Selasa, 20 Mei 2008

Balai Berkuak, Rabu, 26 September 2007

Judul : Curhat

Ry, ingin aku cerita padamu tentang segala keluh kesahku selama ini. Maaf, tadi aku sedikit mencuekanmu. Kamu tak marahkan? Aku yakin kamu tak marah. Karena kamu adalah orang yang pemaaf.
Ry, aku memang bersalah. Tak seharusnya aku berbuat begitu. Meniadakannya dalam kesan dan kenangan. Walau dia kadangkala masih bercokol di hati.
Ry, aku tak ingin dia selalu menghantui setiap jengkal perjalanan hidupku. Kelabu. Bisa coklat. Aku ingin jalanku putih. Putih yang menunjukkan kebeningan dan ketulusan untuk melangkah ke depan. Meraih masa depanku.
Ry, kamukan tahu. Pemandangan di langit masih biru menghampar. Luas. Bagaikan padi yang mengembangkan sayapnya saat ditiup angin kesegaran. Mengundang cicit burung untuk menjamahnya. Melabuhkan kedamaian di sana.
Ry, aku ingin seperti mereka. Bisakah?
Ry, berikanlah jawabanmu.
Ry, aku butuh teman sepertimu. Saat ini aku lagi menjadi bongkahan kesunyian yang berada di ambang batas. Batas yang menentukan kehidupanku. Aku harus melangkah kemana? Harus berbuat bagaimana? Berjalan ke depan berarti sakit atau melangkah mundur berarti hancur.
Ry, kadangkala aku tak tahu harus mengadu pada siapa? Pada Lewan, teman senda gurauku yang bekerja di bagian tata usaha. Dia egois. Bisa-bisa aduanku ditanggapinya secara subyektif. Aku tak ingin mendapatkan jawaban secara subyektif tetapi yang obyektif.
Apakah aku harus mengadu pada Pipit? Dia sering merajuk.
Mengadu pada Nila. Dia sering menertawakan kelemahanku. Lucu. Lelaki itu harus tegar.
Apakah aku harus mengadu pada Allah, Ry? Allah yang senantiasa sabar menjaga kita tanpa pernah mengeluh. Kita saja yang terlalu mengeluh. Baru terkena cipratan sedikit keindahan di untaian duri kehidupan yang menorehkan sebutir kesakitan di hati, kita sudah mengaduh. Memaki. Mengumpat.
Ry, benarkah aku lelaki yang cengeng? Lelaki yang hanya bisa menantikan suatu kepastian mentari di ujung pulau seberang. Tak pernah kunjung datang. Bisakah posisinya berbalik arah. Mentari di sana beralih ke tempatku untuk memberikan kehangatan padaku yang selalu merindukannya. Siang dan malam.
Ry, aku utarakan hal ini padamu. Karena aku tahu. Engkau adalah teman terbaik yang kumiliki. Sekarang masih setia menemaniku. Dalam suka maupun duka. Walau teman-temanku yang lain sudah kabur. Meninggalkanku. Mereka hanya menemaniku kalau aku ada manfaatnya buat mereka. Ironiskan? Kalau aku tidak ada manfaatnya, maka mereka akan melemparkanku pada jurang penderitaan sebuah persahabatan. Gelap gulita. Tertatih-tatih aku mencari titik terang. Aku tahu itu.
Ry, apakah aku harus melakukan komunikasi dengan Allah. Memohon petunjuk-Nya. Agar segala resah dan gundah gulanaku terobati.
Ry, berikanlah jawabanmu. Aku akan tetap selalu setia menanti jawabanmu. Walau aku harus menjadi kakek bangkotan.
Ry, semoga jawabanmu menyenangkan hatiku.
~oOo~

0 komentar: