Minggu, 29 Juni 2008

Balai Berkuak, Jumat, 2 Februari 2008 – (18.45)

Silap kata, silap bahasa, maafkanlah aku. Karena aku tak pandai merangkai kata-kata seperti penyair. Begitu puitis sekali dia merangkai kata-kata menjadi kalimat yang enak didengar. Sehingga pendengarnya ikut merasakan keindahan seperti yang dirasakannya.
Aku apalah. Aku hanyalah seorang penulis yang jatuh bangun. Baru belajar menulis. Harap dimaklumkan bila terjadi kesilapan dalam tulisanku. Untuk itu, aku menginginkan kalian dapat memberikan masukan buat tulisanku. Agar tulisanku menjadi indah untuk dirangkai dalam kalimat seperti penyair itu.
Silap kata, silap bahasa, maafkanlah aku. Karena aku tak pandai menjahit kata-kata menjadi pakaian kalimat yang indah seperti penulis puisi yang beken. Begitu lancarnya dia merangkai kata-kata menjadi puisi yang menggugah pembacanya. Sehingga pembacanya dapat merasakan perasaan penulis puisi beken itu.
Aku apalah. Aku hanyalah seorang penulis kemarin sore yang baru belajar menjahit. Kadang-kadang jahitan kata-kataku amburadul dan kasar. Untuk itu, aku menginginkan kalian dapat mengajariku menjahit kata-kata yang indah menjadi puisi yang dapat menggugah pembacanya, seperti penulis yang beken itu.
Silap kata, silap bahasa, maafkanlah aku.
~&&&~

0 komentar: