Kamis, 29 Mei 2008

Balai Berkuak, Senin, 26 November – (17.10)

Kukagumi lukisan kanvas Allah yang alamiah di lukisan langit. Lingkaran telaga yang dikelilingi cahaya putih melajur vertikal dengan pecahan warnanya yang berlajur-lajur dan bergaris-garis seperti anyaman tikar pandan. Betapa agungnya Allah menciptakan lukisan keindahan itu. Lukisan keindayan yang terdapat di sebelah kanan langit.
Kukagumi percikan warna merah kekuning-kuningan. Perpaduan warna yang menarik. Sungguh artistik bila dihayati dengan jiwa seni. Orang-orang menyebutnya sunset.
Aku penasaran untuk melihatnya lebih dekat lagi. Aku pun melangkahkan kaki ini menuju Tol Kualan. Di sana bukan kudapatkan sinar merah kekuning-kuningan dengan sempurna, malahan aku mendapatkan kesunyiannya. Karena dia terlindung di balik kerapatan pohon-pohon yang berjejer di samping tepian Sungai Kualan. Aku sedikit kecewa. Walau kecewa bibirku tersenyum.
Aku juga mengagumi kembang-kembang sore menyegar di lanting pemandian Sungai Kualan. Berkembang dan bahkan menaburkan keharuman yang mengajakku untuk melambaikan tangan kepada mereka. Ragam warna-warna mereka juga beragam. Ada kuning. Ada putih. Ada sawo matang. Ada hitam. Pokoknya banyaklah warnanya. Hingga tak terasa aku diingatkan oleh akal untuk segera pulang. Karena waktu salat magrib akan segera tiba. Aku pun bergegas pulang. Agar tidak ketinggalan salat magrib. Salat yang merupakan sebuah kebutuhan wajib yang tak boleh kita abaikan atau lupakan. Walau sedetikpun. Bila perlu harus tepat waktu. Disiplin.
~oOo~

0 komentar: