Kamis, 29 Mei 2008

Balai Berkuak, Senin, 26 November 2007

Setetes hujan mungkin akan lebih berarti kalau dia hadir di daerah kekeringan yang terdapat dalam kesunyian hati. Hati yang selalu membutuhkan sebuah kasih sayang. Walau rintik-rintiknya, akan lebih terasa berarti daripada mendapatkan pecahan mortir. Mortir yang selalu membuatnya luka. Menganga. Begitu perihnya luka itu kalau sudah diobati dengan antiseptik. Tetapi antiseptik mana yang bisa mampu mengobati kelukaan hati seseorang? Katakanlah padaku. Kalau itu ada. Aku akan beli seberapa besar yang kamu minta. Setinggi gunung emas pun akan kuberikan. Asalkan obat itu betul-betul manjur. Tidak obralan.
Obat itu akan kuberikan untuk membantu teman setiaku. Teman setiaku yang kini sedang dilanda sakit hati. Sakit hati kepada waktu yang telah menorehkan asa kekelaman pada dirinya. Sakit hati karena kerinduannya hanyalah buntalah kapas yang layu diterbangkan angin. Sakit hati karena diduakan oleh rasa yang tak pernah bersahabat kepadanya. Sakit hati karena ditelantarkan kekasih terang dan kekasih gelapnya.
Dia berdiri di dalam kekacauan yang sungguh menghebat. Membuncah. Kalau tidak dikuatkan. Dia bisa mengambil jalan pintas. Potong kompas. Menyelesaikan masalah dengan kebinasaan yang dimurkai Allah untuk selama-lamanya.
Apa yang kulakukan ini agar teman setiaku dapat ceria dan senang lagi seperti dulu. Walau untuk mendapatkan kesembuhannya, aku harus mengorbankan nyawaku. Aku ikhlas. Asalkan temanku sembuh total. Selamanyat tak akan pernah merasakan sakit hati lagi.
~oOo~

0 komentar: