Selasa, 20 Mei 2008

Rasau Jaya, Senin, 10 September 2007

Hatiku berdebar-debar melihat sebuah motor king yang sudah tergeletak tak berdaya. Badannya berpatahan. Tabrakan ini sungguh parah sekali. Hatiku lirih berucap. Sungguh kasihan orang yang mengalami tabrakan ini.
Semilir angin menghantarkan lecutan kuda besi yang kukendarai berjalan cepat. Saat memasuki jalan Ahmad Yani dari rute Rasau Jaya, kuperlambat lecutan kuda besiku. Aku teringat ayahku yang berada di belakang. Aku menghentikan kuda besiku di tempat yang aman. Seterusnya aku merogoh saku celanaku, mengambil HP. Aku segera mengebel ayahku. Sinyalnya pun menyambung. Aku pun senang dan menanyakan dia sudah sampai dimana.
”Aku masih di simpang tiga jalan mau masuk Sungai Durian.”
”Aku tunggu yah, di jalan Ahmad Yani. Aku jalan santai-santai saja dulu.”
”Baiklah,” kata ayahku.
Sungguh aku mengkhawatirkannya. Aku tidak tahu. Mengapa aku bisa segundah ini? Padahal sebenarnya perasaan itu tak pernah aku rasakan? Mengapa bisa jadi begini?
~oOo~

0 komentar: