Sabtu, 12 Januari 2008

B i l a

B i l a
Oleh : M. Saifun Salakim

Bila kuperhatikan sosokmu di keremangan malam. Tak percaya membuncah di hati. Tanda tak mengerti.
Bila kupandang kilas balik wajahmu di kesenduan mengharu. Membuat aku menangis. Tanda bahagia atau tanda sedih. Aku pun tidak tahu. Tetesan air mata itu membasahi jiwa. Menyejukkan kancah perasaanku yang masih diliputi kesunyian.
Bila kulihat senyuman manismu di alam mimpi atau alam realita. Senyuman yang telah membuka tabir nyata dan maya. Perasaanku seakan terbawa ke alam tak ada ujungnya. Ke lautan tiada tepinya. Ke ngarai tiada jurang akhir tapal batas penentuan. Namun, semuanya itu sudah tersirat dalam kalbu, terteguh dalam jiwa, dan terpadu dalam iktikad.
Bila kutatap gayamu yang menarik dan menawan. Terbawalah arus cinta menyeruak. Mengejar keaslian cinta kasihmu. Meneliti isi hati masing-masing agar dapat terikat satu. Menyatu padu sampai akhir masa.
Bila kucerna sinar keimanan dan tutur bahasamu yang sopan. Mahligai diriku mererotkan siuran angin kesejukan. Meniupkan ke dalam pembuluh rindu. Ke urat nadi kangen. Ke sumsum mala blingsatan tak karuan. Sepah nan kalbu. Tentu dan jadi pasti. Bilamana madu alunan mutu manikam, intan berlian, permata dua keyakinan berbeda bersatu dalam paduan ikrar erat di pancaran kualitas dan di pancuran mutualitas.

(Ide ini ditulis, 31 Mei 1997)
~~~&&&~~~

0 komentar: