Selasa, 20 Mei 2008

Pontianak, Selasa, 18 September 2007

Judul : Kiriman Cinta

Sore yang merekah. Langit tertoreh awan. Kulecut kuda besi yang menimbulkan angin berkesiuran. Aku harus sampai tepat waktu. Setengah jam lagi dan tiga tanjakan di depan. Aku sudah sampai di mahligainya.
Di depan pintu masuk. Seorang satpam menghadangku. Senyumnya begitu hangat.
”Pak, bidadarinya ada?”
”Sudah pulang, Mas. Barusan lima belas menit yang lalu. Mas, saudaranya? Ada perlu apa ya?”
”Saya mau mengirim cinta? Cinta ini harus sampai, Pak.”
”Apa tidak salah alamat, Mas. Di sini bukan pos kilat untuk mengirimkan surat cinta tetapi di sini adalah tempat untuk mengumpulkan berita dan menerbitkan berita.”
”Maksud saya begitu. Saya ingin mengirimkan berita tentang cinta.”
”Oh, begitu. Begini saja, Mas. Kamu pergi saja ke lantai tiga. Di sana ada redakturnya. Mudah-mudahan saja kiriman berita cintanya dapat diterima.”
”Makasih, Pak. Saya permisi dulu.”
Di lantai satu saya dicegah pengasuhnya.
”Mau kemana, Mas?”
”Mau mengirimkan cinta.”
”Cinta untuk siapa?”
”Cinta untuk mahluk ciptaan Tuhan.”
”Ada bawa kopian atau print outnya.”
”Tidak, Mbak. Saya hanya membawa sinyal cinta dan disket pentransferannya.”
”Kalau begitu serahkan pada saya saja. Nanti saya kirimkan ke pengasuh kiriman cinta di lantai tiga. Mana sinyal cinta dan disket pentransferannya.”
Aku memberikan disket pentransferan dan sinyal cinta pada pengasuh lantai satu.
”Silakan duduk, Mas. Saya save dulu barang kiriman Mas ke dalam komputer memori saya.”
Dia mulai bekerja. Tapi komputer memorinya selalu menolak barang kiriman cinta saya. Di layar komputer memorinya selalu menampilkan tanda X dengan warna merah. Dia terus mencoba memasukan kiriman cinta saya itu ke dalam komputer memorinya. Selalu gagal. Terakhir kali tertulis di layar komputernya. Acces is denied.
”Disket pentransferan dan sinyal cintanya rusak ya, Mas?” Dia bertanya dengan kebingungannya.
”Tidak kok. Bagus. Memangnya ada apa, Mbak?”
”Tidak ada apa-apa kok, Mas.”
Pengasuh lantai satu termenung sebentar.
Mengapa tidak bisa disimpan ya? Apa salahnya? Pusing.
Dia mengomeli dirinya yang tidak bisa menyimpan kiriman cinta saya. Kalau sudah begini adanya. Biar saya suruh saja Mas ini menemui pengasuh lantai dua. Diakan lebih pakar dari saya.
”Mas, saya tidak bisa menyimpannya. Kalau begitu Mas pergi saja ke lantai dua. Di sana berkumpul pakarnya. Ini barangnya saya kembalikan. Mas, saya mau memberikan saran. Biar kiriman cinta Mas ini menarik. Sebaiknya tujuan kiriman cintanya diganti saja. Bukan untuk mahluk ciptaan Tuhan. Itu terlalu luas. Dispesifikkan saja. Kiriman cinta ini untuk manusia saja.”
”Terima kasih ya Mbak atas sarannya.”
Saya menerima sinyal dari pentransferan kiriman cinta saya darinya. Yang tidak bisa masuk dalam komputer memorinya.
”Permisi dulu, Mbak.”
Di lantai dua saya dicegah pengasuhnya.
”Mau kemana, Mas?”
”Saya mau ke lantai tiga. Mau mengirimkan cinta saya?”
”Di sini saja, Mas. Di sini bisa kok. Silakan masuk, Mas.”
Saya masuk dan duduk di depannya.
”Ada bawa CD cintanya.”
”Tidak, Pak. Saya hanya membawa flash cinta untuk manusia.”
“Flash disk. Mana barangnya.” Dia memintanya.
”Ini Pak, barangnya.” Saya menyerahkan barang itu.
Dia mulai bekerja. Dia mulai memasukan file saya ke dalam komputer memorinya. Tetapi pentransferan itu selalu gagal. File saya tak bisa masuk. Ditolak. Akhirnya karena dipaksanya. Di layar komputer memorinya tertulis error.
Dia hanya menggelengkan kepalanya tanda tak percaya.
”Mas, di komputer memori saya juga tak bisa disimpan. Padahal kalau flash disk lain bisa saja. Ini tidak bisa. Flash disknya rusak ya, Mas?”
”Tidak, Pak. Flash disknya masih bagus dan malah baru. Waktu itu saya burning datanya juga bagus.”
”Maaf ya, Mas. Saya tidak bisa membantu. Lebih baik Mas bawa saja ke lantai tiga. Ini barangnya Mas, saya kembalikan. Saya sarankan kiriman cinta ini bukan untuk manusia tetapi untuk seseorang yang spesial.”
”Bagus sekali saran Bapak itu. Saya akan menurutinya.”
Pengasuh lantai dua menyerahkan barang kiriman cinta saya.
”Terima kasih, Pak. Saya permisi dulu.”
”Silakan, Mas. Semoga sukses.”
Di lantai tiga. Saya segera mengetuk pintu hati lantai tiga. Pengasuh lantai tiga memunculkan dirinya.
”Silakan masuk, Mas. Ada yang bisa saya bantu?”
”Saya mau mengirimkan kiriman cinta.”
“Untuk siapa?”
“Seseorang yang sangat spesial dalam hidup saya. Tolong ya Mbak kiriman cintanya dapat diekspos secepatnya. Biar dia tahu bahwa saya sangat mencintainya.”
Mbak itu terdiam sesaat. Dia tertunduk. Dia menahan tangisnya. Dia tak ingin menangis walau luka itu menguak nyata dalam ingatannya.
Dia inilah pelakunya. Aku harus menamatkan kiriman cintanya biar dia tidak mengobral lagi.
”Silakan duduk, Mas. Tunggu sebentar.” Mbak itu menuju ke arah meja temannya.
”Terima kasih, Mbak.” Saya segera duduk manisnya.
”Rud, pisau cukurmu saya pinjam dulu.” Mbak itu mengambil pisau cukur yang tergeletak santai itu.
”Tumben pakai pisau cukur saya. Untuk apa sih?”
”Untuk penyelesaian sebuah urusan.” Mbak itu menemui saya.
”Jangan Bulan.” Rudi berteriak. Setelah dia tahu maksud Bulan meminjam pisau cukurnya.
”Kiriman cintamu saya terima Mas. Inilah sarana penyampaiannya.” Mbak itu menikamkan pisau cukur itu tepat ke jantung saya.
Saya terbeliak. Melotot sebentar. Kemudian senyap.
Rudi tercekat. Dia terlambat mencegat Bulan untuk melakukan pembunuhan itu. Apalagi Bulan melakukan pembunuhan dengan menggunakan pisau cukurnya. Makinlah dia menyesalkan tindakan Bulan yang telah melakukan pembunuhan itu. Karena dia tidak ingin terlibat dalam kasus pembunuhan yang dilakukan Bulan.
Teman-teman Bulan yang lain juga gempar. Mereka juga menyesalkan perbuatan Bulan yang telah melakukan pembunuhan dengan tanpa sebab yang jelas.
Padahal mereka melihat Bulan selalu ceria. Tak ada tanda kemurungan dalam kehidupannya. Sebenarnya apa yang telah terjadi antara Bulan dengan orang itu? Tidak ada yang tahu. Biarkanlah waktu yang menjawab semuanya.

0 komentar: