Minggu, 25 Mei 2008

Balai Berkuak, Senin, 5 November 2007 – (16.00 – 17.35)

Selesai menunaikan salat ashar. Kepalaku menjadi sejuk dan damai. Ketenangan menyeruak dalam perasaanku. Seketika terlintas dalam benak. Aku ingin mencari udara segar di luar sana. Kukemaskan peralatan salatku. Kuletakkan di tempat yang rapi. Kupakai baju sepantasnya. Kukunci pintu. Kaki pun melangkah menuju sebuah warung yang sudah tak asing bagiku. Tempat mangkal kami. Di bangkunya kusandarkan kepenatan hidup. Kuendus wangi kehidupan yang terlihat. Kutatap jalanan kehidupan yang sepi merintih dalam doa. Kutatap tower yang berzikir lirih. Kutangkap sebuah sinyal hati.
Akhirnya kutuangkan sebuah kata dalam pengembaraan imajiku.
”Tower dalam sebuah penantian.”
”Hebat kamu. Dalam diam rupanya kamu berpikir. Hebat kamu. Mampu menuangkan kata-kata manis itu,” kata salah satu pengunjung warung tersebut. Sebentar dia tertawa kecil.
Aku heran. Apa yang dia ketawakan? Memangnya kata-kata yang kuucapkan itu lucu? Atau kata-kata yang diucapkannya barusan hanya ingin memperolek-olokku dengan gaya bahasanya yang ironi?
Astaghfirullah.
Aku tak boleh suudzon dengan orang lain.
Subhanallah. Alhamdulillah.
Aku harus berpikir positif. Mungkin dia ketawa, karena dia bisa mengungkapkan gaya bahasa hebat itu.
Pintarkan dia?

0 komentar: