Minggu, 25 Mei 2008

Balai Berkuak, Jumat, 2 November 2007

Kubeli setandan pisang singapore yang bergantung di warung itu dengan harga tiga ribu rupiah. Kududuk berhadapan dengan ibu itu. Ia asyik mengiris kecil-kecil tempe hari yang dilewatinya untuk dinikmatinya dalam kehidupan ini. Tanpa kuminta ibu itu segera menceritakan pengalaman lebaran anaknya. Betapa bangganya ia menceritakan anaknya padaku. Sementara aku menjadi pendengar setianya.
Anaknya masih duduk di kelas Sekolah Dasar telah belajar menulis puisi. Puisi tentang pengalaman lebarannya.
”Puisinya bagus,” kata ibu itu.
”Begitukah?”
”Ya. Pokoknya bagus.”
”Oh... Begitu. Baguslah.”
Seuntai kata itu kuucapkan dalam hati untuk mengiyakan pendapatnya. Karena sebelumnya daerah yang didiami ibu itu menganggap sastra adalah sesuatu yang aneh dan gila.
Akulah orang pertama yang terus berusaha membuka pemikiran orang-orang daerah di sini bahwa sastra bukanlah gila, tetapi sastra adalah kenikmatan, kesenangan, dan obat stres. Walau tidak semuanya membenarkan. Aku masih bersyukur pada Allah bahwa hari ini masih ada insan yang membenarkan pendapatku. Ia adalah seorang anak Sekolah Dasar. Anak ibu itu. Orang-orang yang lain hanya baru dapat mengiyakan lewat lisan, tetapi aplikasinya dalam tulisan, belum. Biarlah waktu yang akan mengubahnya.
”Anakku ingin mahir menulis puisi seperti Om Saifun,” sela ibu itu, membuyarkan lamunanku.
”Oh, begitu ya?”
”Begitulah. Saya sebagai ibunya hanya dapat memotivasinya. Semoga saja keinginan tercapai. Saya sebagai ibunya juga memberikan kekuatan padanya untuk meneruskan bakatnya. Dia menjadi semangat. Dia terus menulis puisi.”
”Kalau puisinya sudah selesai dan banyak, kamu tunjukkan karyamu ke Om Saifun untuk dikoreksinya agar menjadi baik.”
”Apakah Om Saifun, mau mengoreksinya?” tanya anaknya waktu itu.
”Tentulah, Om Saifun pasti mau.”
Waw, tak kusangka aku masih dihargai. Dengan senang hati akan kubantu anak itu menelusuri bakatnya sesuai dengan kemampuanku. Sungguh peristiwa ini adalah suatu kebahagiaan yang harus kusyukuri.
~oOo~

0 komentar: