Jumat, 28 Desember 2007

Coretan Tinta Tak Berguna

Oleh : M. Saifun Salakim

Di malam sunyi yang mencekam dan dinginnya udara malam, membuat tubuhku menggigil, hati menerawang jauh, mulut terkatup, bibirku pucat, senyumku kecut penuh sesal, kemauanku menggelora dalam dada dan perasaanku beku dalam khayal. Terjagalah kata hatiku yang selama ini sedang memendam segumpal hasrat dalam jiwa yang hampa, yang gersang, dan yang hambar dalam angan. Kemauanku terus menggerogoti hatiku yang kacau dan gundah. Kemauanku juga menyentakkan selarik perasaan dan segores hasratku untuk mematri sebuah nama yang terukir indah di dalam benak ini dalam alam kekakuan.
Aku berusaha sekuat tenaga untuk membendung gejolak perasaan yang sesak meronta itu. Namun semakin kuat aku membendung atau menahannya semakin kuat pula dia membelitku, yang menyesakkan dada untuk bertemu dengan si dia atau si doi (doski), untuk mengatakan semua kandungan mutiara yang berharga, yang kini masih terpendam dalam hamparan kabut tipis yang belum pasti kepadanya.
Aku pikir itu tak mungkin aku dapat lakukan, laksanakan, dan kerjakan. Karena aku adalah orang yang selalu takut dari layar nyata dan berani dari balik bayangan layar nyata.
Faktor itulah yang membuat hasratku terkatung-katung di awang-awang khayal atau ilusi. Antara mau dan tidak mau. Antara berani melaksanakan dan takut untuk berbuat melakukan perbuatan itu.
Biarlah semua ini melekat dan hadir padaku. Biarlah semua ini menjadi standar atau patokan hidup dalam diri ini. Karena aku teringat pada sebuah kalimat yang diucapkan oleh seseorang yang berbunyi sebagai berikut: Janganlah kamu sok suci. Terimalah apa yang didapat dengan apa adanya.
Dalam hal ini. Aku bukanlah mengaku sok suci, tetapi hanya saja dikarenakan kalbu ini masih membatasi gerakan refleks itu. Dalam sebuah ruang lingkup atau kungkungan di celah-celah sebuah rongga yang amat sempit dalam perasaan ini. Biarlah semua keinginan ini hanya sebuah bayangan semu atau ilusi. Biarlah semua keinginan ini hanya kamuflase dalam diriku ini. sulit untuk kuungkapkan.
Mungkin saja. Di suatu masa yang lain, keinginan itu akan menjadi sebuah berlian dalam hatiku. Mungkin saja. Ilusi itu akan segera dapat diungkapkan lewat perputaran roda sang waktu yang terus berlalu tanpa pernah berhenti sedetik pun.
Akhirnya, aku mulai tersadar dari lamunan yang pudar ini. Aku mulai terkenang akan sesuatu hal yang ingin kutulis dalam diari ini yang berisi beberapa kalimat sebagai berikut:
· Hati yang tulus hanya sedetik saja hadir di sini atau di kehidupanmu dalam mahligai asmara yang menggelora.
· Janganlah engkau sia-siakan kembang kenanga yang berbunga kasih, yang diberikan oleh tautan hati belahan jantung dan sukma kehidupan serta paru-paru kesenangan di dalam hatimu.
· Cinta yang suci sulit di dapat di dalam hidup ini. Untuk itulah, cobalah engkau sedikit mengerti akan perasaan dan gelora jiwanya dalam memberikan kembang mewangi darimu untuknya.
· Berusahalah untuk membalas cintanya dan katakanlah sejujurnya kepada darlingmu, jikalau kamu memang tidak mencintainya. Semoga saja dia dapat mengerti dari keterusteranganmu itu. Sehingga bunga itu tidak akan menjadi layu dan lusuh. Disebabkan terkena duri penusuk jantung, penggerogot hati, dan pelumpuh paru-paru kehidupan. Apabila keadaan kalut, sesal, dongkol, sakit hati, kecewa, pendendaman, dan frustasi berbaur jadi satu dalam hati. Hal itu karena tingkah lakumu itu. Membuat engkau melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak boleh engkau lakukan. Sehinga membuat dia nekat berbuat hal yang demikian. Karena engkau telah mematahkan semangatnya dalam kehampaan. Kamu lemparkan dia dalam keegoisanmu. Kamu buang dia bagaikan barang yang tak berguna. Kamu purukkan dia dalam penantian dan penyesalan yang amat panjang. Kamu campakkan dia dalam bunga ilusi tak bertuan.
· Ingatlah cinta di atas segala-galanya setelah iman, takwa, ihsan, dan budaya.
· Janganlah engkau buat layu suatu kembangnya bunga yang lagi mekar, kalau kamu benat tak mau padanya. Berusahalah senantiasa membuat dia terus gembira dan ceria. Dengan perlahan-lahan dan pasti utarakanlah hal itu kepadanya dengan sebenar-benarnya. Mudah-mudahan dia akan memahami dan memakluminya. Namun, kalau kamu diam seribu bahasa, tak punya rasa, tak punya reaksi, dan kontak dengannya atau koorsleting jiwa dengannya, tak ada getaran aneh padanya, seakan-akan kamu hanya cuek aja, tak ada getaran rindu yang memberikan impuls kepadanya. Hal itu akan membuat dia larut dalam penantian yang panjang, yang penuh dengan lika-liku dan kelak-kelok jalannya dan dia berusaha untuk menemukan sebuah jawaban dari sebuah teka-teki dirimu yang sulit, pelik, rumit, kusut, dan sukar untuk dipahami dan dimengertinya.
Kekosongan hatimu dalam reaksi dan impuls koorsleting api asmara padanya menyebabkanmu menyepelekannya. Membuat hatinya kosong dalam penantian dan dia jadi meneguhkan dan mengikrarkan sebuah harapan dan doa. Hal itu membuat jiwanya terasa sunyi, lengang, dan sepi yang mengharu dalam kekakuan perasaannya. Kesunyian jiwanya itulah yang membuat dia meneteskan air matanya sebagai rasa rindunya, sedihnya, keharuannya, kekesalannya atau rasa kekecewaannya yang amat dalam padamu. Karena dia sangat lama ditinggal kaku dalam dingin, sejuk, gigil yang menyengat kalbunya. Faktor itulah menyebabkan dia berani melakukan perbuatan negatif atau perbuatan yang seharusnya tidak boleh dilakukannya. Hanya dialah yang tahu pasti mengapa dia melakukan perbuatan itu. Orang lain tidak mungkin bisa mengetahuinya. Karena itulah, kehidupan ini dikatakan sebuah teka-teki.
(Ide ini ditulis, 8 Oktober 1996)
~~~&&&~~~

0 komentar: