Minggu, 25 Mei 2008

Balai Berkuak, Minggu, 4 November 2007 – (14.00)

Kelopak hari mulai menerang. Saat semua orang bisa memberikan senyumannya. Tapi temanku dongkol. Dia menggerutu. ”Senyummu menambah bonku.” Kok senyuman bisa menambah bon. Bagaimana ceritanya. Padahal senyumkan bisa menambah ibadah. Aneh saja perkataan temanku ini. Sebentar, aku menganalisis perkataannya. Kemudian aku telah mendapatkan maknanya. Aku berpikir sekali lagi. Dia tidak boleh berpikiran begitu. Lebih baik kunasihati dia. Aku memberikan nasihat kepadanya. ”Tidak baik kamu berkata begitu. Bersyukurlah kamu kepada Allah, karena orang dapat memberikan senyumannya padamu. Lebih tidak enak lagi kalau orang cemberut padamu. Kalau orang cemberut bisa saja kamu akan marah. Kamu akan mengatakan dia adalah orang yang sombong. Dingin. Kamu harus tahu bahwa senyuman adalah ibadah.” ”Ya, sih. Tapi diakan bukan orang yang kita kenal. Kok mau-maunya dia pamer senyum setiap melewati kita. Memangnya kita kemaruk dengan senyumnya.” Aku malah membantah ucapannya. Karena dia orangnya egois. Aku hanya memberikan dia sebuah kata terakhir. ”Kalau tidak ada senyuman di dunia ini apa jadinya? Kamu cari jawabannya sendiri ya!” Dia hanya termesem. Apakah dia mulai mengerti atau tidak dengan arti senyuman? Aku tak peduli lagi. Karena aku sudah berlalu meninggalkannya. Aku berlari mengejar kupu-kupu putih yang asyik bermain di taman kehidupan. Kehidupan yang sudah sekian lama kulalui. Kupu-kupu putih itu jelmaan malaikat atau bukan? Jelmaan peri atau bukan? Pembawa keberuntungankah? Tamu tak diundangkah? Aku tak peduli. Karena saat ini hatiku senang, ingin bermain kehidupan dengannya.
~oOo~

0 komentar: