Selasa, 20 Mei 2008

Kehidupan Guru Pedalaman

Beginilah keadaan guru pedalaman
Menganyam daun pandan menikmati malam
Diterangi pelita merangkai kehidupan bersulam
Mengukir ornamen-ornamen pengabdian beruluk salam
Sampaikan pada jiwa-jiwa yang menyayangi pualam

Kemarau memanggang tak dirasakan
Sebab langkah adalah kemurnian hati yang kerasan
Dalam mendidik anak didik penuh perasaan
Walau debu dan racun jalanan
Menyesakkan pernapasan yang mengerang
Membaluri kecintaan tugas yang memanjang
Sepanjang-panjang terbitan matahari petang
Setinggi-tinggi kerlipan bintang-bintang
Setulus-tulus kedalaman air diarungi udang-udang

Hujan menyapa tak hentikan hasrat
Menumpahkan ilmu sampai ke serat-seratnya
Biar lancar diserap benak-benak tumpul berat
Bagaikan tetesan air memecah batu berkarat
Memancarkan pesonanya demi masa depannya

Bila usia mendekati rembang petang
Jinjingan plastik sudah tak berkutang
Guru-guru itu tak berkedip menatap bintang
Melirihkan suara hatinya yang terpendam
Kapan hati kami disematkan tujuh bintang
Untuk kami banggakan sebagai kemuliaan
Memasuki makam tanpa tembang-menembang

Balai Berkuak, 16052008

0 komentar: