Rabu, 26 Maret 2008

Balai Berkuak, Senin, 10 Desember 2007

Hari ini. Aku menyuci pakaian. Kalau sudah menyuci pakaian, aku juga mengepel lantai rumah yang kelihatan kotor sekali. Kerja rangkap dilakukan sekali jadi. Jika sudah selesai mengepel, aku pun mengisi perut keroncong ke warung di depan rumahku. Makan nasi kuning. Kalau tidak makan nasi kuning, bisa makan bubur. Maklumlah masa pertumbuhan gigi. Hanya sekadar gurauan saja.
Hehe...! Hidupkan perlu gurauan. Tidak tegang terus. Biar hidup ini menjadi semarak dan terasa indah, seperti warna-warni pelangi di lengkungan langit biru. Begitulah hidup yang diselingi canda dan tawa akan seperti warna-warni pelangi. Beraneka ragam warna. Menarik sekali untuk dipantau dengan jiwa seni.
Hehe...! Bukan aku mengajari itik berenang. Aku hanya melontarkan pendapatku saja. Biasanya urusan masalah seni lebih pintar dilontarkan seniman. Senimankan memang ahli dalam bidang seninya. Sedangkan aku hanyalah seorang penulis. Penulis yang selalu bermain dengan kata-kata dalam tulisan.
Seni yang kuungkapkan di sini adalah seni yang dilihat secara global. Seni yang dapat menampilkan sebuah keindahan dari ciptaan seorang pencipta seni. Seni yang dapat menampilkan kekaguman. Seni yang lebih khusus, tanyakan saja dengan seniman.
Seni adalah seni. Seni adalah keindahan. Itu saja yang dapat kutekankan pada hari ini yang semakin garang membakar jalanan. Mataku perih menatap kegarangannya. Tak mampu aku beradu pandang dengan kegarangan itu. Karena mata itu terlalu tajam untuk ukuran mata sepertiku ini. Mataku terlalu lemah ketajamannya, abis ketajaman mata ini sering lelah dan banyak debu. Biarlah mataku akan kutajamkan lagi di kesempatan lain. ~&&&~

0 komentar: