Rabu, 21 Mei 2008

Balai Berkuak, Rabu, 31 Oktober 2007

Entah mengapa timbul dalam pikiranku kedengkian itu, Yaa Allah.
Mengapa dia selalu diistimewakan atasanku? Mengapa bukan aku? Mengapa aku selalu disisihkan? Mengapa aku tidak pernah dihargainya? Mengapa aku tidak mendapat hak istimewa dari atasanku? Mengapa dia?
Subhanallah.
Yaa Allah, Maafkan kesuudzonanku padanya. Maafkanlah kesilafanku ini yang terbius jerat-jerat setan yang begitu halus. Merayu-rayuku agar menciptakan sebuah kebencian yang akan berakhir pada dendam.
Yaa Allah, tenangkanlah hatiku seperti semula agar dapat menerima kenyataan ini dengan kesabaran dan ketenangan tinggi. Bahwa itu adalah rezekinya. Itu adalah keberuntungannya.
Yaa Allah, segarkan kembali keikhlasan hatiku yang hampir layu tadi. Kembalikan pada tampuk semula. Ikhlas menerima segala sesuatu dengan lapang dada. Ikhlas mendoakannya agar selalu berlimpah rahmah.
Yaa Allah, tanamkan kembali kebanggaanku pada temanku yang telah mendapatkan kemuliaan itu, yang tadi hampir rengkah direngkahkan oleh bujukan setan yang hampir mencelakaiku.
Yaa Allah, bibirku bergetar. Asma-Mu terus kudendangkan.
Peredaman terhadap bujukan setan sedang beradu. Perkelahian antara kebaikan dan keburukan. Kebaikan yang bersumber dari kemurahan hati yang Kamu berikan dan keburukan yang datang dari bujukan oleh setan terlaknat.
Astaghfirullah.
Pikiranku menjadi kusut hasil dari peperangan itu. Kepalaku menjadi pening. Tak tunggu lama kukemasi laptop dan tas Aku pulang. Alasan lain adalah karena mataku mengantuk. Ngantuk yang tak bisa ditahan-tahan lagi. Entah mengapa mataku ngantuk berat? Mungkin aku capek sekali.
~&&&~

0 komentar: