Kamis, 29 Mei 2008

Balai Berkuak, Rabu, 21 November 2007

Kusungguh senang ketika seorang anak SD menyodorkan puisinya untuk kubaca dan kukoreksi. Berarti sudah ada kemajuan yang berarti pada orang-orang daerah sini. Sebelumnya mereka menganggap sastra, teater, dan yang sejenisnya adalah sesuatu yang aneh, gila, dan memusingkan kepala. Sampai-sampai aku juga disebut orang gila dan aneh. Aku tak peduli dengan gelaran itu. Aku ingin orang-orang desa ini dapat mengerti bahwa sastra, teater, dan sejenisnya tidak membuat orang gila, aneh, dan memusingkan, tetapi malah kebalikannya. Sastra, teater, dan sejenisnya membuat orang menjadi waras dan penghilang stres. Aku ingin orang-orang di sini dapat menyenangi hal itu. Baik anak-anak, muda-mudi, sampai orang tua-tuanya. Suatu keinginan yang wajar, bukan?
Puisi anak SD itu bagus sekali seukuran anak SD. Puisi itu akan kusimpan ke laptopku. Rencananya puisi anak SD itu akan kukirimkan ke surat kabar atau majalah lokal maupun nasional. Mendengar puisinya akan dikirimkan ke surat kabar atau majalah. Anak itu makin tambah senang.
”Ada honornya tidak om kalau sudah diterbitkan?”
”Untuk sementara kamu jangan berpikir honornya dulu. Tapi berpikir berkarya terus. Inikan usaha untuk mempopulerkan namamu. Kalau namamu sudah populer baru dapat honor,” kelakarku.
”Ya, Om. Saya sih menurut saja apa yang dikatakan Om,” jawabnya.
Aku bahagia sekali. Dia telah memberikan amanatnya kepadaku. Akan kuteruskan amanatmu ini dengan sebaik-baik mungkin. Mudah-mudahan saja karya anak SD ini bisa menghiasi kolom surat kabar atau majalah lokal dan nasional. Kalau itu sampai direalisasikan. Maka hal itu akan menambahkan nilai plus kepada orang-orang di sini yang belum menyenangi dunia sastra, teater, dan sejenisnya untuk mengikuti jejak anak SD itu. Mudah-mudahan saja hal itu dapat terwujud.
~oOo~

0 komentar: