Rabu, 26 Maret 2008

Balai Berkuak, Sabtu, 8 Desember 2007

Dengan kelihaianku yang sudah menguasai imaji tingkat tinggi. Kuciptakan Zubaidah dari alam maya menjadi sebuah kenyataan. Zubaidah adalah seorang gadis manis berjilbab putih, bertubuh langsing, berpikiran maju, tidak sombong, ramah-tamah, penuh percaya diri, optimis dalam menapaki kehidupan, dan berkepribadian yang baik, serta aura keimanannya terpancar jelas berupa cahaya putih yang melingkari setiap tapak jalan yang telah dilewatinya. Membuat mata semua orang terpana.
Kelahiran Zubaidah yang menjadi sebuah kenyataan hidup menuai protes di sana-sini. Ada yang setuju dengan penciptaanku dan ada menolak keras-keras penciptaanku. Aku tak peduli dengan semuanya. Terpenting aku sudah melahirkan karya monumental yang menggegerkan dunia.
Orang yang pro dengan penciptaanku adalah orang-orang yang terkagum-kagum dengan keindahan Zubaidah. Sedangkan orang yang kontra dengan penciptaanku adalah orang yang berpikiran bahwa yang kulakukan ini sudah melangkahi kehendak Tuhan. Tergolong perbuatan sirik. Alasan lainnya adalah datang dari pelopor yang memimpin penentangan penciptaanku, dia adalah Mustafa. Dia tidak terima bahwa aku telah menjiplak wajah kekasihnya. Dia minta ganti rugi padaku yang telah melanggar etika penciptaan. Dia tidak terima bahwa kekasihnya diciptakan oleh orang lain. Dia ingin kekasihnya dia yang menciptakan sendiri. Dia menuntut hak paten itu.
Aku tak peduli. Sekali lagi aku tak peduli. Aku akan tetap berjalan di atas rel kebenaran yang kuciptakan sendiri. Biarlah kebenaran dari penciptaanku menjadi pro dan kontra. Bagiku itu bukanlah sebuah persoalan. Karena aku sudah berpijak pada sebuah keyakinan.
”Karya penciptaan yang besar adalah karya penciptaan yang dapat menuai badai protes. Badai protes yang pro maupun kontra dari penikmatnya.”

0 komentar: