Sabtu, 29 Desember 2007

Pengkhianatan

Oleh : M. Saifun Salakim

Terkadang hatiku menangis dalam senyum kecut dan terkenang akan perbuatan yang telah kamu lakukan padaku. Seakan diriku ini hanya boneka indiana yang dapat kamu permainkan dan kuda tunggangan. Yang setiap saat dapat kamu tunggangi. Kamu kira aku tak punya hati, perasaan, dan jiwa untuk memberontak. Rupanya kamu keliru sekali. Sebagaimana manusia aku mempunyai perasaan, jiwa, dan apalagi yang namanya hati.

Aku bukan patung!

Aku bukan boneka!

Yang hanya membisu, itu yang harus kamu ingat. Sekarang, aku mulai sadar dengan kekeliruanku, yang menganggap dirimu sebagai orang yang baik-baik, tapi tidak tahunya. Kamu adalah orang pendusta.

Dalam hati meringis, jiwa teriris, dan perasaan melepa pilu, sempat juga aku berpikir. Aku tak menyangka kamu pergi dariku dengan membawa sebuah keegoisanmu.

Aku juga tak menyangka, dirimu tega melakukan semua ini. Seakan hatimu hanya terbuat dari sebuah tirai yang tipis setipis kulit ari. Hingga hatimu dapat luruh ditelan gemerlapan, perasaanmu memudar diganyang dusta, jiwamu dapat leleh dibarak api kemunafikan diri. Termakan sikap mempermaikan orang lain.

Kini terlepaslah tali ikatan jiwa yang ditaut bunga kenanga di antara kita. Karena, aku tak sanggup duduk sama rata dengan dirimu, yang membuat diriku dapat terjerumus ke ngarai kehancuran dan penyesalan diri di kemudian hari.

Selamat tinggal kembang mewangi!

Semoga saja kamu puas dan senang dengan semua hal yang pernah kamu lakukan padaku. Itulah ucapan terakhirku untukmu.

(Ide ini ditulis, 5 Maret 1997)

~~~&&&~~~

0 komentar: