Minggu, 18 Mei 2008

Balai Berkuak, Rabu, 12 Desember 2007

Laa Takrabu zinaa
Sebuah perintah yang melarang kita untuk tidak mendekati perbuatan zina apalagi melakukannya. Karena kemudaratannya lebih besar. Termasuk dalam kategori dosa besar. Mengapa kita tidak mampu menghindarkan zina itu? Apakah perangkap itu terlalu kuat menjerat kita? Apakah dia seperti jaring-jaring spiderman? Yang kuat sekali mengikat orang.
Kita kadangkala mengetahui bahwa perbuatan zina itu tidak boleh. Mengapa kita masih melakukannya?
Mungkin zina kelamin kita tidak lakukan. Tetapi zina tangan, kaki, mulut kadangkala kita lakukan. Apalagi zina mata, mungkin saja sebuah keseringan. Karena ketransparan berpakaian yang mengatasnamakan sebuah modern sering dipampangkan. Yang menampangkan aurat yang tidak boleh kita lihat. Apakah ini salah satu trik peradaban modern untuk menghancurkan akidah kita? Agar kita selalu bergelimang dosa dan mencintai keindahan dunia. Keindahan yang semu belaka. Nikmat sesaat, sakit berkali-kali.
Mungkinkah kita bisa lepas dari jerat zina ini. Agar kita tidak terus larut dalam keindahan semu. Agar kita tidak terlena dengan rayuan dunia.
Apakah kita harus berjalan dengan kepala tertunduk untuk menghindari zina mata? Apakah kita harus merantai kaki agar kita tidak menuju tempat kemaksiatan? Apakah kita harus mengikat tangan kita dengan besi baja agar dia tidak berkeliaran tak tentu juntrungan mencolek tubuh yang bukan muhrimnya? Apakah kita harus memplester mulut kita untuk selamanya agar tidak berkata-kata yang menjurus ke arah kemaksiatan? Apakah kita harus menjadi sosok sufi sebenarnya sufi? Yang tidak peduli dengan keindahan dunia apapun.
Sebenarnya motoriter semua ini adalah napsu. Mampukah kita mengendalikan napsu agar tidak melakukan zina sekecil apapun? Mampukah?
~&&&~

0 komentar: