Selasa, 01 Januari 2008

Dialog Cinta Anak dan Ibu

Oleh: M. Saifun Salakim

Ibu tak usah bersusah payah menanam pohon itu
Biarlah saya saja yang menanam pohon itu
Pohon itu tidak perlu di tanam di tanah
Tanah halaman depan, tanah halaman belakang
Tanah halaman samping, tanah semua penjuru
Pohon itu lebih baik ditanam di tanah hati

Anakku sungguh benar sekali kataan jiwamu
Pohon ini harus kita tanam di tanah hati
Karena pohon ini diharapkan berbuah segar
Tak berkuman dan busuk
Bisa dinikmati semua orang dengan memetiknya
Di saat panen tiba

Ibu tak usah bersusah payah membuat pagar rumah kita
Karena pagar rumah kita sudah kubuat lebih indah
Pagar yang terbuat dari teralis waja yang kokoh
Yang tidak akan dimasuki oleh maling kekotoran diri

Anakku sungguh tepat apa yang kamu lakukan
Pagar itu memang harus kuat dan kokoh
Walau kadang kala debu, hujan, badai
Datang mengotorinya, mengaratinya, meruntuhkannya
Pagar itu harus tidak berubah warna seperti semula
Karena pagar itu adalah pagar keindahan
Yang langsung dipelihara oleh hati bersih dan tulus

Ibu tak usah bersedih hati
Aku akan terus menjadi ari dalam hidupmu
Aku akan terus menjadi suluh dalam kesenjaanmu
Aku akan menguatkanmu dalam kerentaanmu

Ibu hanya menitiskan air mata bening terharu
Ibu tak mampu lagi menitiskan kata-kata indah
Untuk kurangkai sebagai puisi-puisi hidup yang menarik
Ibu tak usah risau lagi
Aku akan menjadi rembulan dalam hatimu selamanya

Ibu makin kuat mencurahkan salju di kebeningan itu

Ibu tak usah merisaukanku
Aku akan menjadi surga di bawah telapak kakimu

Ibu pun tersenyum sumringah
Melihatku sebagai sosok cahaya yang betul-betul cahaya
Pontianak, 31122007

0 komentar: