Senin, 26 Mei 2008

Balai Berkuak, Senin, 19 November 2007

Kutahu engkau tak akan sudi lagi menjengukku. Apalagi ingin memandangku. Kamu sudah muak. Mungkin. Itu terlihat dari perilakumu.
Bila aku menatapmu. Kamu selalu menghindar dan melengoskan diri. Itu tidak mengapa bagiku. Aku maklum kok.
Kebekuanmu sudah membatu. Menggunung seperti tumpukan salju di pengunungan es. Karena kamu telah kujadikan kucing batu dalam beberapa episode kehidupan yang terus kamu jalani. Aku memang bersalah. Aku memang keterlaluan. Tapi kulakukan ini bukan tanpa alasan. Alasan itu tidak perlu kuutarakan di sini.
Pasa.....
Sebenarnya aku ingin menjadikanmu Ken Dedes dalam kehidupanku. Dengan kecantikan itu yang selalu menghiasi hati ini. Tapi aku berpikir sekali lagi. Tidak. Aku tidak ingin jadi Ken Arok. Begitu teganya merebut Ken Dedes dari Tunggul Ametung. Merebutnya dengan melakukan pembunuhan tersembunyi. Yang kesalahan itu ditimpakan kepada Kebo Ijo. Sungguh teganya. Menggunting dalam lipatan.
Pasa.......
Sebenarnya aku ingin menjadikanmu Roro Jonggrang dalam embusan napasku. Dengan kecantikan itu selalu mewarnai jiwaku. Tetapi aku berpikir sekali lagi. Tidak. Aku tidak ingin jadi Bandung Bondowoso yang menyumpahmu menjadi patung selama-lamanya.
Pasa.......
Aku ingin menjadikanmu sebuah darah yang mengalir dalam denyutan kehidupanku. Akan berhenti jika aliran darahku juga berhenti. Selamanya kamu tetap kukenang dalam kehidupan ini. Maukah kamu memaafkan kesalahanku?
Apapun akan kulakukan untuk menebus kesalahan itu.
Kamu inginkan aku jadi kucing batu. Aku siap. Biar dengan begitu, aku juga merasakan penderitaanmu menjadi kucing batu beberapa episode kehidupan.
Pasa....
Jangankan jadi kucing batu. Jadi lumut, laut, hujan, karang, musim, gunung, bukit, sungai, jalanan lumpur sekalipun. Aku siap melakukannya. Asalkan kamu dapat memberikan senyuman kemaafan itu untukku. Itu saja pasa.......! Semoga kamu dapat mengerti maksudku. Semoga kamu dapat memahami apa yang tertulis dalam tulisan ini.
~oOo~

0 komentar: