Senin, 26 Mei 2008

Balai Berkuak, Sabtu, 17 November 2007

Kuceritakan hal mengenai valentine day kepada Sri, Nita, Agus, dan Eka Ajoh. Mereka asyik mendengarkan apa yang kusampaikan. Mereka mulai paham mengenai valentine day. Mengapa valentine day tidak diperbolehkan dalam agama Islam? Karena aku menjelaskan sedetail-detailnya penyebab munculnya valentine day.
Saat menceritakan mengenai valentine day pada mereka. Aku teringat pada seseorang yang pernah kutolak pemberiannya. Pemberiannya itu diberikannya saat valentine day. Kenangan itu saat aku masih kuliah. Alasanku menolak pemberiannya karena aku tidak mengenal yang namanya valentine day. Kuberikan alasanku atas penolakan itu. Dia mulai memahaminya. Aku akan menerima pemberiannya bila pemberiannya tidak diniatkan untuk valentine day. Akhirnya dia merubah niatnya. Pemberian itu diberikannya padaku semata-mata karena rasa ingin berbagi kesenangan denganku. Aku pun menerima pemberiannya berupa sebuah buku Kahlil Gibran yang berjudul Di Depan Singgasana Kecantikan.
”Kalau kita menerima pemberiannya boleh tidak, Pak?” tanya Nita.
”Tidak boleh. Selamanya tidak boleh.”
”Tapi bagaimana caranya Pak kita menolak pemberiannya dengan tidak menyakitkan hatinya?”
”Mudah saja. Bilang saja dengan lemah-lembut dan terus terang bahwa dalam agamamu tidak ada yang namanya Valentien day. Beritahukan dia juga bahwa kamu akan menerima hadiah itu kalau bukan diniatkan untuk valentine day. Mungkin dengan alasan seperti itu dia dapat mengerti.”
”Kalau dia tidak mengerti bagaimana, Pak?”
”Kamu tinggal pilih saja. Mau menjual akidah demi sebuah hadiah atau tidak. Kalau aku sih tidak mau mengorbankan akidah hanya hadiah seperti itu.”
”Kalau kita menerima hadiahnya, Pak? Bagaimana hukumnya? Apakah kita berdosa?”
”Ya, jelas sekali berdosalah. Karena kita sudah melanggar apa yang dilarang dalam agama kita. ”
”Oh, begitu ya, Pak.”
Sri, Nita, Agus, dan Eka Ajoh mulai manggut-manggut. Tanda mengerti.
Pembicaraanku tidak hanya sebatas mengupas valentine day, tetapi juga menasihati mereka agar menjadi wanita yang bisa melindungi auratnya.
Seorang wanita akan menjadi mahal di mata pria kalau dia bisa menjaga auratnya. Di sini ada indikasi unsur dakwah untuk mengajak mereka agar dapat memakai jilbab. Karena jilbab itu penting sekali. Selain dianjurkan sesuai syari’i agama Islam dan jilbab juga dapat menghindarkan diri dari pandangan liar kaum pria.
Berbicara tentang jilbab, aku teringat pada seorang teman wanitaku yang bernama Nisawianti. Dia adalah gadis Sambas. Adik tingkatku waktu aku kuliah. Gadis hitam manis yang akrab sekali denganku. Gadis hitam manis yang selalu kritis untuk menanyakan suatu hal padaku. Dia pernah menanyakan tentang hal keagamaan padaku. Sedikit-sedikit sih aku bisa menjawabnya. Kalau banyak, terus terang aku tidak bisa jawab. Karena aku bukan seorang ustad atau kiai yang mahir dengan hukum-hukum agama. Kalau tidak salah, dia adalah Angkatan 99 sedangkan aku adalah Angkatan 97. Hanya beda dua tahun saja. Tidak jauhkan? Mengapa sampai aku akrab dengan dia? Aku juga tidak tahu. Mungkin ini sudah jaluran Allah yang mempertemukan kami. Aku senang mengenal dia. Dia juga senang mengenalku.
Dia pernah menanyakan padaku hal-hal yang tidak dimengertinya tentang perkuliahan. Aku selalu memberikan jawaban sesuai dengan yang diinginkannya. Dia selalu curhat padaku kalau dia ada masalah. Dia selalu minta saranku kalau dia bingung dengan problema hidup yang dijalani. Aku sih selalu menjawabnya sesuai dengan apa yang kuketahui.
”Dulunya Bang, waktu aku SMA. Aku adalah gadis yang memakai jilbab.. Entah mengapa ketika kuliah ini aku tidak mau memakainya lagi. Aku seakan berontak untuk memakainya. Di sisi lain hatiku juga berontak menyuruhku untuk memakai jilbab. Bang, aku ingin bantuan abang. Menurut abang mana yang kupilih? Aku terus memakai jilbab atau tidak? Selain itu menurut abang, cantik mana saat aku memakai jilbab atau tidak?”
Mendengar apa yang ditanyakannya itu, aku termenung sebentar. Kuperhatikan wajah manisnya yang tidak membosankan. Kala itu kami duduk di sebuah bangku di taman fakultas. Di samping bangku kami duduk berdiri sebuah pohon yang rindang. Daun-daunnya membuat pelindungan buat kami dari sengatan matahari yang panas dan garang. Di sinilah aku harus melakukan jalan dakwah lagi. Aku akan memberikan pengertian kepadanya dengan sebenar-benarnya betapa pentingnya sebuah jilbab.
”Nisa, kalau dilihat secara manusiawi, kamu cantik saat kamu tidak memakai jilbab. Karena kecantikanmu terlihat semuanya. Tetapi akan lebih cantik lagi kalau kamu pakai jilbab. Karena kalau kamu pakai jilbab, banyak keuntungannya. Kecantikan yang terpancar dari kamu memakai jilbab adalah kecantikan alami. Selain itu kalau kamu memakai jilbab kepenasaran orang untuk mengetahui kecantikanmu semakin menjadi-jadi. Kesucianmu terjaga. Kamu dijauhkan dari tatapan napsu liar seorang pria. Kamu didekatkan dengan rasa kasih sayang seorang pria. Selain itu kamu akan selalu menjadi hamba Allah yang selalu bersyukur atas segala nikmat yang diberikan-Nya.
Kalau kita mengibaratkan jilbab adalah sebuah pakaian yang dijual di supermarket atau mall. Maka pakaian yang dipajang tanpa perlindungan apa-apa akan selalu diobral seribu tiga, lebih besar mendorong semangat orang-orang untuk mencolek-colek dan memegangnya walau mereka tidak mempunyai uang. Tetapi kalau pakaian itu diberi pelindung dengan plastik dan disimpan di dalam etalase, orang-orang untuk membelinya berpikir-pikir. Takut uang yang dipunyainya tidak cukup. Orang juga tidak bisa mencolek dan menjamah pakaian itu. Begitulah alasan yang dapat kuberikan. Mudah-mudahan saja kamu dapat mengerti.”
”Aku mengerti sekarang, Bang. Bang, terima kasih sekali atas sarannya. Mulai sekarang aku mau pakai jilbab lagi.” Dia bersemangat lagi. Dia senang lagi.
”Alhamdulillah.” Aku hanya dapat mengungkapkan itu.
Aku masih berjumpa dengannya sekali lagi.
Setelah sekian tahun aku menghilang di tahun 2001. Karena pada tahun itu aku sudah menamatkan kuliahku. Kami berjumpa di tahun 2002. Pada acara workshop kepenulisan Kalimantan Barat. Rupanya dia sudah pakai jilbab. Dia riang sekali berjumpa denganku. Kecantikannya terpancarkan jelas. Kami pun mengobrol penuh canda tawa.
Setelah acara itu aku tak pernah berjumpa dengannya. Mungkin saja dia sudah pulang ke Sambas? Entahlah aku tak tahu! Aku berdoa mudah-mudahan saja suatu saat nanti aku akan bertemu kembali dengan Nisa.
~oOo~

0 komentar: