Kamis, 29 Mei 2008

Balai Berkuak, Selasa, 20 November 2007

Dalam kesunyian malam ini jiwaku terpaut pada kerinduan yang menggebu-gebu padamu. Sesaat deburan itu terus membuncah. Kilas-kilasan kenangan itu mulai bermain di benak. Menampilkan sebuah wajahmu dengan senyuman berarti. Sebentar kemudian menghilang dilindas kesadaranku.
Nyamuk nakal menggigit tubuhku, tak kupedulikan. Karena kesunyian ini menikmatkan perasaan hati dan jiwaku. Menyuruh tanganku menguntai kalimat demi kalimat puitis dan romantis. Cairan ingus meleleh dari hidung tak kuhiraukan. Karena keasyikan telah mengentalkan semua kenangan itu.
Wajahmu yang terbungkus kaca bening plastik tersenyum padaku. Maka kudekati dirimu dengan kebanggaan. Lalu kusematkan semua wajahmu dalam pikiranku. Pipimu yang ranum dalam bayangan itu kucium keharumannya. Keharuman untuk menghangati jiwaku. Keharuman untuk mengharumkan ruangan kesepianku kali ini dalam sebuah kamar yang menyendiri. Tidak sampai di situ saja. Aku terus bergerilya. Kuendus napasmu yang selalu menyebar. Agar dapat kurasakan kewangian bau mulut kehidupanmu. Kadang kusedot buah delima merahmu yang menggelantung di bibirmu dengan sedotan panjang kasih sayang. Berkali-kali buah delima merahmu yang menggelantung di bibirmu yang sepi dalam bayangan ini, kukecup dengan penuh keikhlasan.
Aku tak tahu. Mengapa aku bisa melakukan gerilya hebat malam ini? Sebelumnya tak pernah kubayangkan hal itu dapat kulakukan. Sudahlah. Aku tak perlu memberikan komentar yang panjang. Nanti akan mengaburkan kejelasan uraian ini.
Kulakukan gerilya ini agar aku dapat merasakan keharuman endusan napas kasih sayangmu.
~oOo~

0 komentar: