Selasa, 18 Maret 2008

Balai Berkuak, Selasa, 4 Desember 2007 – (06.50)

”Jalan mengapa sih kamu suka dengan air dan lumpur? Padahal kalau kamu kering dan lekang, kamu kelihatan lebih menarik. Apalagi kalau kamu dapat menyatu dengan aspal. Kamu makin tambah keren saja.” Aku bertanya padanya di pagi hari ini dalam perjalananku menuju penggemblengan ilmu.
”Ini bukan kemauanku teman. Ini kemauan hujan. Hujan suka sekali memandikan tubuhku yang terlalu kumal pada pandangan matanya. Selain itu hal ini disebabkan binatang truk. Tiap hari sering menggencetku walau aku dalam posisi tak punya tenaga. Binatang truk itu tak pernah kasihan padaku. Aku hanya pasrah saja teman. Mau melawan. Pasti aku kalah. Tenagaku tidak sebanding dengan kekuatan tenaganya. Mahluk lemah seperti aku ini selamanya tetaplah begini. Tetap menjadi gencetan binatang yang punya kekuatan besar. Teman, inilah takdirku yang diberikan Allah. Yang dapat kulakukan hanya bersyukur aja atas penderitaan dan keperihan yang kualami setiap hari. Kamu sih masih beruntung. Merasakan penderitaan tidak setiap hari.
Teman... Tunggu sebentar! Kamu jangan melalui jalan itu. Jalan itu penuh badan yang penuh air dan lumpur. Nanti celanamu menjadi kotor. Lebih baik kamu jalan di atas tubuhku yang sedikit kering itu. Aku ikhlas untuk kamu injak demi persahabatan kita,” jawab jalan dengan kesabarannya yang prima. Aku terkagum-kagum dengan kesabarannya yang tinggi.
”Terima kasih teman, atas kepedulianmu. Suatu saat insya allah, aku tak akan menginjakmu keras-keras. Takut tubuhmu menjadi lecet. Aku tidak ingin menyakiti temanku sendiri.
”Teman, permisi! Maafkan aku yang menginjak tubuhmu.”
Jalan hanya mengangguk. Memberikan tanda persetujuan. Aku pun menginjak tubuhnya yang sedikit kering. Pelan-pelan sekali kuinjakkan kakiku di tubuhnya.
Perenunganku menjadi angot. Hangat. Imaji mengalir sederas angin. Menumpahkan kepedulianku pada temanku yang satu ini.
Yaa Allah, berilah aku kesabaran maksimal seperti temanku, dalam menjalani kehidupanku ini. Selalu ikhlas dalam menerima takdir dan kenikmatan yang Kamu berikan. Tanpa mengeluh. Tanpa memprotes. Tanpa mengaduh. Tanpa menjerit. Tanpa. Seperti keberkahan yang Kamu berikan pada temanku, Jalan.

0 komentar: