Jumat, 19 Oktober 2007

Menguak Tirai Kepalsuan

Oleh : M. Saifun salakim

Orang banyak terkecoh atau tertipu kehidupan dunia ini. Karena orang itu melihat dan memandang dunia dengan kacamata pandangan yang hanya dapat melihat dan memandang luarnya saja, tetapi di dalamnya mana dia mau mengetahuinya.
Kalau kamu ingin mengetahui isi kedalamannya suatu objek dunia. Kamu harus tahu dulu caranya. Bagaimana? Dengan apa melihatnya? Agar kamu dengan mudah mengetahui kedalaman objek dunia yang kita incar itu.
Kalau sekiranya anda belum tahu caranya maka terlebih dahulu anda harus mencari dan menemukannya. Jangan terlalu terburu napsu untuk memandang objek dunia itu tanpa persiapan matang. Karena kalau dilihat sepintas lalu memang objek dunia itu menyenangkan tetapi akhirnya menyakitkan.
Kalau sekiranya kita sudah mengetahui cara melihat dan memandang kedalaman isi suatu objek dunia dengan tepat maka dapat dipastikan langkah selanjutnya akan berhasil dengan gemilang.
Cara melihat dan memandang yang berhasil dengan gemilang itu harus dipraktikkan dalam kehidupan kita, yaitu cara melihat dan memandang suatu objek dunia dengan kacamata atau prakiraan-prakiraan yang jitu, tepat, topger, noy...
Sudah pasti kita tidak akan dapat dikibuli oleh pandangan zohir yang biasanya menipu pandangan mata orang. Mata orang yang tidak bisa membedakan yang mana alami atau asli bin tulen, dan yang mana buatan atau palsu bin lancung alias bisa saja rusak atau bisa saja cepat pudar atau fana.
Orang yang arif, bijaksana, bestari, bersahaja, dan budimanlah yang dapat menggunakan pikiran normal atau akal sehatnya untuk membedakan antara asli dan buatan.
Kebanyakan orang lebih tertarik dan senang kepada pandangan zohir yang datang dan pergi secara superkilat, yang dilakukan secara sengaja atau tidak disengaja. Datang dan pergi dengan tidak dapat diduga-duga bagaikan hembusan angin yang berlalu.
Banyak di sana-sini anak-anak muda yang tertipu oleh mudi-mudi yang berpenampilan caem, ayu, genit, kece, manja dan menarik hati. Atau sebaliknya banyak anak-anak mudi yang terjebak, tertipu, dan termakan rayuan muda-muda yang berpenampilan parlente, necis, keren, tampan, handsome, ngetop, ngepop, dan ngetren selangit. Semua itu adalah korban pelampiasan napsu serakah dan bejat mereka.
Di depan mata kita dia sangat manja, kolokan, aleman, genit, sayang, penuh pengertian, dan dia juga memberikan perhatian kasih sayang yang ekstra. Itu dilakukannya untuk menarik hati kita dengan kasih sayangnya yang lembut dan tutur katanya yang ramah dengan dibarengi oleh kebaikan hatinya, tetapi di belakang kita sikapnya itu bertolak belakang dengan kepribadiannya. Rupanya dia telah membuat sandiwara pada kita. Benar juga kata pepatah yang berbunyi: Dalam air dapat diduga, dalamnya hati mana kita tahu dan mulut mengatakan ya tetapi belum tentu hatinya mengatakan ya juga.
Kebanyakan orang-orang cenderung menuju ke arah yang namanya jati diri bersembunyi di dalam sebuah kabut yang tipis. Orang-orang seperti itu adalah orang-orang yang tidak sadar dengan apa yang akan terjadi pada dirinya di kemudian hari. Disebabkan hati mereka sudah terbius atau terhipnotis oleh pandangan zohir yang membuat dirinya terbuai, terhanyut, dan terbawa arus yang menghantarkan dirinya ke jurang kehancuran dan penyesalan. Apa hendak dikata, katanya, aku sudah terlanjur. Terlanjur basah mandi sekali.
Sadarlah sedikit teman. Hidup tak selebar daun kelor. Maksudnya kesalahan yang pernah kita perbuat di waktu dulu biarlah dia berlalu dan yang penting kita jangan mengulangi lagi perbuatan itu.
Sekarang yang terpenting atau yang akan digarisbawahi di sini, yaitu Masa depanmu bukanlah di tangan orang lain, tetapi di tangan dirimu sendiri. Untuk itu, perbaikilah dirimu selagi masih muda. Masih ada kesempatan untuk memperbaikinya selagi kamu masih mampu agar masa depanmu menjadi berseri, cemerlang, bersinar, gemilang, bahagia, aman, dan sentosa.
Janganlah kamu ulangi lagi perbuatan macam begitu. Membuat dirimu terkatung-katung dalam bayangan angan-angan yang semu. Akan membuat dirimu mengalami frustasi, stres berat, stroke, lemah keinginan, loyo kemauan, lemah mental dalam menghadapi kenyataan itu. Hal ini sesuai dengan peribahasa yang berbunyi begini: Lemah udang karena janggutnya, lemah harimau karena belangnya, dan lemah manusia karena hatinya.
Hal inilah yang akhirnya membuat dirimu menyesal terlalu, bersedih overdosis, dan menangisi nasib yang sial. Karena kamu telah menuruti kehendak napsu tuntutan jasmaniah bukan menuruti kehendak hati tuntutan rohaniah, lahir dari jiwa yang sehat, akal yang murni, dan pikiran yang bersih.
Mengapa ya kehidupan ini dikatakan panggung sandiwara? Mungkin dikarenakan di dalam kehidupan ini penuh dengan perbuatan yang bersifat sandiwara atau hal-hal yang menampilkan permainan palsu dan dusta yang memang sengaja dibuat oleh seseorang yang menjadi dalang atau promotor pelaksana dalam permainan yang penuh ilusi, misteri, dan kedustaan ini. Yang tidak sesuai dengan logika hidup, akal sehat, pikiran yang bersih, dan perasaan hati yang tulus ikhlas.
Banyak di sana-sini berkeliaran orang-orang yang bersembunyi di balik wajah aslinya atau orang-orang yang menggunakan topeng kehidupan demi menutupi rahasia identitas jati dirinya yang asli. Hal ini sesuai dengan kalimat yang berbunyi begini: Rupa isi suatu buah harus dibuka dengan kemauan dan rasa. Yang masih diselubungi selembar atau sehelai serabut tipis yang membalut atau melingkari sekeliling buah tersebut.
Serabut tipis yang membalut atau melingkari isi buah tersebut adalah sebuah tirai yang selalu penuh tanda tanya besar dan misteri di dalam kehidupan dunia yang fana ini.
Tak mustahil yang kelihatan ramah-tamah tetapi hatinya culas.
Kelihatan bijaksana tak mustahil hatinya bagaikan ular berkepala dua.
Kelihatan alim tak mustahil kemauannya hanya mendapatkan sebuah sanjungan dan pujaan dari orang lain.
Kelihatan buruk tak mustahil dia seorang pemurah dan dermawan.
Namun ada juga yang kelihatan alim pribadinya tetap sopan, lemah lembut, dan aleman.
Kelihatan jahat tak mustahil perbuatannya tetap jahat. Kelihatan penipu tetap saja dia seorang penipu.
Kelihatan miskin tetap saja dia seorang miskin dan kere dan lain sebagainya. Tak usah disebutkan lagi yang buanyak-buanyak. Kalian tahu sendiri saja.
Kehidupan alam dunia ini penuh sekali bergelimang dengan segala kebohongan, kemunafikan, keserakahan, kesewenang-wenangan, kesadisan, kezholiman, ketidakadilan, kebutaan mata hati, kabar isapan jempol, kabar burung, kesenangan di atas hak dan kehormatan saudaranya sendiri, manipulasi, korupsi, dan jebakan misteri yang sulit untuk diungkapkan. Karena penuh dengan lika-likunya, kelak-kelok jalannya. Rumit. Ruwet. Runyam. Pelik. Muskil. Kusut. Rancu.
Hanya orang yang pernah mengalami atau yang memang memasang jebakan misteri itu saja yang sedikitnya mengetahui dan mengerti jalan keluarnya dari himpitan jebakan misteri itu. Kata mereka jalan keluar pemecahan masalah jebakan misteri itu ada tiga pilihan yaitu:
1. Menuju jurang penuh siksaan, penyesalan, dan pesakitan.
Berbahagialah orang-orang yang jalan keluarnya menuju jurang penyiksaan, penyesalan, dan pesakitan ini. Karena keteguhan pendiriannya atau akidahnya dalam dia menghadapi segala cobaan yang penuh siksaan jasmaniah, kesakitan, dan sedikit penyesalan tak berguna. Banyak penyesalannya yang berguna. Kelak orang itu akan memetik hasilnya dari pengorbanan, keteguhan, dan ketabahan hatinya dalam menghadapi sebuah cobaan yang datang silih berganti namun pasti. Dia juga akan mendapatkan sebuah kebahagiaan yang tiada taranya.
2. Menuju ke bukit yang penuh tanjakan dan duri yang menghalangi untuk mendapatkan nila setitik.
Berpikirlah sejenak orang-orang yang jalan keluarnya menuju ke bukit yang penuh tanjakan dan duri yang menghalangi untuk mendpatkan nila setitik. Karena hati orang ini masih diliputi oleh keragu-raguan dan kekurangpastian yang membuat pikirannya terkatung-katung di dua kemungkinan atau ambigu perasaan. Kelak orang yang macam begitu harus dapat menentukan pilihannya yang paling tepat di antara dua kemungkinan yaitu: Bahagia di atas semu atau bahagia di atas nyata.
3. Menuju ke padang yang teramat luas, indah, dan sedap dipandang mata
Bersedih, berduka, dan menangislah orang-orang yang apabila jalan keluarnya menuju ke padang yang teramat luas, indah, dan sedap dipandang mata. Karena diri mereka terlalu terbuai atau terlena oleh kenikmatan yang ada. Kebahagiaan yang semu. Mereka lupa untuk mengerjakan suatu pekerjaan yang merupakan bekal untuk kebahagiaan abadi di alam bayang-bayang tetapi pasti dan nyata.

Mereka tak sadar bahwa kebahagiaan yang sekarang mereka peroleh adalah kebahagiaan semu atau kebahagiaan maya, hanya kamuflase glamournya kehidupan duniawi. Kelak mereka akan merasakan menjadi orang-orang yang merugi, terhina, dan tercela di mata illahi. Barulah mereka menyadari kekeliruan yang pernah mereka lakukan selama hidup di dunia. Untuk memperbaiki kekeliruan itu, sudahlah kasip. Karena nasi telah menjadi bubur. Insaflah mereka dalam penderitaan berkepanjangan ini. Karena harta dan sanak saudaranya tidak bisa membantunya dalam meringankan penderitaan yang mereka rasakan. Akhirnya airmata penyesalan saja yang dapat dikeluarkan.

Kita harus sadar dengan satu hal: Berpikirlah dengan jernih dan akal sehat sebelum anda berbuat dan berkehendak dalam melakukan sesuatu. Agar engkau tidak menyesal di kemudian hari.
~&&&~

0 komentar: