Senin, 26 Mei 2008

Balai Berkuak, Jumat, 9 November 2007

Banjir hujan turun mengguyuri bumi dengan derasnya. Bagaikan dicurahkan dari tempayan langit. Aku terkungkung oleh terpal hujan. Tak bisa kemana-mana. Hanya menatap senandungnya dengan lebatnya. Meriah. Bergemuruh. Penuh sajak-sajak yang dilantunkan tak berirama. Kurang kumaknai apa artinya. Aku hanya dapat mencoba menyukurinya. Inilah rahmat dari Allah.
Saat cacing-cacing dalam perut sudah berkepanasan dan bergelinjangan semua. Perutku melilit. Aku pun menerobos dinding hujan yang tinggal titik-titik kecilnya. Menjamah rambut dan sebagaian pakaianku. Aku menuju ke warung bakso. Tentu mengisi perutku yang keroncongan dengan butiran bulat bakso. Biar cacing-cacing dalam perutku tidak marah lagi. Selain itu biar semangatku bertambah. Karena energi tubuhku sudah diisi dengan makanan.
Titik hujan masih menghiasi langit. Aku bertahan sebentar untuk menonton acara dangdut mania. Seru sekali kusaksikan.
Di sana terjadi lagi hujan airmata dari dewan juri seperti Nita Thalia, Desy Ratnasari, dan Bertha serta penonton yang berada di studio TPI. Aku juga yang sebagai penonton TPI yang berada di luar studio TPI ikutan terharu. Tak terasa titik bening itu jatuh meleleh di kelopak mataku.
Waktu itu peserta dangdut mania yang bernama Indrawati bergelar superemak. Menceritakan pengalaman sedihnya ketika dia ditanya seorang juri dangdut mania. Dia diperlakukan suaminya dengan tidak berperikemanusiaan. Suaminya terlalu kasar. Salah satu perlakuan itu adalah saat suaminya memberikan uang kepadanya dengan cara dilemparkan ke lantai. Hati siapa sih yang tidak marah diperlakukan seperti itu. Seperti binatang saja kita diperlakukannya. Saya masih bersabar. Sabar demi anak-anak saya. Uang itu tidak saya ambil malahan saya simpan dengan ditindih batu. Setelah dia datang, saya kembalikan lagi uangnya. Penderitaan itu terus berlanjut. Sehingga saya tak mampu lagi menahan kesabaran. Akhirnya saya minta cerai padanya demi masa depan anak-anak saya agar tidak tersiksa batin. Melihat penderitaan emaknya yang diperlakukan tidak adil oleh bapaknya.
Anaknya superemak ada dua orang. Yang tertua berumur enam tahun. Kedua baru berumur empat tahun.
Setelah berpisah dengan suaminya. Dia mulai memenuhi kebutuhan hidup dan anaknya dengan berjualan kecil-kecilan. Alhamdulillah. Jualannya secara kecil-kecilan itu dapat memenuhi kebutuhan hidupnya walau hanya pas-pasan untuk makan satu hari. Itulah segelintir pengalaman pahitnya.
Dimana letak keadilan itu berada ketika dia memerlukan pertolongan dari perlakuan semena-mena suaminya? Dimana kebenaran itu bersemayam ketika dia membutuhkan pertolongan dari perlakuan kasar suaminya? Apakah semua perlakuan itu akan terus begini? Apakah kesemena-menaan itu terus bertahta di dunia ini?
Aku seorang penulis, tidak bisa berbuat banyak. Tinggal Anda yang punya hati nurani yang dapat berbuat banyak. Apa yang ingin Anda lakukan. Itu saya serahkan kepada Anda-Anda semua. Saya hanya berpesan. Jangan sampai tindakan yang Anda lakukan itu menjurus kepada tindakan anarkis.
Indrawati mengikuti dangdut mania kali ini juga demi anak-anaknya. Dia ingin membahagiakan anak-anaknya. Mudah-mudahan saja dia menang. Sungguh seorang emak yang mantap.
Dia terisak. Banjir tangisnya membobol dari tanggul matanya yang semakin deras mengalir ketika dia dapat mengadakan telewicara dengan anaknya. Anak tertuanya, Tya. Anaknya mendoakannya agar dia menjadi pemenang. Dia makin pilu. Kesadarannya tak terbendung lagi ketika anaknya mengatakan.
”Mak, saya lapar.”
Mendengar perkataan itu hatinya teriris-iris. Banjir tangis semakin membobol. Akhirnya dia tepekur ke lantai. Begitu sedihnya dia mengenang itu.
Yaa Allah, inikah sisi kehidupan yang ingin Kamu tunjukkan pada kami? Memberikan pelajaran kepada hamba-hamba-Mu yang buta hati bahwa masih banyak orang-orang kelaparan di tengah kekenyangan ini.
Yaa Allah, sebagai orang yang ikut terharu. Aku bersimpati padanya. Seandainya dia ada di dekatku akan kuberikan makananku untuk kekenyangannya. Karena dia jauh dariku yaa Allah, hanya doa ini kupanjatkan pada-Mu. Semoga Kamu menerimanya. Memberikan kemuliaan-Mu padanya. Kenyangkanlah anak itu dari kelaparannya.
Yaa Allah, butiran-butiran bening kesadaran batinku telah menetes pelan ikut merasakan penderitaannya itu.
Yaa Allah, aku sangat yakin dengan kemahabesaran-Mu. Kamu tidak akan membuat hamba-hamba-Mu terlantar seperti itu.
Allah, aku yakin kamu akan memberikan kasih dan sayang-Mu pada keluarga superemak yang teraniaya itu.
Yaa Allah, tak sanggup aku berkata-kata. Abis kalau aku banyak berkata. Aku takut khilaf.
Allah, maafkanlah kesalahan hamba-Mu yang lemah ini jika dalam tulisanku ini terdapat kesalahan dan menyudutkan orang lain. Semoga Kamu tetap melimpahkan rahmat-Mu pada hamba-Mu yang lemah ini dengan kepekaan, kepedulian, kebersamaan, kesabaran, ketulusan, keikhlasan untuk menuangkan imaji maupun fakta dalam bentuk tulisan.
~oOo~

0 komentar: