Sabtu, 28 Juni 2008

Balai Berkuak, Minggu, 27 Januari 2008

Pukul empat kurang tiga puluh menit, saya terbangun. Pusat saraf otak saya bekerja untuk melaksanakan salat lail. Mata yang berat pun tetap dikuatkan. Dicemerlangkan. Langkah kaki yang berat tetap digerakkan menuju tempat perwuduan. Dingin yang mencucuk tidak dipedulikan demi menghadapkan bakti kepada Allah.

Dalam keheninganini, sujud bakti saya lakukan. Begitu nikmatnya. Apalagi kesunyian menghentak sanubari sehingga menambah khusyuk salat yang saya lakukan. Salat lail terus saya lanjutkan sampai delapan rakaat dengan kecintaan yang meluap. Betul-betul ingin mengharapkan keridaan dari Allah.

Baru saya sadari sungguh nikmatnya melakukan sujud kebaktian di kesunyian ini.

~&&&~

0 komentar: