.
“Mencari Dodi Sumanjaya, Bu. Aku teman sekampusnya,” jawab Rina.
“Silakan masuk, Nak.” si ibu berkata kemudian.
“Terima kasih, Bu,” sahut Rina.
“Silakan duduk, Nak! Sebentar ibu buatkan minuman!”
“Terima kasih, Bu. Tapi tak usah repot-repotlah. Karena aku sudah minum,” tolak halus Rina.
Si ibu sudah duluan ke dapur. Sebentar dia muncul membawa dua cangkir minuman dan segera menghidangkannya.
“Silakan diminum, Nak,” kata si ibu seraya duduk.
“Terima kasih, Bu,” ujar Rina sambil mengangkat cangkir dan meneguk air dalam cangkir itu.
“Oh ya, nama anak siapa?” tanya si ibu.
Rina meletakkan cangkirnya.
“Namaku Rina Ermy Maruli.”
“Nama yang bagus sekali, cocok dengan orangnya,” kata si ibu.
Rina merasa malu bercampur bahagia mendengar ucapan ibu Dodi.
“Kalau aku boleh tahu, nama ibu siapa?”
“Nama ibu pendek sekali. Lestari.”
“Lestari. Kalau dikaitkan dengan Bahasa Indonesia, nama ibu bagus sekali. Lestari artinya adalah tetap selama-lamanya.”
“Ah, anak pandai sekali! Anak tinggal dimana?”
“Aku tinggal di jalan Kenangan nomor 153 B.”
“Rumah anak tidak jauh dari jalan rayakan?”
“Iya, Bu.”
“Kalau tak salah menebak, bukankah itu adalah rumah Bapak yang bekerja di Perusahaan Pemerintah. Yang hidupnya bercukupan. Anak adalah Anak Beliau?” kata ibu Dodi.
Rina merasa tidak enak hati.
“Iya, Bu! Aku adalah anak beliau,” jawab Rina.
“Oh, begitu! Rupanya, anakku kedatangan tamu yang sangat istimewa.”
“Ah, jangan begitu, Bu nanti aku tersanjung.”
Mereka terus mengobrol-obrol sehingga si ibu ingat suatu hal.
“Oh ya, Nak. Ibu sampai lupa karena keasyikan ngobrol denganmu. Bukankah anak ada perlu dengan anakkku. Tunggu sebentar. Akan aku panggilkan dia.”
Si ibu melangkah ke ruang kamar anaknya.
“Nak, ada tamu ingin berjumpa denganmu. Katanya dia kawan kampusmu,” kata ibunya.
“Suruh saja dia masuk ke kamarku, Bu,” jawab Dodi.
“Baiklah, Nak.”
Mungkin ini Tino Sastrawan, pikir Dodi.
Si ibu kembali menemui Rina.
“Nak, Rina! Kamu disuruh menemuinya dalam kamarnya.”
“Dalam kamarnya,” kejut Rina.
“Mengapa terkejut, Nak Rina?”
“Tidak apa-apa kok, Bu! Cuma panik saja. Terima kasih ya, Bu. Permisi,” Ucap Rina menghampiri ruang kamar Dodi.
Rina mengetuk pintu kamar Dodi seraya mengucapkan salam. Dodi menjawab salam itu. Dalam hatinya berkata.
Kok, suara Tino seperti wanita ya? Apakah dia ingin mengerjaiku? Peduli amat. Yang pentingkan dia sudah datang.”
“Silakan masuk, Tino! Pintunya tidak terkunci. Buka saja.”
Tangan lembut Rina membuka pintu kamar. Nampaklah orangnya di depan pintu. Dodi terkesiap tak percaya.
“Kamu……” Dodi merasa kikuk.
“Ada apa, Dod! Kok, terkejut sekali melihatku. Kok, takut sekali memandangku. Memangnya tampangku jelek. Memangnya tampangku kayak setan. Kalau tamu disuruh masuk atau disuruh duduk. Kok, dibiarkan terus berdiri. Apakah boleh aku masuk?” tanya Rina tersenyum manis.
“Iya…iya…Rina! Silakan masuk. Silakan duduk Rina. Maap ya, kalau pemandangan kamar ini kurang enak dilihat. Maklumlah, bulari (bujang lagi sendiri),” kata Dodi.
“Tidak apa-apa, Dod! Biar aku saja yang mengemasi membantumu.”
“Jangan Rina! Masak tamu diperlakukan begitu. Tidak etiskan. Kamu duduk saja. Tunggu sebentar. Aku akan mengemasi barang-barang yang berserakan ini dulu.”
“Tak apa-apa, Dod. Biarkanlah aku membantumu.”
Rina membantu Dodi mengemasi ruang kamarnya. Dodi tidak bisa menolaknya. Dia membiarkan saja Rina membantunya. Selesai mengemasi barang itu menjadi rapi. Rina duduk di kamar tidur Dodi. Dodi menghampirinya dan duduk tidak jauh dari Rina.
“Rina, terima kasih ya atas bantuannya.”
“Sama-sama, Dod.”
“Oh ya Rina, kamu ada keperluan apa denganku. Hingga mau datang ke rumahku?”
“Aku cuma jalan-jalan, sekedar refreshing pikiran.”
Aneh sekali Rina hari ini. Waktu itu dia sangat marah padaku. Kok, sekarang tidak ya?
“Rina, tak mungkinlah kamu datang ke rumahku kalau tidak ada maksud.”
“Apakah aku tidak boleh datang ke rumahmu sekedar bertamu, Dod?”
“Boleh saja. Masak tak boleh! Tidak biasanya kamu datang ke rumahku hari ini. Kalau tidak ada maksud yang lain.”
“Okelah, Dod! Aku memang ada keperluan denganmu. Aku mau minta maaf atas kesalahanku padamu. Perkataanmu malam itu benar adanya. Hal itu aku ketahui setelah ada buktinya, yaitu baju lengan panjangmu. Aku merasa bersalah padamu. Aku merasa berdosa padamu. Maafkan aku ya, Dod.” Rina sesengukan. Dia memeluk Dodi. Dodi jadi kelabakan sehingga dia hanya terdiam.
“Dod, apakah kamu tidak memaafkanku? Kalau saja kamu tidak datang pada malam itu. Mungkin aku bukan gadis kalis lagi.” Rina menangis.
“Sudahlah, Rina. Aku memaafkan kesalahanmu kok. Hal yang sudah berlalu itu jangan diingat lagi. Sudahlah. Jangan menangis. Tidak baik cewek cantik sepertimu menangis. Sudah besar. Malu dong.” Tangan Dodi membelai rambut Rina yang tergerai lepas dan mengusap-usap punggung Rina dengan lembut.
Rina merasa senang dan terhibur. Dia menghentikan tangisnya dan menjauhkan kepalanya dari tubuh Dodi. Wajahnya bersemu merah menahan rasa malu. Dodi memberikan sapu tangan pada Rina.
“Rina, sekalah airmatamu. Tidak baik kamu menangis. Karena airmata adalah mahkota wanita.” Dodi memberikan nasihatnya.
Rina menyeka airmatanya dengan sapu tangan.
“Terima kasih, Dod.”
“Sama-sama dong. Aku juga minta maaf padamu. Selama ini aku telah membuat kamu kecewa. Karena aku pernah menolak cintamu. Akhirnya hampir saja kamu terjerumus ke lembah kehancuran. Itu salahku.” Dodi mengulurkan tangannya. Rina menjabat tangan Dodi.
“Sudahlah, Dod. Tak perlu disesali. Kita sama-sama bersalahkok.”
Mereka saling melepaskan jabatan tangan setelah cukup lama menyatu.
“Oh ya, Dod. Aku sampai lupa. Ini bajumu, aku kembalikan.” Rina menyerahkan baju Dodi dari tasnya. Dodi mengambil bajunya.
Mereka terlibat percakapan serius.
Rina pamit pulang. Dodi mengantarnya sampai ke halaman depan.
“Pulang dulu, Dod. Terima kasih atas keluangan waktunya. Selamat tinggal.” Rina meninggalkan rumah Dodi.
“Nak, itukah gadis yang pernah kamu ceritakan dulu yang pernah menerormu. Sekarang dia kelihatan baik sekali.”
“Masak, Bu?”
“Benar, Nak! Ibu bisa lihat dari pandangan matanya. Dia mencintaimu. Mungkin kamu juga telah jatuh cinta padanya. Diakan cantik, orangnya ramah dan lemah lembut. Tak mungkin kamu tidak jatuh hati padanya.”
“Ah, Ibu. Ada-ada saja. Maaf ya, Bu. Dodi mau ke kamar dulu.” Dodi berlalu pergi meninggalkan ibunya yang terpaku sendirian.
~oOo~

0 komentar: