Kamis, 29 Mei 2008

Balai Berkuak, Senin, 26 November 2007

Panas menyengat garang. Tak tanggung-tanggung keringat bercucuran deras di sekujur tubuh. Dia mengalir terus. Alirannya itu terasa sekali melewati tubuh. Seperti butiran-butiran salju yang mengalir ke muaranya. Banyak sekali. Seluruh tubuh dimandikannya. Mataku hampir mengabur. Kabur untuk membacakan Pembukaan Undang-Undang Dasar Tahun 1945 dalam rangka memperingati HUT PGRI ke-62. Tidak etiskan kalau aku mengelap cucuran keringat ketika pembacaan itu. Kalau itu kulakukan pembacaanku akan terhambat. Apa kata orang nantinya? Untung saja aku hapal Pembukaan Undang-Undang Dasar Tahun 1945 sehingga daya hapal itu dapat menolongku mengatasi kekaburan mataku yang digenangi keringat. Alhamdulillah. Aku dapat menyelesaikan pekerjaanku. Aku bersyukur pada Allah.
Kepanasan itu menyengat garang. Menimbulkan keringat yang bercucuran. Besar-besar lagi butirannya. Mengingatku pada butiran keringatku yang berlelehan ketika kuinjakkan kakiku di pelabuhan Tanjung Emas, Semarang. Saat itu aku memasuki sebuah angkot. Menunggu peserta yang lain agar dapat memenuhi tempat duduk yang disediakan dalam angkot itu. Aku datang ke sana dalam rangka Pertemuan Forum Komunikasi Mahasiswa Sastra Indonesia Tingkat Nasional XIII yang diadakan di Yogyakarta.
Baru kali inilah aku dipanggang kepanasan yang sungguh menyengat. Kepanasan yang memberikan kesadaran pada itikaf keimananku.
Kepanasan di dunia ini belumlah seberapa dengan kepanasan ketika kelak kita akan berdiri di padang masyar. Padang terluas. Tidak ada tepian dan ujungnya. Semua manusia berkumpul di sana. Untuk diminta kesaksiannya selama menjalani kehidupannya di dunia. Di padang masyar, matahari hanya beberapa jengkal di atas kepala. Sungguh tak dapat kita bayangkan berapa besar kepanasannya.
Sudahlah. Aku tak ingin lagi membicarakan kepanasan. Karena saat ini aku sudah mendapatkan kesegaran dari ac alami atau udara bebas. Membuatku kembali segar seperti sediakala. Segar dari kepanasan yang menyiksa diri. Segar dari kepanasan yang menjadi tubuhku hitam. Segar dari kepanasan yang membuat seluruh tubuhku banjir keringat.
Malukan bau ketek?
Hehehe.....!
Ketek mu harus dijaga, jangan sampai menebarkan aroma tak sedap.
~oOo~

0 komentar: