Rabu, 26 Maret 2008

Balai Berkuak, Jumat, 7 Desember 2007

Keberaniannya terciutkan lagi ketika dia berhadapan dengan kehidupan orang tuanya. Padahal jauh-jauh hari dia sudah mempersiapkan kata-kata itu. Dia akan meminta doa restu orang tuanya untuk menyetujui hubungannya dengan rembulan yang jauh dari matahari terbenam.
Rembulan yang selalu menghantui setiap kehidupan dan jalan pikirannya. Rembulan yang terus tak berhenti bersinar menunggu kehadirannya. Rembulan yang tak pernah layu walau kekeringan air perasaan kadang kala menyerangnya. Rembulan itu tetap tegar dengan kasih sayangnya yang tulus pada seorang cahaya hati. Rembulan itu tak ingin mengingkari kesucian hatinya hanya untuk pelampiasan kehidupan sesaatnya.
Lebih baik dia menunggu dan bertahan sampai cahaya hati memberikannya sebuah kasih sayang tulus. Bersatu dalam ikatan batin. Bercinta dengan kedalaman palung hati yang menghebat. Di sana mendekam mutiara seribu kasih. Putih dan termahal. Mahligai jiwa yang diinginkan semua orang.
Mengapa dianya harus meleleh dan ciut seperti lilin setelah keberanian itu datang menjelma lewat matahari bersinar garang?
Apakah dianya hanyalah sebuah kabut yang harus hilang dilibas cahaya matahari?
Apakah dia hanya sebuah titik air yang tak dapat memberikan kesegaran pada pengembara cinta yang kehausan di padang pasir yang tandus dan kering tak ada tanda-tanda kehidupan di sana?
Apakah dia hanya pecundang yang harus kalah dengan sebuah permainan yang sebenarnya dapat dia menangkan?
Apakah dia hanya sebingkai malam yang hanya jadi lukisan waktu untuk selama-lamanya?
Allah, kamu ajarkan dia sebuah keberanian. Kamu ajarkan dia menjadi pendekar sejati. Kamu ajarkan dia pahlawan besar.
Mengapa ketika dia ingin menjadi pahlawan keberanian dalam kebenaran, nyalinya hilang dikubur waktu?
Mengapa dia ingin menjadi pendekar sejati, dia harus kalah dengan napsu sesaat?
Mengapa dia ingin menjadi pahlawan besar, dia tunduk dengan keengganannya yang kecil?
Allah, dimana kemahabesaran-Mu untuk sebuah keberaniannya.
Allah, dimana kepenyayangan-Mu untuk sebuah kependekaran sejatinya.
Allah, dimana kepengasihan-Mu untuk sebuah kepahlawanannya.
Dia menanyakan itu dalam dentingan zikirnya di sela-sela daun yang tunduk sujud pada-Mu. Menghaturkan bakti dengan khidmat dan khusyuknya. Penyerahan diri yang total. Bahwa semua kehidupan daun itu hanya milik-Mu.
Putaran waktunya tak bisa diajak berkomunikasi lagi. Izinkanlah dia mengeluh kepada-Mu di kesempatan lain. Ingin meminta kepastianmu tentang segala keluh-kesahnya. Karena Engkau adalah pemberi kehidupan padanya. Tidak salah dia meminta keputusan-Mu. Dia akan menunggu keputusan-Mu melalui komunikasi di lain waktu.
~&&&~

0 komentar: