Sabtu, 29 Desember 2007

Kilasan Balik

Oleh : M. Saifun Salakim

Malam semakin sunyi mengharu dalam dekapan raja malam yang kelam dan suram bahkan gelap gulita. Kelihatan bintang gumintang tersenyum manja dengan membiaskan sinarnya yang kerlap-kerlip laksana kerjap-kerjip lilin di malam sepi yang membisu dan membeku. Tak ketinggalan juga rembulan ikut meramaikan suasana. Rembulan menunjukkan wajahnya yang selalu ceria, periang, dan senang karena dia dapat bermain-main sampai ke bumi dengan membawa langkah pasti.

Di malam sepi yang membeku itu kutatap redupnya cahaya bintang gumintang dan rembulan dengan sekilas lewat ventilasi rongga udara kamarku yang mati. Hatiku mulai menerawang jauh di alam sana. Di alam yang penuh dengan sukacita dan bahagia. Lamunanku mulai memudar menatap cahaya bintang dan rembulan. Kala itu mataku melihat segumpal kabut tipis yang menyungkupi dan memupuskan cahaya bintang dan rembulan yang bersinar cemerlang. Namun, hatiku juga tergugah dengan keindahan cahaya mereka, terutama cahaya bulan yang putih cemerlang. Apalagi cahaya bulan purnama menjelang.

Kini kata hatiku mulai terjaga dari melihat cahaya bintang gumintang dan rembulan di angkasa sana. Sekarang aku mulai dapat mengambil tamsil sebuah kehidupan dari keadaan cahaya rembulan dan bintang gumintang yang kuperhatikan itu bahwasannya Kecantikan luar yang kelihatan lebih menawan, menggoda, dan mempesona belum tentu seratus persen menunjukkan hatinya yang sesungguhnya. Karena ada sepercik kabut hitam yang menutupi mata kelamnya dalam kalbu. Untuk itu, kita harus pandai menerka dan mengetahuinya. Tidak semua kecantikan begitu.

Pengalaman yang sekilas itu dengan memperhatikan rembulan dan bintang gumintang di malam hari ini yang dapat diambil tamsilnya sempat menggores hati dan sanubari bahkan ada yang sudah mendekam di dadaku.

Ilusi. Bayangan semu. Visi. Bahkan imajinasi telah berbaur jadi satu dalam wadah yang membulat dan menyatu dalam satu cerobong udara, tetapi keluarnya antara yang satu dengan yang lain sangat berlawanan arah.

Biarlah kini semua pengalaman itu akan menjadi sebuah filtrasi diri dalam mencari, menemukan, dan menyelidiki hal itu sehingga dapat berubah menjadi sebuah pertautan yang tak akan pernah rapuh atau putus ditelan atau dibawa-bawa zaman masa kini.

(Ide ini ditulis, 11 April 1997)

~~~&&&~~~

0 komentar: