Senin, 26 Mei 2008

Balai Berkuak, Kamis, 15 November 2007

Hari ini adalah pesta demokrasi tingkat provinsi. Pemilihan gubernur yang akan memimpin Kalimantan Barat ke depan. Dalam memeriahkan pesta demokrasi ini. Aku juga ikut andil bagian. Aku dipilih menjadi anggota KPPS 4 yang berlokasi di halaman depan rumah Pak Budianto Joha.
Setengah enam aku sudah sampai di tempat tujuan. Di sana teman-temanku sebagai anggota KPPS sudah berkumpul. Sekitar pukul enam lewat lima puluh menit kami diambil sumpah atau janji sebagai anggota KPPS beserta saksi calon gubernur. Setelah itu kami mulai bekerja. Bekerja sesuai tugas yang telah diatur Ketua KPPS kami.
Setengah pencoblosan terjadi kericuhan. Kericuhan itu bermula dari seorang peserta pencoblosan yang mengalutkan bahwa kartunya ada tetapi daftar namanya dalam DPT tidak ada. Selain itu dalam undangan ada yang boleh mencoblos.
”Kok yang memakai kartu tidak boleh mencoblos.”
Kericuhan itu sebenarnya dapat ditenangkan. Tetapi kericuhan itu semakin bertambah besar karena dipicu seseorang yang selalu sibuk mengurusi diri orang lain. Kericuhan itu semakin panas. Hampir saja terjadi perang tangan. Lebih hebat dari perang dunia ketiga. Perang yang tidak menguntungkan antara kedua belah pihak. Hanya kerugian yang didapat. Karena apa yang ingin dicapai tidak ada. Kalau boleh disebut perang kesia-siaan.
Alhamdulillah. Itu tak sampai terjadi. Setelah beberapa orang anggota KPPS menjelaskan dengan sedetail-detail aturan main dalam pencoblosan itu. Bahwa yang boleh mencoblos adalah orang yang hanya terdaftar dalam DPT. Itu aturan hukumnya. Kami tidak bisa menyalahi aturan itu. Kalau menyalahi aturan itu akan menimbulkan dampak ketidaknyamanan. Begitulah. Akhirnya dia pun meninggalkan tempat itu walau dalam keadaan kesal. Mau diapakan lagi. Ini bukan kesalahan kami.
~oOo~

0 komentar: