Senin, 02 Juni 2008

Balai Berkuak, Rabu, 28 November 2007

Larut semakin larut denyut darah Titaq dalam minuman segar. Jiwanya merasa plong dari kepanasan yang diciptakan oleh keganasan api napsu Martil. Martil yang keras kepala. Tak punya perasaan dan kemanusiaan.
Kesegaran itu memberikan semangat Titaq untuk mengalahkan keegoisan Martil. Selama ini selalu memenjarakan keinginannya untuk maju. Maju untuk menyongsong masa depannya dengan gemilang.
Martil ditendangnya. Martil dipukulnya babak belur. Bahkan Martil dicampakkannya ke ruangan hampa udara. Ruangan yang membuat orang memasukinya akan mati penasaran. Tersiksa. Sebab oksigen yang diperlukan sebagai sumber kehidupan sudah musnah. Tidak ada di tempat itu.
Martil mengeluh. Mengaduh.
Akhirnya nyawa Martil pun kabur menembus halimun yang melingkupi angkasa luar saat ini.

0 komentar: