Selasa, 20 Mei 2008

Pontianak, Kamis, 13 September 2007

Judul : Bilang Bukan Dibilang

Dibilang plakat, dia bukan plakat. Kalau plakat. Dia dapat berarti tulisan yang menggugah dan mendorong diri yang ditempelkan di dinding.
Dibilang teguran, dia bukan teguran. Karena kalau teguran biasanya disampaikan kalau ada sesuatu yang diganjalkan.
Kalau dikatakan nasihat, mungkin juga. Tapi masih samar-samar. Bolehkan aku menegaskan bahwa ini adalah pelajaran untukku. Menyadarkanku untuk mengoreksi diri. Betapa rapuhnya pondasi kapalku berlayar di saat terlena. Menggerakkan hidupku untuk bersujud. Bahkan untuk menangisi sisa-sisa kesilafan yang sudah tercecer-cecer di samudera luas, lautan tenang, dan gelombang bergendang merdu. Memainkan irama musik syahdu.
Satu hasratku. Aku harus mencari dan memaknaiku. Dimana aku? Siapa aku? Kemana aku harus mencarinya?
Apakah dalam gelak tawa yang telah kulalui? Apakah dalam bualan-bualan yang memabukkanku? Entahlah. Saat ini aku belum bisa menerka dan menebak. Dimana ia berada?
Masih kuingat gendang suaramu. Mengalun lembut.
”Dirimu harus menjadi dirimu. Menjadikan dirimu harus menyelami keluasan hati.”
Dimana keluasan hati itu bersemayam? Apakah dalam gema suara azan saat orang menunaikan salat sepanjang waktu sebagai tanda menjalankan kewajiban? Apakah dalam itikaf kesunyian di padang rembulan? Rembulan yang mana lagi. Apakah rembulan yang pernah kulihat selama ini secara visual atau ada rembulan lain? Atau sebaliknya. Atau dia ada dalam sejuk dan segarnya guyuran wudu menghiasi kepala yang membawakan kebahagiaan dan kedamaian. Tak pernah bisa kulihat wujudnya.
Dibilang cinta, dia bukanlah cinta. Cintaku hanya milik-Mu. Tidak akan pernah kubagi dengan orang lain.
~oOo~

0 komentar: