Selasa, 18 Maret 2008

Balai Berkuak, Selasa, 4 Desember 2007 – (10.15)

Seekor kupu-kupu singgah di mading peristirahatannya yang sudah membisu. Tak pernah digunakan lagi. Lusuh. Kumal. Tak pernah terawat. Aku menghampiri kupu-kupu itu yang sungguh menarik intuisi diri. Berwarna kuning kecoklatan, yang merupakan perpaduan warna yang sungguh kusenangi. Tak tanggung-tanggung lagi kuulurkan tangan jiwa penuh persahabatan padanya. Kupu-kupu itu melirikku sejenak. Menatap penuh kecurigaan. Mengkaji dengan batinnya. Benarkah orang ini ingin bersahabat dengannya atau orang ini hanya ingin membuatnya terlena. Setelah dia terlena maka orang itu akan membunuhnya.
”Maaf ya, aku tak bisa menerima jalinan tangan persahabatan darimu. Karena kamu bukanlah orang yang kukenal. Maaf ya, aku harus pergi. Aku sudah lelah di sini. Aku ingin mencari udara bersih di luar sana. Selamat tinggal.”
Kupu-kupu itu meninggalkanku sendirian. Penuh tanda tanya dalam benak kepala. Mengapa kupu-kupu itu tidak menerima uluran persahabatan dariku? Apakah aku tak pantas bersahabat dengan seekor kupu-kupu? Apakah aku memang orang asing baginya? Apakah aku adalah orang yang menakutkan baginya?
Pertanyaan yang bergerombol di kepalaku itu, biarlah waktu yang akan menjawabnya. Waktu kunantikan jawaban sempurnamu sampai kapanpun.

0 komentar: