Kamis, 29 Mei 2008

Balai Berkuak, Rabu, 21 November 2007 – (19.00)

Mulutnya mencerocos seperti tanker minyak.
Aku terdiam ketika dia mengatakan bahwa aku adalah mahluk yang pilih-pilih dalam menentukan pasangan hidup. Begitu lepasnya dia mengatakan itu. Begitu beraninya dia mengatakan kalimat itu. Aku tahu bahwa kalimat itu bukanlah murni kalimat darinya. Tetapi kalimat ini dari temannya yang pernah naksir padaku. Aku tidak menanggapinya. Kalau aku menanggapinya. Akan panjang urusan ini. Lebih baik aku pulang ke rumah saja. Biar keributan besar itu tidak terjadi. Perdebatan yang akan menghabiskan energi. Aku pamit pulang.
Di rumah. Aku mulai berinteraksi denganmu, Rhein. Aku mengadukan perihal ini. Aku mulai mengoreksi diri. Benarkah aku adalah mahluk pilih-pilih dalam pasangan hidup.
Sebenarnya kalau mau jujur. Tidak. Aku tidak pilih-pilih dalam mencari pasangan hidup. Hanya saja ada pemisah yang tidak dapat disatukan antara kita. Mungkin saja perbedaan prinsip yang terlalu mendasar. Mungkin. Mungkin saja. Selain itu banyak alternatif pilihan yang lainnya. Aku tak dapat mengungkapkannya. Biarlah itu hanya sebuah rahasia dalam hidupku.
Aku sadar. Aku hanya hamba Allah yang lemah dan berdebu.
Layakkah aku mengendus keharuman di taman bunga mewangi sedangkan bau tidak sedap menyebar dalam tubuhku.? Sungguh sesuatu yang akan mengotori saja. Tetapi jikalau bau tidak sedap tubuhku dapat dibersihkan oleh keharuman bunga itu. Aku akan merasa bersyukur sekali. Itu kupikir jauh sekali. Oleh karena itu, kulakukan perbuatan ini. Untuk menghindari diriku dari keharuman bunga itu. Agar dengan apa yang kulakukan ini, kamu dapat mengambil keputusan. Menjauh dariku.
Aku ingin keharuman bungamu akan mendapatkan keharuman dan kesegaran kumbang yang sepadan dengan keharumanmu.
Aku sadar. Aku hanya hamba Allah yang sederhana dan berhalimun.
Layakkah aku mereguk kemanisan pagi di pori-pori daun hijau sedangkan halimun tubuhku saja sudah mengungkungi urat nadi kehidupanku ini. Sungguh sesuatu yang menghambat pandangan mata hati saja untuk menguatkan keimanan. Tetapi jikalau kesederhanaan dan keberhalimunan hatiku dapat dihilangkan dari kehangatan sinar matahari jiwamu. Aku merasa beruntung sekali. Itu kupikir jauh sekali. Oleh karena itu, kujalankan kodrat perjalanan nasibku. Untuk menghindarkan diriku dari kemanisan pagi di pori-pori daun hijaumu. Agar dengan apa yang kulakukan ini, kamu dapat mengambil keputusan diri. Menjauh dariku. Orang yang tak dapat kamu harapkan.
Aku ingin kemanisan pagimu di pori-pori daun hijau akan mendapatkan kemanisan dan kehangatan hakiki dari pencinta kemanisan pagi yang sejati.
Semoga kamu dapat mengerti dan tidak merasa kecewa atau sakit hati dengan apa yang kulakukan ini.
Kalau kamu memang diperuntukkan oleh Allah menjadi pasangan hidupku.
Insya Allah, suatu saat nanti kita akan bersatu mengarungi bahtera kehidupan berdua. Mengarungi deburan ombak dan badai yang datang melanda menuju pantai impian kehidupan abadi.
Yakinlah. Kekuasaan Allah adalah sebuah kenyataan yang tidak diragukan kebenarannya.
~oOo~

0 komentar: