Kamis, 29 Mei 2008

Balai Berkuak, Kamis, 22 November 2007 – (22.30)

Lagu menyentak kebekuanku dalam kesendirian ini. Lagu itu sungguh menggetarkan tafakur perasaanku. Membuat aku mengikuti iramanya dengan gerakan tubuhku. Menggerakkanku untuk curhat denganmu Rhein. Karena saat ini, kamu masih teman setiaku.
Rhein, kadangkala kebimbangan menentukan pilihan hidup mendera jiwaku. Apakah aku harus mengorbankan perasaan orang terkasihku atau orang tercintaku? Padahal aku ingin dua-duanya tidak dikorbankan. Kasihan sekali sampai salah satunya ada yang merana dan dikecewakan. Walau kenyataannya nanti harus ada salah satu yang dikorbankan. Atau aku harus memilih orang yang tersayang. Lain dari keinginanku untuk memilih orang terkasih atau menuruti kemauan orang tercintaku. Dengan memilih yang lain dari itu biar dikatakan adil. Karena antara satu dengan yang lain tidak ada yang dirugikan.
Rhein, kepanasan getaran-getaran rindu ingin memilikinya memberat. Membuat kadangkala aku terkapar dalam gerungan selimut tebal sang hari. Tergolek tak berdaya melawan arus halimun. Sesekali menyungkupi perasaan dan jiwaku ini. Apakah aku perlu pertolongan sinar matahari untuk mengusir kenakalan halimun yang selalu mengusikku? Agar kejelasan perasaan dan jiwaku menjadi nyata.
Rhein, siapa sih matahari yang sudi menolongku melepaskan diri dari kungkungan halimun itu. Apakah dia adalah orang yang selalu kubenci atau orang terkasihku? Apakah dia orang tercinta atau tersayangku?
Rhein, utarakanlah pendapatmu.
Rhein, jerat-jerat kemunafikan bermain dalam diriku. Menyimpul erat urat nadiku. Membuatku terombang-ambing dalam sebuah pelayaran tak berujung dalam menemukan pantai impian.
Pantai impian yang akan memberikan keindahan rupa dan rasa padaku. Pantai impian yang selalu menyediakan mutiara hati yang tulus dan murni. Pantai impian yang memberikan kehidupan panjang yang menarik dan menggugah sanubari dalam menciptakan ketenangan dan kedamaian.
Karena di sana ada deburan buih lirih berzikir. Ada pohon kerimbunan yang tidak memanaskan. Ada pasir yang menyucikan tubuh. Ada batu-batu yang mengokohkan keimanan. Ada sinar matahari yang menghangatkan perasaan kaku. Ada rembulan yang melembutkan perilaku dan perbuatan dalam mengarungi kehidupan ini. Ada ikan warna-warni yang menyemarakkan perjalanan kasih mahligai diri. Ada musim yang memberikan kepedulian dan ketulusan. Ada kapas yang menanamkan keikhlasan.
Rhein, lepaskanku dari belenggu kemunafikan ini. Kalaupun tidak dapat melepaskan diri dari kemunafikan itu, tetapi dapat mengurangi kadarnya yang besar itu. Aku pikir sudah lebih sedari cukup.
Jangan sampai kemunafikan itu tambah besar dan berurat akar dalam hatiku. Apalagi sampai beranak pinak. Ngeri sekali, aku membayangkan hal itu.
Rhein, bila hujan dapat memberikan kesejukan dan kesegaran padaku. Turunkanlah dia langsung menghunjam lubuk hatiku. Biarkan aku dapat merasakan kesejukan dan kesegaran itu secara prima.
Rhein, bila pisau langit dapat memutuskan jerat-jerat kemunafikan itu. Berikanlah dia padaku secepat mungkin. Berikan saja langsung ke dalam hatiku. Biar dia cepat bekerja memutuskan kemunafikan itu secara cepat. Agar aku menjadi terbebas. Dan setinglah pisau itu bekerja secara otomatis dalam hatiku. Setiap saat dapat memutuskan kemunafikan baru yang datang setiap saat menyerangku, ketika kelengahanku menganga.
Rhein, bila sudah ada jawabanmu. Datanglah padaku setiap jengkal urat nadi dan napasku. Aku akan menyambut kedatanganmu dengan senang hati. Jawabanmu akan kujadikan patokan hidupku untuk memperbaiki keadaan jiwaku yang kering dan gersang.
~oOo~

0 komentar: