Kamis, 29 Mei 2008

Balai Berkuak, Sabtu, 24 November 2007 – (19.00)

Allah, apakah aku seorang hambamu yang jelek dan berpenyakitan ini layak mendapatkan seorang bidadari? Bidadari bagi penilaian orang banyak adalah mahluk yang paling cantik dan menarik. Kecantikan bidadari itu sangatlah komplit, kata mereka. Kecantikan luar dalamnya, berpadu.
Perang kecamuk menghunjam jiwaku. Apakah benar aku mendapatkan keistimewaan seperti itu? Untuk mempersunting seorang bidadari. Tak pernah kubayangkan hal itu akan menjadi sebuah kenyataan. Kadang keimananku berpikir, apa kelebihanku sehingga masuk dalam kriteria untuk mempersunting bidadari itu? Padahal kalau dipikir dengan logika jernih. Seorang bidadari itu akan cocok kalau dipertemukan dengan seorang pangeran langit yang tampan, yang memiliki keimanan mantap. Sedangkan aku apa? Aku bukan pangeran yang tampan yang memiliki keimanan yang mantap. Aku hanyalah seorang hamba Allah. Hamba Allah yang terus merasa kecil dan berdebu di hadapan Allah. Hamba Allah yang terus belajar menjadi seorang yang baik.
Allah, apakah bidadari itu memang diperuntukkan untukku? Allah apa alasanmu memberikan keistimewaan ini untukku?
Allah, aku tahu Kamu mempunyai ketentuan yang tidak kami ketahui. Terima kasih Allah atas semua berkah-Mu.
Jika itu adalah kehendak-Mu. Akan kuterima keputusan-Mu. Aku akan belajar ikhlas menerimanya walau nanti banyak yang mencemoohkanku. Menghinaku. Bahkan ada yang iri padaku. Aku tak peduli.
Masak seorang sederhana sepertimu mendapatkan seorang bidadari? Apakah tidak salah tuh?
~oOo~

0 komentar: