Senin, 26 Mei 2008

Balai Berkuak, Minggu, 18 November 2007

Kusambut pagi dengan jemuran pakaian. Pakaian yang kucuci semalam. Kujemur pakaian di sesatang belakang rumah. Aku menyapa sesatang pagi ini.
”Selamat pagi teman?”
”Selamat pagi juga.”
”Bagaimana keadaanmu hari ini?”
”Baik-baik saja teman. Malahan aku segar hari ini.”
”Syukurlah kalau begitu. Teman, maaf ya aku mau menggantungkan pakaianku di atas bahumu yang panjang. Tolong kamu jagakan pakaianku. Selain itu ajaklah matahari untuk menghangati pakaianku agar dapat kering sempurna.”
”Beres teman. Yakin saja denganku. Akan kujagakan pakaianmu ini dan kupanggilkan matahari agar dapat menghangati pakaianmu dengan sinarnya yang lebih panas. Biar pakaianmu cepat kering.”
”Kalau begitu terima kasih teman. Aku mau mengerjakan pekerjaan lain dulu.”
”Ya, teman. Selamat beraktivitas yang lain.”
Aku mulai mengepel lantai rumah yang berdebu biar kelihatan bersih. Setelah itu kulangkahkan kakiku menuju ke warung Mak Gigin. Ketika itulah aku terpandang ke wajah tower. Aku kaget. Karena sebagian wajah tower menghilang. Dari pusat perut sampai kepala. Kemana menghilangnya? Apakah bagian tubuhnya itu dimakan siluman? Ah, tidak mungkinlah.
Sebelum pertanyaanku menggerumul tak karuan. Waktu menegurku.
”Teman, kamu tak perlu sedih begitu. Badan tower tidak hilang. Dia hanya dilindungi oleh halimun yang iri kepadanya. Karena tower selalu jadi pujaan masyarakat. Kamu jangan khawatir. Aku akan menyuruh matahari untuk mengusir halimun yang bikin onar itu. Kamu akan lihat hasilnya nanti. Tower akan kembali utuh seperti sediakala.”
Benar saja apa yang dikatakan waktu. Perlahan demi perlahan badan tower yang kusangka hilang itu mulai berwujud setelah halimun diusir sinar matahari. Akhirnya kelihatan utuhlah badan tower itu, karena halimun sudah jauh berlari.
Halimunkan takut dengan kehangatan matahari. Kalau dia bertahan lama, maka matahari akan menghancurkan kehidupannya. Dia akan meleleh dan binasa. Lebih baik dia melarikan diri mencari kata selamat.
Melihat badan tower kembali utuh lagi. Aku tersenyum bahagia. Dengan langkah mantap kuteruskan langkah kakiku yang sempat tersendat. Menuju warung Mak Gigin. Karena hari ini aku ingin nyabu dulu. Bukan nyabu yang merusak tubuh, tetapi nyabu yang menyehatkan tubuh. Kalau mau ikut nyabu, ayo ikutan denganku. Tapi bayar sendiri. He...he....he.....!
~oOo~

0 komentar: