Minggu, 25 Mei 2008

Balai Berkuak, Senin, 5 November 2007 – (10.30)

Mengapa kapal masa lalu ingin mendarat di pelabuhan hatiku? Padahal aku sudah berusaha melarangnya. Apakah karena aku terlalu rapuh untuk mengikisnya? Padahal kapal hati masa depanku sudah siap berlayar mengarungi lautan luas yang diciptakan-Nya. Menantang ombak, angin, dan badai yang siap menerjang.
Padahal perbekalan kapal masa depanku sudah penuh dengan muatan yang berharga. Ada keteguhan. Ada kejujuran. Ada kesilafan. Ada keikhlasan dan masih banyak lagi muatan yang lainnya. Semua sudah terkumpul satu.
Aku tak menduga sama sekali. Insiden itu akan terjadi. Kapal masa lalu dan kapal masa depanku bertabrakan sebelum merapat di pelabuhan hati. Menewaskan tiga pantai pelabuhan hati yang lain, yang akan kusinggahi. Mereka mati beku dengan bibir kecut dan mata biru, sebiru mata putri duyung. Sebeku salju yang mengeras di samudera es. Telah membekukan kapal Titanic dalam sejarah manusia. Tetapi masih mengenangkannya di ingatan pencinta setia. Di sana ada cinta yang tak akan pernah mati. Walau hati samudera birunya telah terkubur di dasar samudera lautan untuk selama-lamanya.
~oOo~

0 komentar: