Senin, 26 Mei 2008

Balai Berkuak, Senin, 12 November 2007

”Mimpi, mengapa kamu selalu memporakporandakan kehidupanku dengan menghadirkan orang-orang yang tidak perlu kuingat dalam kehidupan ini? Kamu terlalu egois. Kamu terlalu menyudutkanku untuk mengikuti keinginanmu yang picik.”
”Suka-suka akulah. Itukan sudah tugasku dalam kehidupan ini. Bila perlu aku ingin membuat kamu sinting dan gila.”
”Setega dan sekejam itukah kamu padaku?”
”Ya. Aku harus tega dan kejam. Kalau tidak aku tidak disegani orang. Aku katakan padamu bahwa kamu selamanya akan menjadi budakku.”
”Apa? Aku jadi budakmu. Tidak. Aku tidak mau jadi budak siapapun. Aku ingin jadi diriku sendiri. Kamu sudah keterlaluan. Perkataanmu sudah sangat menyinggung harga diriku. Keluarkan wujudmu kalau kamu jantan. Aku akan membunuhmu.”
Aku menggelegar seperti guruh di langit. Aku menggerung marah seperti singa lapar. Abis aku dikatakannya budak. Budakkan adalah istilah untuk tingkatan manusia terendah dalam strata kehidupan.
Dia hanya terkekeh-kekeh saja. Tawanya mengeras. Menertawakan ketololanku. Menertawakankan emosiku yang siap terpancar ekstra. Menertawakan semangat membaraku untuk membunuhnya.
”Kamu itu tolol atau pintar sih. Akukan selamanya tidak pernah dapat menampakkan wujudku padamu. Kamu hanya dapat mendengarkan suaraku. Selamanya aku selalu menjadi tuan atau majikanmu. Suka atau tidak suka. Itu sudah kodratmu. Selamanya juga kamu tetap menjadi budakku.”
”Sialan!” Aku memakinya.
”Tak perlu kamu melontarkan makian itu. Tak mempan untukku. Lebih baik malam ini kamu kubuat sedikit linglung saja. Bersiaplah.” Dia mulai menghadirkan bayangan nyata dalam kaca kehidupan. Bayangan yang membuatku menjadi stres. Sukmaku beberapa kali ingin dipisahkannya dari jasadku.
”Jangan. Aku mohon. Jangan kamu pisahkan sukmaku dengan jasadku.”
Aku memelas meminta padanya. Dia tak peduli. Dia terus menarik sukmaku. Aku terus memohon. Sampai pada akhirnya aku memekik nyaring.
”Tidakkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk!”
Aku terjaga dengan penyadaran sempurna. Hatiku mulai menerang. Pagi telah datang. Sejenak aku mengucapkan alhamdulillah. Mengucapkan puji syukur kepada Allah bahwa aku masih dapat merasakan kehangatan sinar kehidupan ini yang terpancar dari celah ventilasi kamarku. Walau tilam dan bantal yang merupakan sandaran kehidupanku telah berserakan tak karuan.
~oOo~

0 komentar: