Jumat, 23 Mei 2008

Balai Berkuak, Kamis, 1 November 2007

Hujan gerimis membasuh tubuh mungilnya. Ia semakin cepat menuju kantin. Di tengah perjalanan. Ia menemukan cinta yang memanggilnya dari daun hijau. Cinta kesejukan yang dicarinya selama ini. Daun hijau didekatinya. Silau matanya terkena cipratan air daun hijau. Ia keliru. Dikiranya cinta yang penuh kesejukan yang akan dilihatnya, tidak tahunya hanyalah tetes hujan yang tertinggal di kelopak biru mulut daun hijau. Ia kecewa. Lalu dengan langkah gontai ia terus saja menuju kantin.
Di meja kantin, ditemukannya seonggok telur masuk dalam keranjang telur. Tidak lengah lagi telur masak diambilnya. Dikupasnya kulit telur itu. Sedikit demi sedikit telur masak lolos di mulutnya. Nikmat sekali ia rasakan. Rasa perutnya yang kelaparan segera terobati. Ia mengambil lagi satu butir telur masak untuk memulihkan staminanya. Dikupasnya kulit telur masak itu. Serpihan telur masak kedua ini menjelmakan sesosok wajah yang dirindukannya. Ia tersenyum. Dalam imajinya berputar.
Beginikah nasib cintaku selama ini seperti serpihan kulit telur masak ini? Engkau bisa menjelma dalam serakan kehidupan. Tidak dalam kehidupan utuhku.
Sudahlah. Ia tak ingin mengeluh. Ia sudahi santapan telur masaknya yang terakhir. Mengamblaskan telur masak itu ke dalam perut besarnya.
”Rasakan kamu. Mengapa kamu hanya diciptakan hanya untuk dimakan?” katanya bangga.
Ia membayar harga telur masak yang dimakannya pada pelayan kantin. Seterusnya ia meneruskan perjalanan pulangnya. Perjalanan yang ditinggalkannya di kotak kue anak kecil.
~oOo~

0 komentar: