Jumat, 23 Mei 2008

Lentera Hitam

: Penjaga Keperawanan

Persoalan lentera hitam tak akan habis-habisnya malah melebar dan memanjang. Selebar dan sepanjang aliran sungai Kapuas. Tersebar dari angin ke angin. Menggila dari warung ke warung. Warung yang satu ini hanya beratapkan rumbia kering terjalin rapi. Tak berpintu. Tak berjendela. Hanya tersedia beberapa deretan meja dan kursi memanjang. Tertata apik. Layaknya tatanan restoran siap saji.
Persoalan lentera hitam membuat kekacauan dimana-mana. Siapa yang telah menyebarkan gosip lentera hitam, tak diketahui dengan pasti. Manusiakah? Tuyulkah? Atau cacing tanah…? Belum ada yang bisa membuktikannya. Gila tidak? Jangan-jangan aku ikutan gila! Tidaklah!
~&&&~

Aku adalah lentera hitam. Penjaga keperawanan. Dimana saja. Tidak hanya manusia tetapi semua mahluk hidup di dunia ini. Kala ini keperawanan sudah banyak diragukan atau disangsikan. Mengapa? Entahlah.
Sebenarnya tolok ukur keperawanan itu dimana? Aku tanyakan hal itu pada bulu rumput matanya yang bergoyang. Pada pensil hatinya yang setia mengukir rasa dalam setiap masa. Dia adalah wanita yang kuanggap suci dan manis, seperti sucinya embun dan manisnya madu lebah dari kayangan.
“Eh…..,” hanya itu terucap dari mulutnya.
~&&&~

Dalam tugasku menjaga keperawanan ini. Aku dihadapkan pada gosip-gosip yang menyudutkanku. Gosip itu semakin melebar saja. Siapa yang menghembuskan gosip itu, belum kuketahui. Kadangkala dalam hatiku berkicau menguatkan diri.
Aku tidak boleh terpengaruh oleh gosip. Aku tidak boleh makan mentah-mentah sebuah gosip. Nanti aku sakit perut. Karena gosip itu sesuatu yang mahal. Apa kaitannya gosip dengan makan mentah-mentah? Lalapan kali? Apa pula kaitannya dengan sakit perut? Gosipkan bukan makanan. Gosip adalah sesuatu yang dibicarakan yang belum tentu benar kejadiannya. Penyelesaian gosip pun bukan melalui makan-memakan tetapi hanya melalui cek dan ricek.
Persoalan ini bukan sekadar gosip lagi. Ini sudah menyangkut harga diri dan kredibilitasku sebagai perjaka. Perjaka yang tak lelah-lelahnya menjaga keperawanan. Perjaka yang selalu mengagungkan kesucian di atas segala-galanya.
Keperawanan bagiku adalah kesucian.
~&&&~

Sebegitu parahkah gosip beredar? Gosip yang mengatakan bahwa aku telah melakukan hubungan intim dengan seorang perawan yang bernama Eli. Akibat dari hubungan intim itu keperawanan Eli hilang karena keperjakaanku. Kejam sekali gosip itu beredar?
Padahal hubunganku dengan Eli hanya hubungan bersahabat. Hubungan yang lebih menekankan pada jalinan senasib sepenanggungan. Sama-sama ingin menjaga keperjakaan dan keperawanan.
Karena gosip itu juga hubunganku dengan Eli mulai menampakkan ketidakjelasan. Terbentang dari timur sampai ke barat. Jauh amat. Ukur saja sendiri. Hubungan kami pun lalu dikekang oleh suatu hal yang tak bisa disatukan. Boleh dikatakan hubunganku dengan Eli seperti lumpur pecah dari dasar bumi dan menyebar dalam danau. Danau buatan.
Setiap kala aku masih selalu berjumpa dengan Eli. Tetapi kami sudah saling menjaga jarak. Saling tidak enak hati. Kalau kami kelihatan akrab lagi maka akan menguatkan bahwa gosip yang beredar itu benar adanya. Mengapa rasa persahabatan antara kami harus terkikis dari hati hanya karena diterjang gosip yang membuat kami tidak enak hati di saat bersua? Apakah kami salah menjalin persahabatan hanya untuk menjaga keperjakaan dan keperawanan?
Aku berusaha tenang setiap bersua dengannya. Aku juga tak ingin otakku berpikir lebih jauh. Mengapa perasaan persahabatan itu harus pupus di lubuk hati kami?
Ah, hanya sebutir sesal kukeluarkan bersama hembusan napas rokokku. Rokok yang selalu menjadi teman setiaku yang menemaniku setiap saat dalam menghilangkan kejenuhan. Kejenuhan mengenai gosip yang mencengkeram hari-hariku. Tak pernah berhenti pada satu titik kepastian. Kepastian sebuah kebenaran.
Kebenaran dimana engkau berada?
Datanglah padaku. Aku betul-betul membutuhkanmu. Buktikanlah pada semua orang bahwa engkau berteman akrab denganku. Katakan pada semua orang bahwa aku tak bersalah.
~&&&~

“Jangan ganggu aku. Aku butuh ketenangan. Jangan usik aku. Aku butuh kedamaian. Jangan rasuki pikiranku dengan idealis murahan. Aku masih ingin kesucian. Aku masih ingin jadi penjaga keperawanan walau seperti apa keperawanan yang kujaga. Keperawanan yang selalu kuidentikkan dengan kesucian. Kesucian pikiran. Kesucian jiwa. Kesucian kemauan. Kesucian bertindak dan berbuat. Kesucian hati.”
~&&&~

Mengapa gosip selalu dijadikan pedang menikamku. Menjatuhkanku. Walau ternyata hanyalah sebuah praduga tak bersalah. Tapi orang-orang tak mau percaya. Sebelum bukti nyata terungkap. Berarti aku harus mencari orang penyebar atau sumber gosip yang pertama. Dimana dia harus kucari di dunia luas ini? Atau aku perlu bantuan kepolisian mencarinya?
Uh, tak berkaitan urusanku ini. Gosipkan bukan tindakan kriminal. Bagaimana lagi ya caraku? Aku betul-betul dalam posisi terjepit. Ikan sepat mati keciprit.
Hi, ngeri aku membayangkannya.
Sebenarnya aku menginginkan orang-orang dapat memahami keterjepitanku. Dasar orang-orang. Selalu senang yang enak-enaknya saja. Mereka ketawa di atas kesedihan dan penderitaanku. Seakan orang-orang senang melihatku begini.
Sungguh. Cobalah sekali-kali orang-orang menghargaiku. Dengan tak menyebarkan gosip itu. Yang sedikit banyak mengurangi beban penderitaanku. Walau dan walau…
Ah, aku sudah capek dengan semua ini. Tolonglah mengerti aku wahai orang-orang. Kaliankan punya hati nurani. Berikanlah sedikit hati nurani itu padaku.
Yaa Allah, bantulah aku. Lepaskan aku dari himpitan gosip ini. Berikan aku kesabaran. Ketenangan. Kedamaian.
Allah, pertolongan-Mu sangat kunantikan.
~&&&~

“Eli, mengapa teganya kamu khianati cinta kita? Mengapa kamu selingkuh dengan Dipur? Apa kekuranganku selama ini sehingga kamu bisa berpaling dariku?” tuding Didi.
”Di, itu hanya gosip. Aku tidak pernah selingkuh dengan Dipur.”
”Bohong. Itu hanya alasan untuk menutupi keculasanmu. Aku menyesal telah mencintamu El kalau akhirnya kamu memberikanku sakit hati seperti begini.”
”Di, janganlah kamu berkata begitu. Aku tidak pernah mengkhianatimu. Aku tidak pernah menyakitimu. Aku tetap mencintaimu. Di, kamu harus dapat berpikir jernih menghadapi persoalan ini. Jangan terlalu menurutkan emosi yang akan menghancurkan kehidupan kita.”
”Kehidupan kita telah hancur El. Kamulah yang menghancurkannya.”
”Tidak Di. Kehidupan kita belum hancur. Aku berani sumpah bahwa aku selalu mencintaimu sampai kapanpun. Kamu ingin aku sumpah demi Tuhan?”
”Jangan membawa nama Tuhan untuk menutupi keculasanmu. Bisa berdosa besar kamu.”
”Aku tidak akan berdosa. Karena aku tidak pernah melakukan perbuatan jelek yang aku sumpahkan itu. Di, kalau bersumpah tidak boleh. Bagaimana lagi aku akan membuktikan padamu bahwa aku tidak pernah menduakanmu?”
Didi terdiam.
”Di, katakanlah.”
Didi mempertimbangkannya. Tidak salahnya dia memberikan kesempatan pada Eli sekali lagi untuk membuktikan kebenaran dari apa yang dikatakannya itu.
”Baiklah El. Aku akan mempercayai apa yang kamu katakan jika kamu dapat menghadirkan orang jujur yang ada kaitan dengan persoalan ini, untuk membuktikan bahwa kamu hanyalah korban fitnahan belaka?”
”Baiklah Di, akan kuhadirkan orang itu. Tunggu saja.”
~&&&~

Hubungan Dipur dengan Dara mengkerut. Disebabkan kemarahan Dara yang meluap-luap karena dia telah termakan gosip yang menyudutkan posisi Dipur. Mereka terlihat bertengkar hebat. Dipur mempertahankan posisinya sebagai perjaka. Perjaka yang tidak pernah menodai kesucian seorang wanita yang bernama Eli atau wanita manapun. Tapi Dara tetap menegang. Dia tetap menuduh Dipur berkhianat kepadanya. Menodai cinta sucinya. Cinta suci yang mereka bina bertahun-tahun.
Selama bertahun-tahun itu mereka telah mengenyam asam manisnya kehidupan. Tapi mereka tidak pernah bertengkar hebat seperti ini. Padahal sebelumnya gosip-gosip pernah menerpa hubungan mereka. Gosip-gosip yang mungkin dilancarkan orang-orang yang tidak menyenangi kebahagiaan yang hadir di antara Dipur dan Dara. Mereka bisa mengatasinya dengan baik.
Mengapa gosip kali ini membuat Dara meragukan kesucian dan kemurnian hubungan mereka? Dara juga meragukan keperjakaan Dipur.
Gosip kali ini membuat dara bertekut lutut. Gosip yang telah Dara yakini bukan sekadar omongan tak benar lagi tetapi telah menjadi sebuah kenyataan. Kenyataan yang harus diterimanya dengan keperihan hati. Karena dia harus rela melepaskan Dipur yang dikasihinya kepada orang lain. Dia rela melepaskannya itu. Karena hal itu sudah menyangkut tanggung jawab tentang sebuah keperawanan dan keperjakaan. Harus diselesaikan dengan sebuah tali ikatan perkawinan. Jika hal itu tidak dilakukan, maka ada salah satu dari mereka akan menjadi putus asa. Yang akhirnya bunuh diri.
Siapa yang musti disalahkan?
Apakah orang yang melakukan bunuh diri? Ataukah lingkungan masyarakat yang menyudutkan atau mengisolasi mereka dengan tekanan batin yang begitu berat?
Sebenarnya kalau ingin bicara jujur dimana letak keperjakaan atau keperawanan yang hakiki bersumber dari hukum ilahi?
~&&&~

”Dara, aku bersumpah demi Allah, aku tidak pernah menodai kesucian perjakaku dan merenggut kesucian keperawanan Eli. Itu hanya gosip yang ingin menghancurkan hubungan kita dan privacyku, sebagai perjaka yang menjaga keperawanan. Jangan-jangan dalam pertengkaran kita ini, ada orang yang sengaja mengail di air keruh. Mengambil keuntungan dari pertengkaran kita yang akan berakhir dengan pemutusan hubungan kasih. Dara, cobalah berpikir yang arif dan bijak. Jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari dengan keputusanmu ini. Aku tetap menyintai dan menyayangimu selamanya,” tegas Dipur.
”Mulut manismu sekarang tidak dapat kupercaya, Dipur. Lebih baik kamu temui dia untuk mempertanggungjawabkan perbuatan bejatmu itu. Pergilah!” Dara mengusirku.
”Dara dengar penjelasanku dulu. Dara bersabarlah sedikit saja. Sudah berapa kali aku katakan bahwa aku tak pernah menodai kesucian hubungan kita. Menodai keperjakaanku. Menodai keperawanan Eli. Kalau aku ingin menodai keperawanan seorang gadis seperti Eli yang digosipkan itu, sudah sedari dulu aku lakukan. Itu aku lakukan bukan pada Eli tetapi padamu, Dara. Sebaliknya hal itu tidak aku lakukan. Karena aku ingin selamanya tetap menjadi seseorang yang menjaga keperjakaan dan keperawanan. Percayalah padaku. Please...”
Aku memohon padanya, tapi Dara tidak bergeming sedikitpun. Dia tetap menyuruhku pergi menemui Eli untuk mempertanggungjawabkan perbuatan bejatku seperti yang digosipkan itu. Perbuatan bejat yang tidak pernah kulakukan. Sungguh menyakitkan sekali.
~&&&~

Dipur mengajak Dara menuju warung tersebut. Di situ telah menunggu orang yang tahu banyak tentang gosip yang membuat renggang tali perkasihan mereka. Orang itu akan menjadi mediator untuk menjernihkan permasalahan tersebut. Bahkan orang itu yang akan mengungkapkan kebenaran dengan sejelas-jelasnya mengenai gosip tersebut.
Walau Dara menolak, Dipur tetap memaksa Dara agar Dara mengikutinya. Karena terus dipaksa, akhirnya Dara mengalah. Mengikuti keinginan Dipur. Membuktikan kebenaran dari gosip tersebut.
Eli juga mengajak Didi menuju warung tersebut. Warung yang akan dijadikan tempat penjernihan masalah gosip Eli dengan Dipur.
Mereka berempat bertemu di warung tersebut.
Sebuah warung yang tidak mempunyai jendela, tetapi hanya mempunyai sekatan empat persegi yang tembus angin. Sekatan itu terbuat dari bambu-bambu yang dipasang secara vertikal. Ukuran sekatan bambu-bambu itu kira-kira semeter tiga puluh centi. Di dalamnya meja dan kursi memanjang terpampang rapi dan apik. Mereka berempat duduk berhadapan dengan si pengungkap kebenaran.
Dipur mengenalkan Eli pada Dara yang duduk manis di samping Didi. Didi kekasihnya Eli. Sebaliknya Eli juga mengenalkan Dipur yang duduk di samping Dara pada Didi. Selanjutnya Dipur dan Eli mengenalkan Dara dan Didi pada orang yang jadi mediator penyelesaian masalahnya. Orang yang jadi mediator akan menjelaskan kebenaran dari gosip itu. Dia adalah Tulus Nurhakim. Tulus Nurhakim adalah dikenal banyak orang sebagai penulis yang zuhud dan jujur dengan apa yang ditulisnya. Dara dan Didi juga sudah kenal dengan penulis itu. Karena Dara dan Didi pernah membaca tulisan penulis itu.
Dara dan Didi dapat sedikit berlega diri. Karena Dipur dan Eli telah menghadirkan orang yang tepat dalam penyelesaian masalah gosip ini. Orang ini adalah orang yang selalu berkata jujur dan ucapannya selalu dipercaya, jauh dari kebohongan. Mereka yakin permasalahan gosip ini akan selesai dan terungkap jelas. Siapa yang salah dan siapa yang benar?
”Baiklah Saudara dan Saudari semuanya. Saya senang sekali diminta memberikan penjelasan mengenai kebenaran gosip itu. Gosip yang hampir memutuskan hubungan kasih kedua pasang kekasih. Hari ini saya akan mengatakan kebenaran gosip itu. Kalian semua harus mempercayai apa yang ingin saya katakan. Gosip yang beredar mengenai Dipur yang telah merenggut keperawanan Eli, itu tidak benar. Saya tekankan sekali gosip itu tidak benar. Dipur tidak pernah merenggut keperawanan Eli. Dipur tetap asli sebagai seorang perjaka begitu sebaliknya Eli tetap suci sebagai seorang perawan. Mereka tidak pernah ternoda. Sebenarnya gosip ini beredar karena disebabkan oleh seseroang yang mengaku-ngaku sebagai lentera hitam.”
Mendengar penjelasan dari Tulus Nurhakim. Dara pun sadar. Dia segera minta maaf pada Dipur atas kesalahannya yang telah menuduh Dipur tidak perjaka lagi. Dipur memaafkan kesalahan Dara. Begitu juga sebaliknya. Didi juga minta maaf atas kesalahannya kepada Eli yang telah menuduh Eli mengkhianati cintanya. Ternyata Eli tidak pernah mengkhianati cintanya. Eli sungguh setia dengan cintanya. Eli memaafkan kesalahan Didi.
Setelah bermaafan, mereka mau tahu juga siapa sebenarnya orang yang telah mengaku-ngaku sebagai lentera hitam yang telah tega dan keji menyebarkan gosip itu. Dipur menjadi wakil dari ketiga temannya untuk menanyakan pada Tulus Nurhakim mengenai siapa orang yang telah mengaku-ngaku sebagai lentera hitam yang telah menyebarkan gosip itu.
”Tulus, siapa sih sebenarnya orang yang mengaku-ngaku sebagai lentera hitam itu? Padahalkan lentera hitam itu adalah aku. Apa untungnya dia menggosipkanku sekejam dan sekeji itu?”
”Untungnya buat dia, aku tidak tahu pasti. Yang tahu alasannya mengapa dia menyebarkan gosip itu, hanya dia saja yang tahu. Mengapa kamu yang dipilih sebagai sumber gosipnya, hanya dia juga yang tahu. Tetapi orang-orang yang mengaku sebagai lentera hitam yang menyebarkan gosip tentang kamu, saya kenal. Saya tahu orangnya. Tapi saya sulit sekali mengatakannya. Karena.....”
”Karena apa, Tulus?” cecar Dipur.
”Karena dia adalah teman dekatmu, kalian, dan aku.”
”Teman dekat kami. Tidak mungkin. Teman dekat kami berbuat sekejam dan sekeji itu. Menghancurkan hubungan kasih teman-temannya. Tulus, kamu jangan bercanda.”
”Aku tidak bercanda. Memang itu kebenarannya.”
”Sulit dipercaya sekali.”
”Memang sulit dipercaya sih. Karena hal itu tidak sama dengan apa yang kalian pikirkan. Karena hal itu tidak kalian duga sama sekali bahwa teman dekat kalian dapat berbuat sekejam dan sekeji itu pada kalian. Padahal kalian sudah percaya dengannya. Ternyata dia mengkhianati kalian. Sungguh teman dekat yang jahat dan keji. Sungguh teman dekat yang tega menohok teman sendiri. Tapi kalian jangan khawatir. Aku akan beritahukan siapa teman dekat kalian yang telah berbuat kejam dan keji kepada kalian dengan menyebarkan gosip itu.”
Tulus Nurhakim berhenti sejenak. Dia menghirup udara yang lewat untuk melancarkan pernapasannya. Dia memperhatikan Dipur, Dara, Didi, dan Eli secara bergantian. Kemudian dia mulai tersenyum. Keempat orang itu harap-harap cemas dan berdebar-debar menunggu ucapan Tulus Nurhakim yang menjelaskan pelaku penyebar gosip itu.
”Pelakunya adalah Praduga....” kata Tulus Nurhakim mantap.
Ah, hanya itu yang dapat dikeluhkan oleh keempat orang tersebut.

Pontianak, Mei 2008
~ &&& ~

0 komentar: