Selasa, 18 Maret 2008

Balai Berkuak, Minggu, 2 Desember 2007 – (15.00)

Selesai salat ashar. Jiwa menenang. Langkah kaki pun mantap menapak. Menuju tower kebanggaan masyarakat Balai Berkuak, yang sampai saat ini masih belum mengudara. Padahal tim siemens sudah datang. Mereka ada dua. Saiful dan Jaka. Menangani urusan pengaktifan sinyal HP dan pemegang laptop adalah Jaka. Mereka telah bekerja dengan serius. Dan banyak masyarakat Balai Berkuak yang menyaksikan pengaktifan itu. Namun pengaktifan itu belum berhasil. Selain itu tower telkomsel di Balai Berkuak selalu tidak lepas dari masalah. Terus terhambat. Genset yang sudah diseting dengan baik oleh tim genset profesional mengalami sedikit kerusakan, karena adanya campur tangan salah satu oknum masyarakat Balai Berkuak yang merasa dirinya tahu, tetapi ternyata menambah keribetan. Sudahlah. Masalah ini tidak akan penulis panjang lebarkan. Nanti kesalahan berujar dalam tulisan ini akan menjadi bumerang buat penulis.
Bagi orang yang tersangkut dalam tulisan ini. Penulis minta maaf sebelumnya. Bukan maksud mengungkapkan kesalahan orang, tetapi ini hanya sebagai pengungkapan ide penulis. Pengungkapan itu pun masih penulis samarkan.
Barusan setelah magrib. Terjadi keanehan lagi. Tim pisat mencium bau angit seperti ada sesuatu yang terbakar. Dengan cekatan tim pisat yang dikomandoi Aak Deni mematikan peralatannya. Agar tidak terjadi kerusakan fatal. Dia tidak tahu barang apa yang terbakar. Mau memeriksanya keburu malam memekat. Hujan yang turun mengguyur bumi. Akhirnya pemeriksaan itu akan dilanjutkan besok pagi.
Itu kisahan Aak Deni padaku. Aku mendengarkannya dengan saksama.
”Aak Deni tenang saja. Tidak perlu susah begitu. Rileks saja. Mudah-mudahan peralatannya tidak ada masalah. Tenang saja Aak Deni doa semua orang Balai Berkuak mengiringi langkah kerjamu. Sekaligus doa ini juga buat tim siemens agar pekerjaannya cepat rampung. Agar sinyal HP yang diharapkan oleh rakyat Balai Berkuak menjadi aktif. Biar rakyat Balai Berkuak tidak ketinggalan dalam hubungan berkomunikasi.” Itu saja kata-kata penguatan yang dapat kusampaikan padanya. Maklumlah membantu yang lain pun, aku tak sanggup. Hanya penguatan dengan doa yang dapat kuberikan.
Aak Deni hanya tersenyum dalam hati. Dia menyeduh secangkir kopi yang disuguhkan anak pak erte. Kopi yang penuh kenikmatan. Mudah-mudahan dengan kenikmatan ini menandakan sebuah pertanda yang baik dalam kerjamu. Bahwa peralatanmu tidak ada masalah dan pekerjaanmu selesai dengan baik.

0 komentar: