Selasa, 20 Mei 2008

Pontianak, Senin, 10 September 2007 – (16.55)

Judul : Harta Karun

Aku lirih berucap.
”Mengapa kamu datang meminta perlindungan padaku. Kamukan tahu bahwa aku adalah orang yang jelek, penyakitan, dan kata orang-orang aku adalah mahluk yang sombong. Kamu akan menyesal meminta perlindungan padaku.”
”Kamu jangan merendah. Disitulah letak kelebihanmu. Kamu dapat dipercaya, jujur, dan selalu mengagungkan cinta di atas segalanya. Aku percaya kamu bisa melindungiku.” Tandasnya ia menjawab omonganku.
Ia membuka sebuah peta jiwa. Dalam peta itu tertera letak-letak daerah yang menyimpan sebuah harta karun. Aku menyipit memandang letak peta tersebut.
Ia memintaku agar melindungi dirinya ketika serangan asing datang padanya selama perjalanan dalam mengambil harta karun itu. Ia ingin sekali memiliki harta karun itu.
”Kamu bisakan membantuku?”
Sejenak aku terdiam. Letak daerah di dalam peta itu sulit dijangkau. Karena daerah itu adalah daerah kemisteriusan. Daerah itu selalu asing bagi pendatang. Daerah tertutup. Karena daerah itu pintu awal menuju kematian.
”Bagaimana teman, bisakan?” tegaskannya sekali lagi.
”Teman, aku mohon jangan kecewakanku.”
Selintas burung merpati melintasi kami. Ia bersenandung.
”Harta karun itu selamanya tidak akan pernah kalian temukan dan dapatkan. Karena harta karun itu ada pada sifatku. Kalau mau harta karun itu kejarlah aku dan ambillah sifatku dulu.”
Merpati itu terbang menjauh dari kami.
”Merpati, tunggu kami,” kata kami serempak.

0 komentar: