Jumat, 23 Mei 2008

Balai Berkuak, Jumat, 2 November 2007

Dimainkannya sepi di tangkai flamboyan. Seakan sepi itu sebuah cintanya yang hilang beberapa episode kehidupan. Tercampakkan. Ia tak mempedulikan sekitarnya yang terus larut dalam putaran tak menentu. Ada orang yang berteriak kepanasan. Ada orang yang bersegera pulang. Pulang kandang. Memangnya dia binatang. Kandang di sini maksudnya bukanlah kandang yang dikhususkan untuk binatang. Kandang di sini lebih dimaksudkan pada habitat di mana ia berasal.
Ia berasal dari tanah harus kembali ke tanah. Ia berasal dari angin harus kembali ke angin. Ia berasal dari hutan harus kembali ke hutan. Ia berasal dari lautan harus kembali ke lautan.
Berbondong-bondonglah wajah-wajah pulang melakukan parade. Parade musik terbesar di era ini. Musik semangat yang sudah layu tak bergairah lagi untuk menapaki ilmu. Ilmu yang bukan sebuah keharusan untuk dimilikinya tetapi hanya untuk singgah sebentar saja di otak kepala kehidupan. Tiada berbentuk. Hanya sebuah imaji kelas tinggi.
Mata kehidupan semakin redup. Di belakangku berdiri seorang sahabat dari planet Jupiter . Ia menepuk bahuku.
”Laju benar kamu merenangi kehidupan ini. Tunggulah aku.”
”Maaf sahabatku. Aku tak bisa menunggumu. Aku harus sampai ke titik pusat saraf kehidupan.”
”Dimana pusat saraf kehidupan itu?”
”Dimana tak pernah ada kebencian, tetapi hanya ada kebahagiaan. Dimana tidak ada kedengkian, tetapi hanya ada persaudaraan. Dimana tidak mengenal iklim kemarau dan hujan, tetapi hanya ada iklim semusim. Dimana tidak ada pergolakan napsu, tetapi hanya ada persetubuhan kasih sayang. Dimana tidak ada capek, tetapi hanya ada kebugaran terus.”
”Sahabatku, kutunggu engkau di sana. Yakinlah. Aku selalu merindukan dan menantikanmu.”
~oOo~

0 komentar: