Senin, 08 Oktober 2007

Batu Sandungan

Oleh: M. Saifun Salakim

Wajah yang manis semanis madu sarang lebah dan wajah yang pahit sepahit empedu melintas di depanku. Lembut menggoda salju kalbu. Saya yakin. Itu adala fatamorgana. Hanya bayangan semu dalam kilas wajah baik yang selalu dinantikan, dalam penantian hatiku. Ingatkan sepenggal memori masa silam yang teristimewa. Wajahnya itu mirip dengan dia yang meninggalkan sisa ketawa di lumbung batu jiwa.
Dunia, berubahkah dia dalam lingkawan waktu yang terus berpacu melawan hari. Tabahkanlah genggaman tanganku yang sering gemetar dan menggigil kepanasan. Selalu membisikkan kata-kata lembut bersemburkan api-api yang terekam dalam lingkaran setan.
Wajah manis semanis madu sarang lebah kuat merayuku. Aku meregang jiwa. Sekarat. Mati dalam ketidakberdayaan. Tidak mampu melawan godaan yang menghantam.
Aku ini rapuhkan? Mengapa tulang belulangku tidak berderak patah?
Goyahkahku? Mengapa bahteraku terus melaju dengan kebanggaan menembus ombak yang bergulung-gulung di lautan maha luas?
Terpedayakahku? Mengapa keyakinanku tetap teguh dan kokoh berdiri?
Terjerumuskahku pada lubang? Padahal mataku tetap terjaga, tak terlepas dari fokus pandangan ke depan.
Terikut aruskahku? Padahal aliran air keimananku masih mantap. Tertanam erat di tanah ibu pertiwi.
Aku tergagu seketika. Hanya bintang dan bulan di angkasa yang dapat berbicara bebas seperti lesatan puluhan meteor dari pangkalannya menuju arah sasaran lesatannya. Lalu meledak terkena titik temu.
Kata-kata bintang dan bulan yang berserakan bagaikan serakan kerikil yang menghiasi kelopak mata redup, memberikan sebuah arti sedih atau senang.
Duka pun berada di atas cinta. Cinta berada di atas si suara tanpa rupa. Si suara tanpa yang selalu memberikan tamsil kehidupan. Ia terlindung tabir keperkasaannya seperti dara yang terlindung di balik selubung sinar matahari. Sinar matahari yang memancarkan panasnya yang cemerlang dan terang benderang. Membakar hangus seluruh ragaku. Hanya meninggalkan serpihan debu.
Bergunakah kalau diriku sudah seperti itu? Bermanfaatkah kalau aku sudah seperti itu?
Hanya sebuah drama tragedi yang melahirkan ungkapan tangisan-tangisan. Tangisan bahagia menandakan keceriaan dan kesejahteraan. Tangisan sedih yang menandakan kedukaan dan kenestapaan yang mendalam. Sedalam lautan pasifik. Airnya meriak menghancurkan mutiara-mutiara cinta yang berserakan di pasir putih.
Inilah mutiara cinta laut yang kusut-mengerut, seperti kerutan di kening seorang profesor. Mutiara cinta laut yang kalut-mengerucut tertipu oleh kerang-kerang gayaan yang tidak apa adanya. Atau lebih kerennya terpedaya oleh sifat manipulasi politik bercinta. Pandai mengeritik. Tak tahu kode etik jurnalistik. Dalam memaparkan sebuah berita yang diketik dengan mesin tik. Melabrak terus air samudera. Menjadi spons-spons keras.
Tanaman laut menjadi keriting karena terkena penyakit murus. Setiap harinya mengeluarkan cipratan busa sedih dalam penyesalan yang tidak adanya kebersamaan atau penyatuan rasa yang berbeda dalam satu kecapan.
Masing-masing kita saling menyalahkan dan menanyakan kesetiaan yang ada. Tidak mau mengukur kelemahan masing-masing.
Siapa ya yang salah dalam hal ini?
Keegoisan kita ini menimbulkan kecurigaan yang tiada berpangkal. Membuat mengkal di hati, yang meninggalkan daun-daun ikal yang kekal yang berupa butiran irama tasbih yang nakal. Bermain dalam setiap hitungan hari, tiada pernah berhenti sedetik pun. Hal tersebut merupakan bekal kita untuk persiapan diri telah menjadi bangkai dengan beralaskan papan yang berketam.
Kalau itu sudah terjadi. Tidak ada lagi penyesalan untuk menyesali perbuatan yang dilakukan. Yang terekam hanyalah buku amaliah. Karena ajal sudah menyapa, menyerakan serpihan raga. Dibuangnya entah kemana. Jauh. Kasat mata. Dihempaskan gelombang airmata yang tersisa. Hanya tinggal sebuah cerita.
Kita tak ingin airmata selalu singgah dalam perjalanan hidup kita. Karena airmata adalah sebuah kelemahan. Kelemahan adalah pil yang harus dibumihanguskan dari diri.
Kelemahan bisa juga menjadi permata dan intan yang paling berharga dan mahal kualitasnya.. Yang tidak bisa dibeli dengan uang yang beredar di dunia ini. Uang yang selalu dijadikan patokan untuk menilai seseorang. Gilakan! Tidak gila dong. Karena kelemahan yang pakai kelembutan itulah yang saya maksudkan di sini.
”Yaa Allah, tetapkanlah imanku dan tegarkanlah selalu langkahku dalam mengarungi kehidupan ini. Biar aku dapat selalu tersenyum setiap masa. Amin.”

0 komentar: